Cuaca Ekstrem dan Kekeringan Hantam Ekonomi AS, Eropa dan China

CNN Indonesia
Jumat, 19 Agu 2022 10:16 WIB
Cuaca ekstrem dan kekeringan menghantam ekonomi AS, Eropa, dan China, di tengah ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi. Cuaca ekstrem dan kekeringan menghantam ekonomi AS, Eropa, dan China, di tengah ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi. (Reuters/Peter Cziborra).
Jakarta, CNN Indonesia --

Cuaca ekstrem dan kekeringan melanda Amerika Serikat (AS) Eropa dan China. Kondisi ini menambah masalah bagi pekerja dan bisnis saat pertumbuhan ekonomi mulai melambat.

Melansir CNN Business, Jumat (18/7), seluruh pabrik di Sichuan, China, telah diperintahkan tutup selama enam hari untuk menghemat listrik. Tak hanya di China, masyarakat yang tinggal di pantai barat AS pun diminta untuk menggunakan lebih sedikit listrik karena suhu yang semakin meningkat.

"Peristiwa ini memiliki kapasitas yang cukup signifikan untuk wilayah tertentu yang terpengaruh," kata Direktur Penelitian Makro Global Oxford Economics Ben May.

Dampak yang disebabkan gelombang panas dan kurangnya hujan berbeda-beda di setiap wilayah. Namun, para ahli memperingatkan dampak terparah bisa terjadi di negara-negara, seperti Jerman, dengan banyak perusahaan tengah bersiap untuk kondisi yang terburuk.

Cuaca ekstrem telah memperlambat ekonomi karena membuat sungai-sungai yang mendukung pertumbuhan global menjadi kering.

Kapal yang membawa batu bara dan bahan kimia di sungai-sungai, seperti Rhein, Yangtze, Danube, dan Colorado menjadi sulit bergerak. Akibatnya, sistem irigasi terganggu, termasuk pembangkit listrik dan pabrik sulit untuk tetap dingin.

Pada saat yang sama, panas terik menghambat jaringan transportasi, membebani pasokan listrik, dan mengganggu produktivitas pekerja.

"Kita seharusnya tidak terkejut dengan peristiwa gelombang panas. Itu persis seperti yang kami prediksi dan merupakan bagian dari tren, lebih sering, lebih intens, di seluruh dunia, "kata direktur kebijakan dan komunikasi di Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment London School of Economics Bob Ward.

China menghadapi gelombang panas terberatnya dalam enam dekade terakhir dengan suhu mencapai 40 derajat celsius atau 104 fahrenheit di puluhan kota.

Di California, suhu mencapai 109 derajat fahrenheit pada pekan ini. Sedangkan, suhu di Inggris tercatat 40 derajat celsius untuk pertama kalinya.

Di Amerika Barat, cuaca panas yang luar biasa membuat waduk terbesar di negara itu mengering, Kondisi itu memaksa pemerintah federal untuk menerapkan pemangkasan pasokan air. Sementara para petani harus menghancurkan tanamannya karena gagal panen.

Sekitar 50 persen petani di California dengan tanaman buah dan kacang juga harus menebang pohon dan tanaman multiyears karena kekeringan yang akan mempengaruhi pendapatan mereka di masa depan.

[Gambas:Video CNN]



(fby/bir)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER