Bunga KPR di AS Nyaris Mendekati 7 Persen Imbas Kebijakan The Fed

tim | CNN Indonesia
Jumat, 30 Sep 2022 15:44 WIB
Suku bunga kredit rumah (KPR) atau biaya hipotek di Amerika Serikat nyaris mendekati 7 persen setelah naik selama enam pekan, tertinggi sejak 2007. Suku bunga kredit rumah (KPR) atau biaya hipotek di Amerika Serikat nyaris mendekati 7 persen setelah naik selama enam pekan, tertinggi sejak 2007. (Istockphoto/cnicbc).
Jakarta, CNN Indonesia --

Suku bunga kredit rumah (KPR) atau biaya hipotek di Amerika Serikat nyaris mendekati 7 persen atau tertinggi sejak 2007 setelah naik selama enam pekan berturut-turut.

Mengutip CNN Business, Jumat (30/9), Freddie Mac menyatakan hipotek suku bunga tetap 30 tahun rata-rata naik dari 6,29 persen menjadi 6,7 persen pada 29 September 2022.

Tingkat hipotek telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal 2022. Hal ini terjadi karena The Fed terus mengerek suku bunga acuan demi meredam lonjakan inflasi.

Kebijakan bank sentral untuk meredam inflasi ini mengkhawatirkan investor dan mengguncang pasar obligasi.

"Ketidakpastian dan volatilitas di pasar keuangan sangat mempengaruhi tingkat hipotek," kata Sam Khater, kepala ekonom Freddie Mac.

Tingkat hipotek rata-rata didasarkan pada survei pinjaman pembelian rumah konvensional untuk peminjam yang meletakkan 20 persen ke bawah dan memiliki kredit yang sangat baik. 

Sementara itu, kebijakan agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga membuat tingkat permintaan di sektor properti turun.

Akibatnya, harga rumah mulai melunak dan penjualan menurun. Meski begitu, harga rumah masih tinggi karena minimnya pasokan rumah yang tersedia untuk dijual.

Presiden dan CEO Asosiasi Bankir Hipotek Bob Broeksmit mengatakan upaya The Fed untuk mengekang inflasi memiliki dampak besar pada pasar hipotek.

"Tingkat hipotek telah meningkat lebih dari satu persen dalam enam minggu terakhir, dan pembiayaan kembali dan aplikasi pembelian terus menurun baik secara mingguan maupun tahunan," katanya.

Sebelumnya, harga rumah di AS naik 60 persen dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini seiring dengan lonjakan suku bunga kredit rumah yang melewati level 6 persen.

Wakil Presiden Penelitian Black Knight Andy Walden mengatakan kenaikan itu tak sebanding dengan pendapatan rata-rata masyarakat yang hanya meningkat kurang dari 15 persen.

"Harga rumah secara signifikan tidak sesuai dengan tingkat pendapatan," kata Walden, Jumat (23/9).

Tahun lalu, seseorang yang membeli rumah seharga US$363.800 atau setara Rp5,46 miliar (asumsi kurs Rp15.035 per dolar AS), membayar uang muka sebanyak 20 persen dari total dana tersebut.

Kemudian, sisanya dicicil dengan tingkat suku bunga kredit rumah saat itu sebesar 2,88 persen. Artinya, seseorang perlu membayar cicilan bulanan sebesar US$1.208 atau setara Rp18,1 juta.

Sementara, saat ini seseorang yang membeli rumah dengan harga rata-rata US$396.300 atau setara Rp5,95 miliar, harus membayar sewa US$1.960 atau Rp29,4 juta per bulan. Angka ini meningkat karena rata-rata suku bunga kredit rumah naik menjadi 6,29 persen.

Menurut Walden, dengan inflasi yang mendorong sebagian besar pengeluaran rumah tangga lebih tinggi, hanya sedikit calon pembeli rumah yang mampu membayar cicilan yang lebih mahal itu.

[Gambas:Video CNN]

(dzu/aud)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER