Semua Mahal, Bank Dunia Ramal Inflasi RI Tembus 3,6 Persen Tahun Ini

tim | CNN Indonesia
Kamis, 07 Jul 2022 12:00 WIB
Bank Dunia memprediksi inflasi RI tembus 3,6 persen pada 2022 akibat lonjakan harga pangan dan energi sejak tahun lalu. Bank Dunia memprediksi inflasi RI tembus 3,6 persen pada 2022 akibat harga pangan dan energi semakin mahal sejak tahun lalu. Ilustrasi. (iStockphoto/blackred).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Dunia (World Bank) memproyeksi inflasi RI tembus 3,6 persen pada tahun ini. Hal itu dipicu lonjakan harga pangan dan energi yang terjadi setahun belakangan ini.

Proyeksi ini tertuang dalam laporan Bank Dunia bertajuk Indonesia Economic Prospects (IEP).

Bank Dunia bahkan memperkirakan inflasi di Indonesia tetap tinggi sampai 2025 mendatang. Namun, lembaga internasional itu tak menyebut angka pasti inflasi RI dalam tiga tahun ke depan.

"Inflasi diproyeksikan meningkat menjadi 3,6 persen pada 2022 dan tetap tinggi hingga 2025," ungkap Bank Dunia dalam laporan tersebut, dikutip Rabu (6/7).

Lonjakan harga energi, kata Bank Dunia, membuat pemerintah menaikkan tarif listrik mulai Juli 2022. Tarif listrik resmi naik untuk golongan rumah tangga R2 dengan daya 3.500 VA sampai 5.500 VA, R3 dengan daya lebih dari 6.600 VA, dan kantor pemerintahan.

Jika inflasi benar naik dan tembus 3,6 persen tahun ini, Bank Dunia khawatir Bank Indonesia (BI) akan mengerek suku bunga acuan.

"Inflasi yang tinggi dapat mendorong sikap moneter menuju pengetatan lebih," kata Bank Dunia.

Namun, Bank Dunia mengingatkan agar BI tetap memperhatikan kondisi ekonomi domestik dalam menentukan kebijakan moneter.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo memproyeksi inflasi RI tembus 4,2 persen pada 2022. Namun, ia menilai angka itu masih terkendali dibandingkan negara lain.

Padahal, beberapa negara telah menaikkan anggaran subsidi untuk menekan lonjakan harga. Dengan harapan, inflasi di negara tersebut bisa lebih stabil.

"Kami sampaikan bahwa BI terus mencermati risiko tekanan inflasi ke depan, ekspektasi inflasi dan dampak ke inflasi inti dan akan menempuh normalisasi kebijakan moneter lanjutan sesuai data dan kondisi berkembang," pungkas Perry.

[Gambas:Video CNN]

(aud/agt)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER