Digitalisasi UMKM, Paksaan Pandemi Covid-19 yang Berbuah Cuan
Yuli Yanna Fauzie | CNN Indonesia
Selasa, 26 Okt 2021 09:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Putri Kartika (27 tahun) tidak pernah menyangka bahwa pandemi covid-19 membuatnya berhasil memulai bisnis kue menguntungkan yang dipasarkan secara digital. Ilustrasi. (Life-Of-Pix/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --
Putri Kartika (27 tahun) tidak pernah menyangka bahwa 'paksaan' dari pandemi covid-19membuatnya berhasil memulai bisnis kue dengan merek boboeats yang telah diimpikannya sejak beberapa tahun terakhir. Apalagi, usaha kecil ini mampu dimulainya dengan modal minim sekitar Rp500 ribu dari tabungan pribadi.
Padahal, ia mengaku kondisi keuangannya sedang 'seret' kala itu. Sebab, perusahaan ritel tempatnya bekerja tiba-tiba memotong gaji karyawan hingga mencapai 65 persen karena kesulitan arus kas.
Maklum saja, sektor ritel memang cukup terkena imbas pandemi, khususnya saat pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kala itu, operasional mal ditutup, sehingga penjualan barang-barang ritel bak 'terjun payung' dalam sekejap.
"Pas banget waktu itu pandemi, kantor saya potong gaji lumayan besar dari April 2020 dan dipotongnya sampai 65 persen. Jadi ya sekalian jualan buat menutupi gaji yang dipotong," ungkap Putri kepada CNNIndonesia.com, Minggu (24/10).
Namun siapa sangka, 'paksaan' dari gaji yang terpotong di masa pandemi justru membuahkan cuan bagi Putri. Bahkan, omzetnya tak main-main, tertinggi mencapai Rp12 juta dalam sebulan.
"Pernah pas lagi ramai-ramainya, omzetnya sampai melebihi total gaji full saya," imbuhnya.
Putri menduga keberhasilannya ini terjadi karena pandemi memunculkan beberapa tren baru di masyarakat. Mulai dari senang mencoba makanan baru agar tidak bosan di rumah, ingin berbagi dengan sesama melalui kirim-kiriman makanan karena tidak bisa bertemu, hingga senang membagi unggahan di media sosial.
"Untungnya orang-orang yang beli kue saya pada suka dan rata-rata mem-posting di Instagram mereka terus kasih review positif, jadi banyak orang yang penasaran mau coba juga," ucapnya.
Tak hanya itu, opsi pemasaran secara digital rupanya memberi kemudahan bagi calon pembelinya. Mereka hanya perlu memesan kue melalui pesan singkat di Instagram maupun Whatsapp.
Setelah itu, transaksi pembayaran dapat diselesaikan dengan mudah melalui transfer bank atau dompet digital. Kemudian, kue akan dibuat melalui sistem pre-order dan dikirimkan ke alamat yang dituju sesuai tanggal yang telah dijanjikan.
Belakangan, banjir pesanan membuat Putri menambah saluran pemasaran kuenya, yaitu ke e-commerce Tokopedia dan Shopee. Langkah ini diambil untuk mengakomodir permintaan beberapa langganannya demi bisa mendapat potongan ongkos kirim (ongkir) dari e-commerce.
Tak hanya Putri, pandemi rupanya juga membuat Sarah Diana Oktavia terpaksa menuntut diri untuk 'melek' dan go digital, meski usahanya sudah cukup sukses sebelum menjajal marketplace.
Pasalnya, usaha dengan merek Roti Eneng dan Sepiring Cerita yang dibangunnya langsung terjebak ke masa sulit ketika wabah virus corona merebak di Indonesia.
Hal ini terjadi karena pelanggannya tak bisa datang ke toko fisik yang dimilikinya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Akhirnya, ia menjajal pemasaran online melalui Tokopedia.
"Jujur di awal pandemi adalah masa terberat, waktu itu PSBB dan kami harus tutup, ini yang membuat kami coba marketplace," ujar Sarah.
"Tapi ternyata benar-benar, ketika kita jeli dan mau belajar hal baru, aku pun di awal pandemi dipaksa untuk beradaptasi, untuk mengembangkan usaha secara digital, dan sekarang keuntungannya besar. Roti Eneng sendiri sudah menambah satu dapur lagi karena pesanan kita di marketplace ternyata tinggi sekali," sambungnya.
Bahkan, tak cuma menambah dapur dan mendapat pesanan yang meningkat, Sarah pun bisa membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Sebab, ia turut menambah beberapa karyawan untuk mengurus operasional dapur barunya.
Totalnya, saat ini ada 26 karyawan yang bekerja di bisnisnya. Dari sini ia melihat bahwa pemasaran digital rupanya tidak hanya memberi kemudahan dan keuntungan, tapi juga bisa memberikan manfaat pemberdayaan kepada masyarakat melalui lapangan kerja.
"Rupanya platform digital tidak mengurangi sumber daya manusia karena digital itu one of the tools, tapi human touch tetap penting, meski semuanya pemesanan melalui digital," katanya.
Sarah mengatakan kesuksesannya ini tentu tidak akan terjadi bila ia tidak mendapat paksaan dari pandemi. Sebab, hal ini membuatnya mau tidak mau harus belajar hal baru, yakni pemasaran roti melalui marketplace.
Padahal, berjualan di marketplace sebelumnya tidak pernah ia bayangkan, khususnya soal mengurus desain iklan, menata etalase, dan lainnya. Untungnya, kata Sarah, ia terbantu oleh pihak marketplace karena mau berkomunikasi dengan penjual.
"Waktu itu aku kerja sama dengan marketplace-nya, aku diskusi, apa sih yang mereka bisa tawarkan, kelebihannya apa, terus lewat platform mereka, aku bisa beriklan seperti apa, tools marketing apa yang bisa aku gunakan, bisa bantu aku memasarkan produk supaya dikenal lebih banyak orang. Ternyata ini membantu," jelasnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Jembatan UMKM
Kisah sukses Putri dan Sarah, rupanya hanya sebagian kecil dari jutaan UMKMyang kini telah masuk ke ekosistem digital. Sebab, GoTo alias kolaborasi Gojek-Tokopedia mencatat ada lebih dari 4 juta UKM baru yang bergabung di Gojek, Tokopedia, dan GoTo selama pandemi.
"Ada lebih dari 4 juta mitra baru yang tergabung dalam ekosistem GoTo dan 86 persen di antaranya adalah pengusaha baru," ungkap CEO sekaligus Founder Tokopedia William Tanuwijaya.
CEO Grup GoTo Andre Sulistyo mengatakan ada beberapa hal yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan skala usaha UMKM dan menambah pelaku UMKM ke ekosistem digital. Misalnya, membuka kelas bisnis #BangkitBersama, GoTo UMKM Center di Solo Technopark, hingga mengoperasikan fitur TokoCabang,
"Kami lihat digitalisasi punya peran penting mengubah usaha offline yang tidak bisa buka karena pandemi bisa dijembatani. Kami pun terus berinovasi supaya bisa jadi jembatan agar lebih banyak UMKM yang bisa masuk ke ekosistem digital," ucap Andre.
Sementara, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mencatat jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital sejatinya lebih banyak, yaitu mencapai 15,9 juta di seluruh Indonesia sampai tahun ini.
"Angka ini naik 100 persen jika dibandingkan sebelum pandemi yang masih di angka 8 juta UMKM," kata Teten.
Ia menilai hal ini merupakan cermin bahwa pandemi rupanya memberikan sedikit berkah bagi pelaku usaha kecil. Sebab, mereka mau tidak mau harus beradaptasi dan go digital.
Pemerintah pun turut mendukung langkah go digital ini, misalnya dengan memberikan pendampingan mengenai kurasi kemasan produk, memberikan laboratorium UMKM yang bergerak di bidang fesyen, kuliner, hingga mekanik. Targetnya, ia ingin ada 30 juta UMKM yang masuk ekosistem digital pada 2024.
"Saat ini tren pasar dinamis dan sangat cepat, makanya harus ada pendampingan kepada UMKM agar bisa beradaptasi, inovasi produk, dan transformasi ke digital," imbuhnya.
Bila target tercapai, Teten yakin sumbangan ekonomi dari sektor UMKM tidak main-main, bahkan bisa memperbesar kontribusi mereka yang kini sebenarnya sudah menjadi 'tulang punggung' perekonomian Indonesia. Kontribusi ini tidak hanya dari segi nilai ekonomi, tapi juga penyediaan lapangan kerja informal bagi masyarakat.
Kendati begitu, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan kisah sukses para UMKM menjajal pemasaran digital ini rupanya masih menyisakan kemirisan. Pasalnya, 15,9 juta pelaku UMKM yang masuk platform digital sejatinya baru 24,9 persen dari total UMKM di Indonesia yang mencapai 65 juta.
"Ternyata baru 24 persen yang menggunakan e-commerce untuk menjual produk dan ini pun banyak berasal dari masyarakat menengah ke atas. Sementara pelaku UMKM yang menengah ke bawah cuma 1 persen yang memanfaatkan e-commerce," ungkap Bhima.
Hal ini, katanya, menandakan bahwa euforia digitalisasi UMKM saat ini rupanya belum berjalan secara inklusif. Padahal, digitalisasi diharapkan bisa membuat UMKM 'naik kelas'.
Untuk itu, ia menilai pemerintah perlu segera memberikan kebijakan yang lebih riil agar bisa membuat UMKM benar-benar go digital. Hal ini perlu dilakukan karena sejumlah studi menyebutkan potensi ekonomi digital di Indonesia sangat besar.
Pada 2025 misalnya, potensi ekonomi digital Indonesia diramal mencapai US$124 miliar atau setara Rp1.754 triliun (kurs Rp14.150 per dolar AS). Potensi tersebut meningkat tiga kali lipat dari realisasi pada 2020 sekitar US$44 miliar atau Rp622,6 triliun.
"Tapi syaratnya perlu pengembangan ekonomi digital yang lebih inklusif," pungkasnya.
Putri Kartika (27 tahun) tidak pernah menyangka bahwa 'paksaan' dari pandemi covid-19membuatnya berhasil memulai bisnis kue dengan merek boboeats yang telah diimpikannya sejak beberapa tahun terakhir. Apalagi, usaha kecil ini mampu dimulainya dengan modal minim sekitar Rp500 ribu dari tabungan pribadi.
Padahal, ia mengaku kondisi keuangannya sedang 'seret' kala itu. Sebab, perusahaan ritel tempatnya bekerja tiba-tiba memotong gaji karyawan hingga mencapai 65 persen karena kesulitan arus kas.
Maklum saja, sektor ritel memang cukup terkena imbas pandemi, khususnya saat pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kala itu, operasional mal ditutup, sehingga penjualan barang-barang ritel bak 'terjun payung' dalam sekejap.
"Pas banget waktu itu pandemi, kantor saya potong gaji lumayan besar dari April 2020 dan dipotongnya sampai 65 persen. Jadi ya sekalian jualan buat menutupi gaji yang dipotong," ungkap Putri kepada CNNIndonesia.com, Minggu (24/10).
Namun siapa sangka, 'paksaan' dari gaji yang terpotong di masa pandemi justru membuahkan cuan bagi Putri. Bahkan, omzetnya tak main-main, tertinggi mencapai Rp12 juta dalam sebulan.
"Pernah pas lagi ramai-ramainya, omzetnya sampai melebihi total gaji full saya," imbuhnya.
Putri menduga keberhasilannya ini terjadi karena pandemi memunculkan beberapa tren baru di masyarakat. Mulai dari senang mencoba makanan baru agar tidak bosan di rumah, ingin berbagi dengan sesama melalui kirim-kiriman makanan karena tidak bisa bertemu, hingga senang membagi unggahan di media sosial.
"Untungnya orang-orang yang beli kue saya pada suka dan rata-rata mem-posting di Instagram mereka terus kasih review positif, jadi banyak orang yang penasaran mau coba juga," ucapnya.
Tak hanya itu, opsi pemasaran secara digital rupanya memberi kemudahan bagi calon pembelinya. Mereka hanya perlu memesan kue melalui pesan singkat di Instagram maupun Whatsapp.
Setelah itu, transaksi pembayaran dapat diselesaikan dengan mudah melalui transfer bank atau dompet digital. Kemudian, kue akan dibuat melalui sistem pre-order dan dikirimkan ke alamat yang dituju sesuai tanggal yang telah dijanjikan.
Belakangan, banjir pesanan membuat Putri menambah saluran pemasaran kuenya, yaitu ke e-commerce Tokopedia dan Shopee. Langkah ini diambil untuk mengakomodir permintaan beberapa langganannya demi bisa mendapat potongan ongkos kirim (ongkir) dari e-commerce.
Tak hanya Putri, pandemi rupanya juga membuat Sarah Diana Oktavia terpaksa menuntut diri untuk 'melek' dan go digital, meski usahanya sudah cukup sukses sebelum menjajal marketplace.
Pasalnya, usaha dengan merek Roti Eneng dan Sepiring Cerita yang dibangunnya langsung terjebak ke masa sulit ketika wabah virus corona merebak di Indonesia.
Hal ini terjadi karena pelanggannya tak bisa datang ke toko fisik yang dimilikinya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Akhirnya, ia menjajal pemasaran online melalui Tokopedia.
"Jujur di awal pandemi adalah masa terberat, waktu itu PSBB dan kami harus tutup, ini yang membuat kami coba marketplace," ujar Sarah.
"Tapi ternyata benar-benar, ketika kita jeli dan mau belajar hal baru, aku pun di awal pandemi dipaksa untuk beradaptasi, untuk mengembangkan usaha secara digital, dan sekarang keuntungannya besar. Roti Eneng sendiri sudah menambah satu dapur lagi karena pesanan kita di marketplace ternyata tinggi sekali," sambungnya.
Bahkan, tak cuma menambah dapur dan mendapat pesanan yang meningkat, Sarah pun bisa membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Sebab, ia turut menambah beberapa karyawan untuk mengurus operasional dapur barunya.
Totalnya, saat ini ada 26 karyawan yang bekerja di bisnisnya. Dari sini ia melihat bahwa pemasaran digital rupanya tidak hanya memberi kemudahan dan keuntungan, tapi juga bisa memberikan manfaat pemberdayaan kepada masyarakat melalui lapangan kerja.
"Rupanya platform digital tidak mengurangi sumber daya manusia karena digital itu one of the tools, tapi human touch tetap penting, meski semuanya pemesanan melalui digital," katanya.
Sarah mengatakan kesuksesannya ini tentu tidak akan terjadi bila ia tidak mendapat paksaan dari pandemi. Sebab, hal ini membuatnya mau tidak mau harus belajar hal baru, yakni pemasaran roti melalui marketplace.
Padahal, berjualan di marketplace sebelumnya tidak pernah ia bayangkan, khususnya soal mengurus desain iklan, menata etalase, dan lainnya. Untungnya, kata Sarah, ia terbantu oleh pihak marketplace karena mau berkomunikasi dengan penjual.
"Waktu itu aku kerja sama dengan marketplace-nya, aku diskusi, apa sih yang mereka bisa tawarkan, kelebihannya apa, terus lewat platform mereka, aku bisa beriklan seperti apa, tools marketing apa yang bisa aku gunakan, bisa bantu aku memasarkan produk supaya dikenal lebih banyak orang. Ternyata ini membantu," jelasnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Jembatan UMKM
Tokopedia merupakan salah satu marketplace yang terus berinovasi untuk menjadi jembatan bagi lebih banyak UMKM untuk masuk ke ekosistem digital. Ilustrasi. (Gojek).
Jembatan UMKM
Kisah sukses Putri dan Sarah, rupanya hanya sebagian kecil dari jutaan UMKMyang kini telah masuk ke ekosistem digital. Sebab, GoTo alias kolaborasi Gojek-Tokopedia mencatat ada lebih dari 4 juta UKM baru yang bergabung di Gojek, Tokopedia, dan GoTo selama pandemi.
"Ada lebih dari 4 juta mitra baru yang tergabung dalam ekosistem GoTo dan 86 persen di antaranya adalah pengusaha baru," ungkap CEO sekaligus Founder Tokopedia William Tanuwijaya.
CEO Grup GoTo Andre Sulistyo mengatakan ada beberapa hal yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan skala usaha UMKM dan menambah pelaku UMKM ke ekosistem digital. Misalnya, membuka kelas bisnis #BangkitBersama, GoTo UMKM Center di Solo Technopark, hingga mengoperasikan fitur TokoCabang,
"Kami lihat digitalisasi punya peran penting mengubah usaha offline yang tidak bisa buka karena pandemi bisa dijembatani. Kami pun terus berinovasi supaya bisa jadi jembatan agar lebih banyak UMKM yang bisa masuk ke ekosistem digital," ucap Andre.
Sementara, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mencatat jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital sejatinya lebih banyak, yaitu mencapai 15,9 juta di seluruh Indonesia sampai tahun ini.
"Angka ini naik 100 persen jika dibandingkan sebelum pandemi yang masih di angka 8 juta UMKM," kata Teten.
Ia menilai hal ini merupakan cermin bahwa pandemi rupanya memberikan sedikit berkah bagi pelaku usaha kecil. Sebab, mereka mau tidak mau harus beradaptasi dan go digital.
Pemerintah pun turut mendukung langkah go digital ini, misalnya dengan memberikan pendampingan mengenai kurasi kemasan produk, memberikan laboratorium UMKM yang bergerak di bidang fesyen, kuliner, hingga mekanik. Targetnya, ia ingin ada 30 juta UMKM yang masuk ekosistem digital pada 2024.
"Saat ini tren pasar dinamis dan sangat cepat, makanya harus ada pendampingan kepada UMKM agar bisa beradaptasi, inovasi produk, dan transformasi ke digital," imbuhnya.
Bila target tercapai, Teten yakin sumbangan ekonomi dari sektor UMKM tidak main-main, bahkan bisa memperbesar kontribusi mereka yang kini sebenarnya sudah menjadi 'tulang punggung' perekonomian Indonesia. Kontribusi ini tidak hanya dari segi nilai ekonomi, tapi juga penyediaan lapangan kerja informal bagi masyarakat.
Kendati begitu, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan kisah sukses para UMKM menjajal pemasaran digital ini rupanya masih menyisakan kemirisan. Pasalnya, 15,9 juta pelaku UMKM yang masuk platform digital sejatinya baru 24,9 persen dari total UMKM di Indonesia yang mencapai 65 juta.
"Ternyata baru 24 persen yang menggunakan e-commerce untuk menjual produk dan ini pun banyak berasal dari masyarakat menengah ke atas. Sementara pelaku UMKM yang menengah ke bawah cuma 1 persen yang memanfaatkan e-commerce," ungkap Bhima.
Hal ini, katanya, menandakan bahwa euforia digitalisasi UMKM saat ini rupanya belum berjalan secara inklusif. Padahal, digitalisasi diharapkan bisa membuat UMKM 'naik kelas'.
Untuk itu, ia menilai pemerintah perlu segera memberikan kebijakan yang lebih riil agar bisa membuat UMKM benar-benar go digital. Hal ini perlu dilakukan karena sejumlah studi menyebutkan potensi ekonomi digital di Indonesia sangat besar.
Pada 2025 misalnya, potensi ekonomi digital Indonesia diramal mencapai US$124 miliar atau setara Rp1.754 triliun (kurs Rp14.150 per dolar AS). Potensi tersebut meningkat tiga kali lipat dari realisasi pada 2020 sekitar US$44 miliar atau Rp622,6 triliun.
"Tapi syaratnya perlu pengembangan ekonomi digital yang lebih inklusif," pungkasnya.