PLN Kantongi 500 Juta Euro dari Prancis untuk Transisi Energi

CNN Indonesia
Jumat, 26 Nov 2021 12:24 WIB
PLN mengantongi pendanaan sebesar 500 juta euro setara Rp8,04 triliun dari Badan Pembangunan Prancis (AFD) untuk program transisi energi. PLN mengantongi pendanaan sebesar 500 juta euro setara Rp8,04 triliun dari Badan Pembangunan Prancis (AFD) untuk program transisi energi. (PLN).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT PLN (Persero) mengantongi pendanaan sebesar 500 juta euro atau setara Rp8,04 triliun (kurs Rp16.076 per euro) dari Badan Pembangunan Prancis (AFD) untuk penerapan program transisi energi. Pendanaan itu diberikan bertahap selama lima tahun ke depan.

Program transisi energi merupakan hasil kerja sama antara Indonesia dengan Prancis untuk energi bersih di Indonesia.

"Kami berkomitmen untuk mendukung percepatan transisi energi demi masa depan yang lebih baik," kata Zulkifli Zaini, Direktur Utama PLN, seperti dikutip dari Antara, Jumat (26/11).


Selama 10 tahun terakhir, AFD sudah memobilisasi 520 juta euro atau sekitar Rp8,36 triliun untuk mendukung Indonesia dalam reformasi sektor energi, pembiayaan investasi publik, dan mobilisasi tenaga ahli dari Prancis.

Bantuan yang diberikan AFD datang dalam bentuk hibah untuk bantuan teknis dalam persiapan dan pelaksanaan proyek, pinjaman lunak kepada pemerintah Indonesia dan PLN, atau pinjaman kepada sektor swasta untuk investasi energi terbarukan (EBT) dan efisiensi energi.

Zulkifli mengaku memiliki beberapa pendekatan untuk memastikan bisnis ketenagalistrikan yang berkelanjutan. Di antaranya, memastikan operasional perusahaan ramping dan efisien, memberikan energi hijau untuk masa mendatang, serta menjadi perusahaan yang berfokus pada pelanggan dengan memberikan layanan yang andal serta terjangkau.

Lebih lanjut, Zulkifli menyebut agar transisi energi berjalan mulus, ada empat hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan.

Kedua, investasi skala besar.Ketiga, penerapan teknologi dalam skala besar.Keempat, investasi pelanggan untuk beralih menggunakan peralatan rendah karbon.

"Dengan begitu, pengembangan bisnis dan kampanye electrifying lifestyle perlu lebih digaungkan. Sebut saja, penggunaan kompor listrik, kendaraan listrik, dan perdagangan emisi," ungkap Zulkifli.

Dalam skenario business as usual, emisi sektor listrik mencapai 0,92 miliar ton setara karbon dioksida pada 2060.

PLN meluncurkan strategi, salah satunya menghentikan pembangunan serta memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) existing secara bertahap.

"Kami akan mempensiunkan PLTU sub-critical sebesar 10 gigawatt pada 2035. Kemudian, PLTU super critical sebesar 10 gigawatt juga akan dipensiunkan pada tahun 2045. Tahap terakhir pada tahun 2055, PLTU ultra super critical 55 gigawatt dipensiunkan," tegas Zulkifli.

Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan pengumuman moratorium pembangunan pembangkit listrik baru di batu bara serta publikasi rencana investasi PLN melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

RUPTL tersebut menegaskan bahwa porsi energi baru terbarukan lebih besar, yakni 51,6 persen atau 20.923 megawatt, sementara porsi energi fosil lebih rendah hanya sebesar 48 persen atau 19.652 megawatt.

[Gambas:Video CNN]



(mrh/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER