PHRI Klaim Banyak Hotel di Jakarta Dijual karena Covid

CNN Indonesia | Senin, 27/09/2021 14:24 WIB
PHRI mengaku banyak hotel dan restoran di Jakarta dijual karena tak kuat lagi menghadapi tekanan covid. Tapi, mereka tak punya data penjualan hotel. PHRI mengaku banyak hotel dan restoran di Jakarta dijual karena tak kuat lagi menghadapi tekanan covid. Tapi, mereka tak punya data penjualan hotel. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta Sutrisno Iwantoro mengungkapkan hingga kini kondisi hotel dan restoran masih mengkhawatirkan.  Pasalnya, tingkat okupansi babak belur karena hanya 10 persen-30 persen.

Karena kondisi tersebut, ia menyebut banyak hotel ibu kota yang dijual lantaran pengusaha tidak kuat lagi membiayai pengeluaran. Sayangnya, ia mengaku tak punya angka pasti berapa jumlah hotel yang sudah atau ingin dijual di DKI. Yang ia ketahui, jumlahnya cukup signifikan.

Sutrisno menjelaskan bahwa absennya data hotel yang dijual dikarenakan minimnya keterbukaan dari manajemen hotel yang gulung tikar. Menurut dia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun tidak memiliki data tersebut dan bertanya kepada Asosiasi.


"Jumlah hotel-hotel yang mau dijual itu kan banyak banget itu dari hotel bintang 5 sampai hotel non bintang," jelasnya kepada wartawan lewat konferensi pers daring, Senin (27/9).

Selain menjual hotel, ia menyebut ada juga pengusaha yang mengalihfungsikan aset menjadi perkantoran. Ia menyebut ada hotel di daerah Mampang, Jakarta Selatan, yang berubah menjadi perkantoran karena sepinya pengunjung.

Masih dalam keadaan 'mati suri', ia meminta pemerintah untuk tidak menambah beban pengusaha dengan sertifikasi CHSE. Selain menambah biaya, ia menilai sertifikasi tersebut juga tidak berdampak besar terhadap tingkat kunjungan.

[Gambas:Video CNN]

Toh, kata dia, untuk hotel berbintang sudah banyak sertifikasi serupa yang dipegang pengusaha.

Guna menghindari lebih banyak pengusaha gulung tikar, ia berharap pemerintah bisa menggunakan anggaran APBN untuk kepentingan rapat di hotel atau Meetings, Incentives, Conference, Exhibitions (MICE).

Ia mengatakan penurunan okupansi dan masih dilarangnya rapat di hotel menyebabkan para pengusaha saling 'perang' harga. Sutrisno menyebut ada hotel yang sampai memberikan diskon 50 persen.

Sayangnya, strategi banting harga tersebut masih minim kontribusi terhadap okupansi.

"Kalau dari segi hotel sendiri tingkat persaingan price competition cenderung ke arah price war itu sudah ga bisa dielakkan," pungkasnya.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK