Kata Pengamat soal Pengalihan Subsidi LPG ke Kompor Listrik

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Selasa, 21 Jun 2022 19:34 WIB
Pengamat menilai pengalihan subsidi Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 kg ke kompor listrik bisa mengurangi beban subsidi energi negara. Pengamat menilai pengalihan subsidi Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 kg ke kompor listrik bisa mengurangi beban subsidi energi negara. Ilustrasi. (iStockphoto/Orbon Alija).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah dan PT PLN (Persero) mengkaji untuk mengalihkan subsidi Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 kg ke kompor induksi atau kompor listrik.

"Kami menggodok program dengan pemerintah bagaimana tadinya subsidi untuk LPG bisa direalisasikan untuk mempercepat penggunaan kompor induksi baik ini untuk pembelian kompor listriknya dan utensilnya sehingga di sini ada pergeseran penggunaan," ujar Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (15/6) lalu.

Ia menjelaskan untuk pengadaan kompor listrik dana yang dibutuhkan hanya Rp10.350 per ekuivalen, sedangkan untuk subsidi LPG dibutuhkan sebesar Rp18 ribu per kg.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan wacana tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah mengurangi impor LPG. Pasalnya, kenaikan harga LPG akan menambah beban subsidi terhadap LPG 3 kg.

"Saat ini harga LPG terus mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Ini akan menambah beban subsidi pemerintah terhadap LPG 3 kg," ujar Mamit kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/6).

Selain itu, pengawasan subsidi LPG 3 kg juga masih belum ketat saat ini. Maka dari itu, pengalihan subsidi ke kompor listrik diharapkan bisa membuat subsidi menjadi lebih tepat sasaran.

Mamit mengatakan proses pengalihan ini tidak akan berjalan mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama karena masyarakat sudah terbiasa menggunakan LPG.

Ia juga mengatakan subsidi kompor listrik harus mencakup biaya naik daya tarif listrik menjadi 2.200 VA sehingga kompor listrik bisa digunakan secara gratis.

"Pemerintah juga harus memberikan alat memasak kurang lebih kompor induksi atau kompor listrik kepada masyarakat sehingga mereka bisa beralih," ujar Mamit.

Selain itu, menurut Mamit, pemerintah ke depan seharusnya menarik LPG 3 kg sehingga masyarakat tidak lagi menggunakannya untuk memasak.

Sementara untuk harga, Mamit menilai dana pengadaan kompor listrik masih lebih murah dibandingkan dengan subsidi LPG sehingga bisa mengurangi beban negara.

Ia mengatakan dana yang dibutuhkan kurang lebih sama dengan yang disampaikan pihak PLN yaitu Rp10.350 per ekuivalen, sedangkan untuk subsidi LPG dibutuhkan sebesar Rp18 ribu per kg.

"Kurang lebih seperti itu, jadi masih lebih murah kompor listrik daripada penggunaan LPG karena sekarang ini harga LPG ini sangat mahal," ujar Mamit.

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa yang mengatakan pengalihan subsidi LPG 3 kg ke kompor listrik merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi beban subsidi energi secara keseluruhan.

"Saat ini biaya pengadaan LPG sudah sebesar Rp18 ribu per kg. Ini menyebabkan beban subsidi LPG 3 kg meningkat tajam," ujar Fabby kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/6).

Namun, ia mengatakan subsidi kompor listrik perlu ditetapkan sasarannya. Kelompok yang seharusnya disubsidi adalah rumah tangga yang tidak mampu.

Adapun subsidi kompor listrik harus mencakup tiga hal. Pertama, pengadaan kompor dan alat masak untuk kompor induksi. Kedua, biaya naik daya dari 450 VA atau 900 VA menjadi 2.200 VA.

"Tarif listrik untuk ID pelanggan rumah tangga tidak mampu ini juga perlu disubsidi secara proporsional," ujar Fabby.

Ketiga, pemberian subsidi kepada kompor induksi harus diikuti dengan penurunan volume LPG 3 kg yang disubsidi.

[Gambas:Video CNN]



(fby/sfr)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER