IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia Karena Persoalan Vaksin

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Rabu, 06/10/2021 07:58 WIB
IMF memproyeksi ekonomi dunia pada tahun ini tumbuh kurang dari 6 persen karena kesenjangan vaksin antara negara maju dan berkembang. IMF memproyeksi ekonomi dunia pada tahun ini tumbuh kurang dari 6 persen karena kesenjangan vaksin antara negara maju dan berkembang. Ilustrasi. (AP/Frank Augstein).
Jakarta, CNN Indonesia --

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini lebih rendah dari proyeksinya pada Juli lalu yang sebesar 6 persen. Prospek ekonomi global diturunkan karena IMF melihat kesenjangan besar dalam distribusi vaksin antara negara maju dan negara berkembang.

Selain persoalan vaksin, Ketua IMF Kristalina Georgieva menuturkan ada risiko terkait utang, serta ancaman tingginya inflasi di sejumlah negara besar. Memang, ia mengakui ekonomi global bangkit kembali. Sayangnya, pandemi covid-19 terus membatasi pemulihan ekonomi dunia.

Karenanya, dia berpendapat sebagian besar negara berkembang akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari pandemi. Sementara, ekonomi negara maju akan kembali ke tingkat output pra-pandemi pada 2022.


"Kami menghadapi pemulihan ekonomi global yang tetap 'tertatih-tatih,' karena pandemi. Kami tidak dapat berjalan ke depan dengan benar," ujarnya dalam pidato virtual di Bocconi University Italia, seperti dilansir Reuters, Rabu (6/10).

Amerika Serikat (AS) dan China, lanjut Georgieva, akan tetap menjadi mesin pertumbuhan yang vital dalam ekonomi dunia, termasuk juga Italia dan negara-negara di Eropa yang menunjukkan momentum pertumbuhan yang kuat, yang sebagian lainnya memburuk.

Ancaman kenaikan inflasi, menurut dia, risiko utama yang akan dihadapi sebagian besar negara-negara berkembang pada 2022 nanti. Inflasi ini dapat mengakibatkan kenaikan suku bunga yang cepat dan kondisi keuangan akan lebih ketat.

Sepakat dengan Georgieva, Eric LeCompte, Direktur Eksekutif Jubliee USA Network menerangkan utang yang tinggi, melonjaknya harga pangan dan kesenjangan vaksin menjadi ancaman terbesar yang dihadapi negara-negara berkembang.

"Kami menghitung, kerugian ekonomi dalam triliunan apabila negara berkembang tidak dapat mengakses vaksin," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]



(bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK