Anak Buah Erick Thohir Tegaskan Tak Lagi Suntik BUMN Sakit

CNN Indonesia
Senin, 18 Oct 2021 19:26 WIB
Kementerian BUMN menegaskan tidak akan menyuntik BUMN sakit seperti sentilan Presiden Jokowi. Kementerian BUMN menegaskan tidak akan menyuntik BUMN sakit seperti sentilan Presiden Jokowi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian BUMN menegaskan tidak akan menyuntik BUMN sakit dengan penyertaan modal negara (PMN) seperti sentilan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Lagipula, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan terdapat beberapa syarat di mana BUMN tidak akan dapat menerima bantuan dari negara.

"Ada tiga yang tidak bisa dapat PMN, yakni penugasan, aksi korporasi, dan restrukturisasi utang," ujar Arya kepada media, Senin (18/10).


Arya mengklaim langkah Kementerian BUMN ini telah didukung oleh Jokowi.

Sehingga ia yakin tidak ada lagi perseroan yang disuntikkan dana dari pemerintah dalam keadaan keuangan yang sakit.

"Sekarang tidak ada lagi yang namanya BUMN sakit disuntik-suntik," tegasnya.

Dalam RAPBN 2022 pemerintah telah mempersiapkan anggaran senilai Rp72,44 triliun untuk mendanai keuangan 12 perusahaan negara.

5 di antaranya telah disetujui oleh Kementerian Keuangan seperti PT Hutama Karya (Persero) Tbk senilai Rp23 triliun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk Rp3 triliun, PT PLN (Persero) Tbk Rp3 triliun, PT Adhi Karya (Persero) Tbk Rp2 triliun, dan Perumnas Rp1,57 triliun.

Belum lama ini, Jokowi menyentil beberapa BUMN yang sakit namun masih diberikan suntikan dana oleh negara. Pasalnya, perusahaan sakit tersebut sudah berkali-kali mendapat suntikan modal namun keadaannya tak kunjung sembuh.

"Sehingga kalau yang lalu-lalu BUMN-BUMN kan banyak terlalu keseringan kita proteksi. Sakit tambahi PMN. Sakit, suntik PMN. Maaf. Terlalu enak sekali," ungkap Jokowi dalam pengarahan bersama Direktur Utama BUMN, Sabtu (16/10).

[Gambas:Video CNN]



(fry/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER