DHL Supply Chain Raup Pendapatan Rp55,81 T di Tengah Covid-19

CNN Indonesia | Selasa, 14/09/2021 17:06 WIB
DHL Supply Chain mendapatkan angin segar dari meningkatnya bisnis e-commerce di tengah pandemi. Perusahaan meraup pendapatan 3,3 miliar euro per kuartal II 2021. DHL Supply Chain mendapatkan angin segar dari meningkatnya bisnis e-commerce di tengah pandemi. Perusahaan meraup pendapatan 3,3 miliar euro per kuartal II 2021. Ilustrasi. (Istockphoto/ Huettenhoelscher).
Jakarta, CNN Indonesia --

DHL Supply Chain meraup pendapatan sebesar 3,31 miliar euro atau setara Rp55,81 triliun (kurs Rp16.863 per euro) pada kuartal II 2021. Angkanya naik 21,3 persen dari periode yang sama tahun lalu, yakni 2,73 miliar euro atau sekitar Rp46,03 triliun.

CEO DHL Supply Chain Oscar de Bok menjelaskan kinerja perusahaan juga menanjak sepanjang 2020 atau ketika pandemi covid-19 mulai merebak di dunia. Sepanjang tahun lalu, perusahaan membukukan pendapatan sebesar 12,54 miliar euro atau Rp211,46 triliun.

"Pada awalnya banyak pelanggan yang mengurangi aktivitas, tetapi jika membicarakan Deutsche Post DHL Group sepanjang 2020, kami justru melihat ada peningkatan," ungkap Bok dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com, Senin (14/9).


Ia menjelaskan DHL Supply Chain adalah perusahaan yang bergerak di bidang logistik untuk rantai pasok. Perusahaan ini bagian dari Deutsche Post DHL Group.

Layanan yang diberikan DHL Supply Chain meliputi pergudangan, transportasi, distribusi, dan manufaktur.

Ia mengatakan aktivitas perusahaan selama pandemi justru meningkat. Hal ini seiring dengan perkembangan e-commerce yang kian pesat.

"Ada percepatan perkembangan terkait e-commerce dan optimalisasi rantai pasok. Oleh karena itu, kami melihat aktivitas kami benar-benar meningkat. Saat ini, kami sangat dekat dengan konsumen," jelas Bok.

Bok memaparkan kenaikan pendapatan ditopang oleh sejumlah sektor. Misalnya saja, industri otomotif dan fesyen yang mulai bangkit.

"Semua sektor sedang bangkit. Industri otomotif telah bangkit meski saat ini menghadapi masalah yang berbeda karena gangguan dalam rantai pasok," terang Bok.

Sementara, industri makanan dan minuman (mamin) selalu berada di puncak tertinggi. Menurutnya, mayoritas sektor mulai bangkit pasca krisis pandemi tahun lalu.

"Di awal krisis, kami mengurangi aktivitas kami di negara-negara yang melakukan lockdown. Namun, ada juga beberapa negara seperti AS yang masih bergerak," jelas Bok.

Berdasarkan catatannya, DHL Supply Chain meraup untung dari bisnisnya di AS sebesar 1,21 miliar euro atau Rp20,48 triliun pada kuartal II 2021. Angkanya naik 16,8 persen dari kuartal II 2020 yang sebesar 1,04 miliar euro atau Rp17,54 triliun.

Lebih lanjut Bok menjelaskan pihaknya akan fokus mengembangkan sistem digital di perusahaan. Pasalnya, ia mengklaim rantai pasokan semakin kompleks saat ini.

"Karena pertumbuhan e-commerce, kompleks mengandalkan rantai pasokan dan itu membutuhkan fleksibilitas," ujar Bok.

Untuk itu, kata Bok, perusahaan terus berinvestasi untuk mengembangkan digitalisasi. Salah satunya dengan membangun smart warehouse di Cikarang.

"Juga dalam robotik, tidak hanya dalam robotik fisik tapi juga robotic process automation (RPA) yang memastikan kami mengoptimalkan proses," jelas Bok.

Dalam warehouse tersebut, kata Bok, karyawan dapat mendapatkan instruksi secara digital, akses ke analisis data, perencanaan, dan akses yang lebih baik ke rantai pasokan pelanggan perusahaan.

"Kami terus melakukan investasi pada tempat-tempat seperti Cikarang dan kami juga menyediakan investasi untuk fasilitas baru, gudang, dan juga transportasi di 27 kota di seluruh Indonesia," tutup Bok.

[Gambas:Video CNN]



(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK