Emiten Energi Jadi Pilihan di Tengah Wacana Kenaikan Harga BBM
CNN Indonesia
Senin, 22 Agu 2022 06:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Analis saham merekomendasikan investor mengoleksi saham-saham emiten sektor energi di tengah wacana kenaikan harga BBM. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta).
Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 14,12 poin atau 0,20 persen ke level 7.172 pada perdagangan akhir pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp949,58 miliar.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham tercatat tumbuh dua kali, dan melemah dua kali. Sisanya bertepatan dengan libur hari raya kemerdekaan 17 Agustus. Secara total performa indeks saham menguat 0,17 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menyebut kapitalisasi pasar bursa meningkat 0,07 persen, yakni dari Rp9,33 triliun pada pekan sebelumnya menjadi sebesar Rp9,34 triliun.
Sebaliknya, rata-rata frekuensi harian bursa turun 4,15 persen dari 1.305 juta transaksi menjadi 1.251 juta transaksi. Rata-rata volume transaksi harian bursa juga turun 4,20 persen dari 25.737 miliar saham menjadi 24.655 miliar saham.
"Perubahan sebesar 9,48 persen terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa menjadi sebesar Rp12,586 triliun dari Rp13,905 triliun pada penutupan pekan lalu," ujarnya seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (19/8).
CEO Akela Trading System Hary Suwanda memprediksi IHSG pada pekan ini akan melemah terbatas di rentang support 7.113 dan resistance 7.290.
IHSG diperkirakan dipengaruhi oleh kondisi bursa global yang diwarnai kekhawatiran akan inflasi AS yang kembali meningkat.
Investor juga khawatir karena pejabat bank sentral AS The Fed, seperti James Bullard dan Esther George berkomentar mengenai kenaikan suku bunga acuan.
"Bursa global akan diwarnai kekhawatiran masih tingginya inflasi AS, di mana sentimen ini juga akan berpengaruh terhadap IHSG," kata Hary kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (20/8).
Kendati demikian, Hary memprediksi kekhawatiran akan inflasi AS hanya akan terjadi beberapa saat. Ia memprediksi inflasi akan turun dan membuat saham bangkit atau bullish dalam jangka panjang.
Selain itu, masih ada sentimen dari dalam negeri yang menopang pergerakan indeks, yakni data perekonomian Indonesia yang kondusif serta Bank Indonesia (BI) yang belum berencana menaikkan suku bunga.
"Kalau BI belum berencana menaikkan suku bunga berarti positif untuk saham," terang Hary.
Tetapi, rencana pengumuman terkait kenaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah akan menjadi sentimen kurang baik bagi pasar saham.
Hal ini akan menyebabkan daya beli masyarakat melemah dan mendorong inflasi jauh lebih cepat. "Dampak terhadap IHSG akan menjadi negatif, karena kekhawatiran inflasi dan melambatnya laju pertumbuhan ekonomi jadi meningkat," jelasnya.
Dalam keadaan seperti itu, ia mengatakan sebaiknya investor mengoleksi saham dari sektor energi dan perbankan.
Pertama, dari sektor energi adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang ditutup menguat 1,94 persen ke 4.200. Saham emiten ini diprediksi bisa menyentuh 4.420.
Kedua, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang ditutup menguat 3,66 persen ke 1.700. Ia memprediksi PGAS dapat menyentuh posisi 1.790.
Terakhir, dari sektor perbankan ada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang ditutup menguat 4,22 persen ke 1.605. Oktavianus memprediksi saham emiten ini dapat menyentuh 1.705.
Sementara Harry menyarankan investor untuk memilih emiten sektor basic material dan consumer non-cyclicals.
Dari sektor basic material adalah Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang ditutup menguat 0,63 persen posisi 8.000. INKP diprediksi dapat menyentuh posisi 8.175 hingga 8.325.
Dari sektor consumer non-cyclicals, ia merekomendasikan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang ditutup menguat 3,65 persen ke 710. Saham emiten ini diprediksi bisa menyentuh posisi 755.
Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 14,12 poin atau 0,20 persen ke level 7.172 pada perdagangan akhir pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp949,58 miliar.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham tercatat tumbuh dua kali, dan melemah dua kali. Sisanya bertepatan dengan libur hari raya kemerdekaan 17 Agustus. Secara total performa indeks saham menguat 0,17 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menyebut kapitalisasi pasar bursa meningkat 0,07 persen, yakni dari Rp9,33 triliun pada pekan sebelumnya menjadi sebesar Rp9,34 triliun.
Sebaliknya, rata-rata frekuensi harian bursa turun 4,15 persen dari 1.305 juta transaksi menjadi 1.251 juta transaksi. Rata-rata volume transaksi harian bursa juga turun 4,20 persen dari 25.737 miliar saham menjadi 24.655 miliar saham.
"Perubahan sebesar 9,48 persen terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa menjadi sebesar Rp12,586 triliun dari Rp13,905 triliun pada penutupan pekan lalu," ujarnya seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (19/8).
CEO Akela Trading System Hary Suwanda memprediksi IHSG pada pekan ini akan melemah terbatas di rentang support 7.113 dan resistance 7.290.
IHSG diperkirakan dipengaruhi oleh kondisi bursa global yang diwarnai kekhawatiran akan inflasi AS yang kembali meningkat.
Investor juga khawatir karena pejabat bank sentral AS The Fed, seperti James Bullard dan Esther George berkomentar mengenai kenaikan suku bunga acuan.
"Bursa global akan diwarnai kekhawatiran masih tingginya inflasi AS, di mana sentimen ini juga akan berpengaruh terhadap IHSG," kata Hary kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (20/8).
Kendati demikian, Hary memprediksi kekhawatiran akan inflasi AS hanya akan terjadi beberapa saat. Ia memprediksi inflasi akan turun dan membuat saham bangkit atau bullish dalam jangka panjang.
Selain itu, masih ada sentimen dari dalam negeri yang menopang pergerakan indeks, yakni data perekonomian Indonesia yang kondusif serta Bank Indonesia (BI) yang belum berencana menaikkan suku bunga.
"Kalau BI belum berencana menaikkan suku bunga berarti positif untuk saham," terang Hary.
Analis saham merekomendasikan investor mengoleksi saham-saham emiten sektor energi di tengah wacana kenaikan harga BBM. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat).
Pengamat Pasar Modal Oktavianus Audi memprediksi IHSG cenderung terkoreksi di rentang support 7.060 dan resistance 7.260.
Ia memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga di level 3,5 persen karena inflasi inti masih di bawah 3 persen.
"Untuk IHSG, tentu akan menjadi angin segar karena beban bunga belum meningkat," ujar Oktavianus.
Tetapi, rencana pengumuman terkait kenaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah akan menjadi sentimen kurang baik bagi pasar saham.
Hal ini akan menyebabkan daya beli masyarakat melemah dan mendorong inflasi jauh lebih cepat. "Dampak terhadap IHSG akan menjadi negatif, karena kekhawatiran inflasi dan melambatnya laju pertumbuhan ekonomi jadi meningkat," jelasnya.
Dalam keadaan seperti itu, ia mengatakan sebaiknya investor mengoleksi saham dari sektor energi dan perbankan.
Pertama, dari sektor energi adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang ditutup menguat 1,94 persen ke 4.200. Saham emiten ini diprediksi bisa menyentuh 4.420.
Kedua, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang ditutup menguat 3,66 persen ke 1.700. Ia memprediksi PGAS dapat menyentuh posisi 1.790.
Terakhir, dari sektor perbankan ada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang ditutup menguat 4,22 persen ke 1.605. Oktavianus memprediksi saham emiten ini dapat menyentuh 1.705.
Sementara Harry menyarankan investor untuk memilih emiten sektor basic material dan consumer non-cyclicals.
Dari sektor basic material adalah Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang ditutup menguat 0,63 persen posisi 8.000. INKP diprediksi dapat menyentuh posisi 8.175 hingga 8.325.
Dari sektor consumer non-cyclicals, ia merekomendasikan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang ditutup menguat 3,65 persen ke 710. Saham emiten ini diprediksi bisa menyentuh posisi 755.