Miliarder TP Rachmat dari Salesman Jadi Pemegang Saham Perusahaan
Agus Triyono | CNN Indonesia
Minggu, 12 Des 2021 08:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sebelum menjadi orang terkaya di Indonesia nomor 16, Teddy Racmat pernah menjadi salesman alat berat dan dipecat dua kali. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Basith Subastian).
Jakarta, CNN Indonesia --
Jalan hidup untuk menjadi orang terkayadi Indonesia bisa terbuka dari mana saja. Tak terkecuali salesman alias tenaga pemasaran dan penjualan.
Begitu pula yang terjadi pada kisah Theodore Permadi Rachmat atau juga dikenal dengan Teddy Rachmat. Ia merupakan salah satu pengusaha terkaya di Indonesia saat ini.
Forbes mencatat total kekayaan Teddy saat ini mencapai US$2,9 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp14.416 per dolar AS, total kekayaan itu mencapai Rp41,807 triliun.
Dengan jumlah harta itu, ia menduduki peringkat orang terkaya nomor 16 di Indonesia.
Namun, Teddy mendapatkan kekayaan itu setelah melewati jalan yang berliku. Mengutip berbagai sumber, Teddy lahir dari keluarga pebisnis. Pria kelahiran Majalengka pada 15 Desember 1943 silam itu memang memiliki otak yang encer.
Secara akademis, ia selalu mendapat ranking 10 besar. Ia juga cukup fasih dalam berbahasa Belanda.
Karena kecerdasannya itu, pria yang punya hobi membaca buku ekonomi bisnis, filsafat, religi serta hukum ini berhasil masuk Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menjadi salah satu mahasiswa yang berhasil lulus dengan catatan waktu tercepat.
Selepas menyelesaikan kuliah pada 1968, Teddy langsung bergabung dengan PT Astra milik William Soeryadjaya, pamannya menjadi karyawan ke-16.
Meski perusahaan itu milik sang paman, Teddy tak langsung mendapatkan kursi empuk. Ia harus memulai karir dari nol dengan menjadi salesman penjualan alat berat.
Kegigihan dan keberhasilannya lah yang mendongkrak kinerja penjualan perusahaan akhirnya membawa Teddy ke kursi empuk. Berkat kegemilangannya, ia kemudian dipromosikan menjadi direktur PT Astra Honda Motor pada 1984 hingga CEO Grup Astra Internasional.
Di bawah komandonya, Astra terus tumbuh besar. Berkat kinerja moncer itu, William Soeradjaya menghadiahkan 5 persen saham Astra untuk Teddy.
Meski moncer, perjalanan Teddy bukan tanpa batu sandungan. Ia juga pernah 'terantuk batu' saat berkarir di Astra.
Teddy mengaku pernah dipecat perusahaan sebanyak dua kali walaupun tanpa menjelaskan alasannya.
Sukses di Astra tak membuat Teddy lekas berpuas diri. Pada 1998 atau sesudah 30 tahun berbakti di Astra, ia memutuskan untuk banting setir mendirikan perusahaan sendiri bernama Triputra Group.
Krisis ekonomi yang waktu itu membuat beberapa pebisnis kalang kabut, justru berhasil dimanfaatkannya dengan baik.
Saat itu, ia memutuskan untuk membesarkan Adira Finance, perusahaan yang dirintis ayahnya, Rafael Adi Rachmat pada 1990-an dan memasukkan modal ke Adaro. Usaha itu membuahkan hasil gemilang.
Adira berhasil tumbuh besar. Pada 2014, keuntungan Adira sudah mencapai triliunan. Adira kemudian dijual ke Danamon supaya dapat untung. Keuntungan sama juga diraup dari penanaman modal di Adaro.
Hasil dari keuntungan di Adaro itulah yang kemudian ia kembangkan untuk membangun Triputra Group. Perusahaan memiliki beberapa anak usaha yang bergerak di berbagai sektor, seperti agribisnis, karet olahan, batu bara, perdagangan, manufaktur, pertanian, dealer motor dan logistik.
Perusahaan yang didirikan Teddy tersebut cukup gemilang. Pada 2011 atau tiga tahun setelah pendiriannya, omzet Triputra telah melesat sampai dengan Rp40 triliun.
Menjadi kaya ternyata tak membuat Teddy menjadi lupa akan kodratnya sebagai makhluk sosial. Kekayaan yang ia dapatkan dengan kerja keras juga banyak disumbangkan ke masyarakat.
Sumbangan yang ia berikan dalam bentuk pemberian beasiswa kepada masyarakat kurang mampu. Pemberian beasiswa dilakukan melalui Yayasan A&A Rachmat.
Beasiswa salah satunya diberikan kepada para mahasiswa, dengan besaran Rp10 juta per tahun per mahasiswa.
Kedermawanan Teddy ini ternyata muncul sejak dia masih berusia 5 tahun. Kedermawanan muncul tatkala menyaksikan anak-anak yatim di panti asuhan di sebelah rumahnya yang kadang minta makan ke keluarganya.
Karena merasa iba dengan nasib anak yatim itu, Teddy kecil bertekad bila diberi kelebihan harta akan menyisihkannya untuk membantu mereka.
Teddy mengatakan itu semua ia lakukan karena tidak ingin ada lagi masyarakat Indonesia yang cukup. Atas dasar itulah, ia selalu mengajak teman-temannya sesama pengusaha untuk selalu mendermakan harta dalam membantu masyarakat miskin.
Agar ajakan diikuti, ia selalu bilang kepada teman-temannya bahwa harta tidak akan dibawa mati.
Jalan hidup untuk menjadi orang terkayadi Indonesia bisa terbuka dari mana saja. Tak terkecuali salesman alias tenaga pemasaran dan penjualan.
Begitu pula yang terjadi pada kisah Theodore Permadi Rachmat atau juga dikenal dengan Teddy Rachmat. Ia merupakan salah satu pengusaha terkaya di Indonesia saat ini.
Forbes mencatat total kekayaan Teddy saat ini mencapai US$2,9 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp14.416 per dolar AS, total kekayaan itu mencapai Rp41,807 triliun.
Dengan jumlah harta itu, ia menduduki peringkat orang terkaya nomor 16 di Indonesia.
Namun, Teddy mendapatkan kekayaan itu setelah melewati jalan yang berliku. Mengutip berbagai sumber, Teddy lahir dari keluarga pebisnis. Pria kelahiran Majalengka pada 15 Desember 1943 silam itu memang memiliki otak yang encer.
Secara akademis, ia selalu mendapat ranking 10 besar. Ia juga cukup fasih dalam berbahasa Belanda.
Karena kecerdasannya itu, pria yang punya hobi membaca buku ekonomi bisnis, filsafat, religi serta hukum ini berhasil masuk Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menjadi salah satu mahasiswa yang berhasil lulus dengan catatan waktu tercepat.
Selepas menyelesaikan kuliah pada 1968, Teddy langsung bergabung dengan PT Astra milik William Soeryadjaya, pamannya menjadi karyawan ke-16.
Meski perusahaan itu milik sang paman, Teddy tak langsung mendapatkan kursi empuk. Ia harus memulai karir dari nol dengan menjadi salesman penjualan alat berat.
Kegigihan dan keberhasilannya lah yang mendongkrak kinerja penjualan perusahaan akhirnya membawa Teddy ke kursi empuk. Berkat kegemilangannya, ia kemudian dipromosikan menjadi direktur PT Astra Honda Motor pada 1984 hingga CEO Grup Astra Internasional.
Di bawah komandonya, Astra terus tumbuh besar. Berkat kinerja moncer itu, William Soeradjaya menghadiahkan 5 persen saham Astra untuk Teddy.
Meski moncer, perjalanan Teddy bukan tanpa batu sandungan. Ia juga pernah 'terantuk batu' saat berkarir di Astra.
Teddy mengaku pernah dipecat perusahaan sebanyak dua kali walaupun tanpa menjelaskan alasannya.
Sukses di Astra tak membuat Teddy lekas berpuas diri. Pada 1998 atau sesudah 30 tahun berbakti di Astra, ia memutuskan untuk banting setir mendirikan perusahaan sendiri bernama Triputra Group.
Krisis ekonomi yang waktu itu membuat beberapa pebisnis kalang kabut, justru berhasil dimanfaatkannya dengan baik.
Saat itu, ia memutuskan untuk membesarkan Adira Finance, perusahaan yang dirintis ayahnya, Rafael Adi Rachmat pada 1990-an dan memasukkan modal ke Adaro. Usaha itu membuahkan hasil gemilang.
Adira berhasil tumbuh besar. Pada 2014, keuntungan Adira sudah mencapai triliunan. Adira kemudian dijual ke Danamon supaya dapat untung. Keuntungan sama juga diraup dari penanaman modal di Adaro.
Hasil dari keuntungan di Adaro itulah yang kemudian ia kembangkan untuk membangun Triputra Group. Perusahaan memiliki beberapa anak usaha yang bergerak di berbagai sektor, seperti agribisnis, karet olahan, batu bara, perdagangan, manufaktur, pertanian, dealer motor dan logistik.
Perusahaan yang didirikan Teddy tersebut cukup gemilang. Pada 2011 atau tiga tahun setelah pendiriannya, omzet Triputra telah melesat sampai dengan Rp40 triliun.
Harta Tak Dibawa Mati
Teddy Rachmat selalu memanfaatkan harta yang dimilikinya untuk berbagi dengan sesama. Itu ia lakukan karena tidak ingin ada orang RI yang miskin. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Menjadi kaya ternyata tak membuat Teddy menjadi lupa akan kodratnya sebagai makhluk sosial. Kekayaan yang ia dapatkan dengan kerja keras juga banyak disumbangkan ke masyarakat.
Sumbangan yang ia berikan dalam bentuk pemberian beasiswa kepada masyarakat kurang mampu. Pemberian beasiswa dilakukan melalui Yayasan A&A Rachmat.
Beasiswa salah satunya diberikan kepada para mahasiswa, dengan besaran Rp10 juta per tahun per mahasiswa.
Kedermawanan Teddy ini ternyata muncul sejak dia masih berusia 5 tahun. Kedermawanan muncul tatkala menyaksikan anak-anak yatim di panti asuhan di sebelah rumahnya yang kadang minta makan ke keluarganya.
Karena merasa iba dengan nasib anak yatim itu, Teddy kecil bertekad bila diberi kelebihan harta akan menyisihkannya untuk membantu mereka.
Teddy mengatakan itu semua ia lakukan karena tidak ingin ada lagi masyarakat Indonesia yang cukup. Atas dasar itulah, ia selalu mengajak teman-temannya sesama pengusaha untuk selalu mendermakan harta dalam membantu masyarakat miskin.
Agar ajakan diikuti, ia selalu bilang kepada teman-temannya bahwa harta tidak akan dibawa mati.