Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sudah terima hitung-hitungan kenaikan harga BBM jenis pertalite dan solar bersubsidi dari sejumlah menteri terkait.
"BBM kemarin saya sudah sampaikan kalkulasinya sudah disampaikan ke saya. Hitung-hitungan sudah disampaikan ke saya," ungkap Jokowi di YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (3/9).
Namun, ia tak menjelaskan lebih lanjut bagaimana hitung-hitungan kenaikan harga BBM subsidi yang diberikan oleh sejumlah menteri terkait. Hal yang pasti, Jokowi akan segera mengumumkan kenaikan pertalite dan solar subsidi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tinggal ini kami putuskan," jelas Jokowi.
Sebelumnya, Pengamat Energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro memproyeksi harga pertalite naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter. Angka itu masih di bawah harga keekonomian yang sekitar Rp15 ribu per liter sampai Rp17 ribu per liter.
"Pertalite tentu harus di bawah pertamax juga yang Rp12.500 per liter, jadi Rp10 ribu oke lah," ucap Komaidi.
Angka Rp10 ribu untuk pertalite, kata Komaidi, juga masih di bawah harga BP yang tembus Rp15 ribu per liter.
Namun, Komaidi mengatakan pemerintah juga bisa menggunakan harga pertalite menjadi dua jenis. Motor tetap harga sekarang sebesar Rp7.650 per liter, sedangkan mobil naik menjadi Rp10 ribu per liter.
"Kenapa begitu? karena kan sedang pemulihan ekonomi. Kalau naik semua nanti ekonomi kontraksi," ujar Komaidi.
Sementara, ia memproyeksi harga solar berpotensi naik dari Rp5.150 per liter menjadi Rp10 ribu per liter. Angka itu masih di bawah harga keekonomian yang mencapai Rp17 ribu-Rp18 ribu per liter.
"Tapi memang kalau naiknya Rp10 ribu agak signifikan dari sekarang Rp5.150 tapi ya monggo yang penting tetap diantisipasi," katanya.
Senada, Pengamat energi sekaligus Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan memproyeksi harga pertalite naik menjadi Rp10 ribu per liter. Namun, untuk solar hanya meningkat menjadi Rp8.500 per liter.
Jokowi Terima Hitung-hitungan Kenaikan Harga Pertalite
Foto: Sekretariat Presiden
Tak hanya dua itu, Mamit memprediksi harga pertamax juga naik menjadi Rp16 ribu per liter. Hal itu dilakukan agar selisih pertamax dan pertalite tidak terlalu tipis.
Jika tak naik, maka mayoritas masyarakat yang biasa mengonsumsi pertalite berpotensi beralih ke pertamax. Hal itu akan membuat keuangan PT Pertamina (Persero) boncos.
"Ketika ada penyesuaian harga pertalite masyarakat banting ke pertamax, nanti beban Pertamina juga pusing kerugian. Jadi win win solusi antara pemerintah dan Pertamina," ungkap Mamit.
Saat ini, harga pertamax masih ditahan di level Rp12.500 sampai Rp13 ribu per liter. Sementara, harga BBM setara pertamax di SPBU 'tetangga' sudah lebih dari Rp17 ribu per liter.
Meski berpotensi naik, Mamit mengingatkan kepada Pertamina bahwa harga pertamax harus turun jika harga minyak mentah melandai. Hal ini agar kebijakan yang dibuat tetap adil bagi masyarakat.
"Tapi harus konsisten, kalau pun memang saat evaluasi bulan depan harga minyak turun, harga pertamax juga harus disesuaikan lagi dengan tingkat keekonomian," jelas Mamit.