Buwas Jawab Sindiran Jokowi soal Bulog Tak Bisa Jual Beras Serapan

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Senin, 27 Jun 2022 17:18 WIB
Dirut Bulog Budi Waseso merespons sindiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena dianggap tak bisa menjual kembali beras yang dibeli dari petani. Dirut Bulog Budi Waseso merespons sindiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena dianggap tak bisa menjual kembali beras yang dibeli dari petani. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) buka suara soal sindiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena dianggap tak bisa menjual kembali beras yang dibeli dari petani.

"Sampai sekarang belum ada keputusan berapa pastinya (beras) yang harus dipasok Bulog, walau Pak Presiden sampaikan Bulog bisa serap tapi jual tidak bisa," ungkap Buwas, sapaan akrabnya dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI, Senin (27/6).

Ia menjelaskan beras yang diserap dari petani disebut sebagai cadangan beras pemerintah (CBP). Seluruh proses penyerapan dan penjualan CBP sendiri memiliki aturan cukup ketat.

Buwas mencontohkan pihaknya sempat menandatangani kontrak ekspor beras ke Arab Saudi sebanyak 100 ribu ton selama satu tahun pada 2019 lalu. Namun, ujung-ujungnya CBP tak bisa dijual ke Arab Saudi karena terbentur regulasi.

"Kendalanya aturan lagi, regulasi. Bulog tidak bisa ekspor beras, itu ketentuan ada di Kementerian Perdagangan. Prinsip yang kami serap ini perintah dari negara menjadi CBP. Aturan digariskan ada ketentuan dan lain-lain," jelas Buwas.

Sementara, ia mengakui kualitas CBP cepat turun. Pasalnya, Bulog tak memiliki gudang khusus untuk menyimpan beras.

Sejauh ini, beras disimpan di gudang Bulog bersama dengan bahan pangan lain, seperti kedelai.

"Gudang yang ada di Bulog secara umum gudang biasa. Kalau simpan model seperti ini kecenderungan cepat rusak iya," tutur Buwas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan Bulog sulit menjual stok CBP karena pemerintah sudah menghapus program rastra. Saat program itu masih ada, beras Bulog terserap 2,6 juta ton setiap tahun.

"Sekarang program sudah tidak ada. Bulog simpan beras, tidak ada jaminan digunakan. Tapi ini beras penugasan dari negara," ujar Buwas.

Oleh karena itu, ia mengusulkan ada perubahan regulasi terkait beras CBP. Hal itu agar beras tak cepat turun mutu dan akhirnya terbuang.

"Persoalan stok CBP ini tidak bisa digerakkan setiap saat kalau tidak ada perintah dari negara," katanya.

Tak hanya soal stok, Buwas juga mengeluhkan utang negara sebesar Rp5,5 triliun kepada Bulog terkait pengadaan beras pemerintah.

Di sisi lain, Bulog juga memiliki utang ke perbankan untuk membeli beras dari petani. Masing-masing bank memberikan bunga komersial atau sesuai kondisi pasar kepada Bulog.

"Ini juga masalah, karena ini kan bunga. Ini terus berjalan sebelum pokok," ucap Buwas.

Sebelumnya, Jokowi menyindir Bulog karena tak bisa menjual beras yang diserap dari petani.

"Jangan kayak Bulog, ambil dari petani banyak, tidak bisa jual," ungkap Jokowi.

Hal itu membuat produk yang diserap dari petani menjadi busuk. Dengan demikian, kualitasnya menjadi turun. "Ini jangan seperti ini. Artinya harus ada rencana," imbuh Jokowi.

Ia meminta kementerian/lembaga membuat mekanisme yang komprehensif di sektor pangan, mulai dari produksi hingga penjualan ke masyarakat. "Pastikan off taker siapa, yang beli siapa. Jadi petani bisa produksi terus dan yang beli ada," pungkas Jokowi.

[Gambas:Video CNN]



(aud/sfr)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER