BI Waspadai Dampak 5 Masalah Global Tahun Depan

CNN Indonesia
Rabu, 24 Nov 2021 17:35 WIB
Bank Indonesia (BI) mengatakan ada lima masalah global yang harus diwaspadai pada 2022 mendatang. Bank Indonesia (BI) mengatakan ada lima masalah global yang harus diwaspadai pada 2022 mendatang. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan lima masalah global yang akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia tahun depan. Pertama, normalisasi kebijakan di negara maju dan ketidakpastian pasar keuangan global.

Kedua, dampak pandemi covid-19 terhadap korporasi dan sistem keuangan. Ketiga, meluasnya sistem pembayaran digital antar negara dan risiko aset kripto.

Keempat, tuntutan ekonomi keuangan hijau dari negara maju. Kelima, melebarnya kesenjangan dan perlunya inklusi keuangan.


"Kelima permasalahan global ini akan menjadi agenda prioritas presidensi G20," kata Perry dalam Pertemuan Tahunan BI, Rabu (24/11).

Perry menjelaskan ekonomi Indonesia akan mulai pulih tahun depan. Ia memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tembus 4,7 persen-5,5 persen pada 2022, lebih tinggi dari target tahun ini yang sebesar 3,4 persen-4 persen.

"Selain ekspor, konsumsi dan investasi juga akan meningkat didukung vaksinasi serta pembukaan sektor ekonomi," terang Perry.

Ia memproyeksi inflasi juga masih terkendali pada 2022. Hal ini didukung oleh pasokan yang memadai.

"Stabilitas nilai tukar rupiah juga dijaga sesuai komitmen BI di tengah normalisasi The Fed," ujar Perry.

Menurut dia, syarat utama agar ekonomi pulih adalah sinergi vaksin dan pembukaan 24 sub sektor prioritas. Beberapa sektor yang dimaksud, yakni makanan dan minuman, kimia, otomotif, karet, logam dasar, kertas, dan alas kaki.

Lebih lanjut Perry menjelaskan arah kebijakan moneter bank sentral tahun depan adalah stabilisasi nilai tukar dan suku bunga rendah. Saat ini, BI menetapkan suku bunga acuan di level 3,5 persen.

"Suku bunga rendah dipertahankan sampai terdapat indikasi awal kenaikan inflasi," kata Perry.

Selain itu, BI juga akan mengurangi likuiditas di perbankan. Hal itu akan dilakukan secara bertahap agar tak mengganggu kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit.

"Kelebihan likuiditas di perbankan yang sangat besar pada saat ini akan kami turunkan secara bertahap dan hati-hati," jelas Perry.

[Gambas:Video CNN]

(aud/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER