Lampu Kuning Investasi Saham Berkedip, Hindari Sektor Teknologi
CNN Indonesia
Senin, 10 Okt 2022 06:58 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Analis mengingatkan investor menyiapkan cash di tengah pelemahan saham, sekaligus menghindari sektor teknologi, infrastruktur, dan industri. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat).
Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 49,84 poin atau 0,70 persen ke level 7.026 pada perdagangan pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp1,30 triliun.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham tercatat tumbuh tiga kali dan melemah dua kali. Secara total, performa indeks saham melemah 0,2 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gusti Alit Nityaryana menilai kapitalisasi bursa menurun 0,04 persen, yaitu dari Rp9.238 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.234 triliun.
Sementara, peningkatan terjadi pada rata-rata volume transaksi bursa sebesar 0,55 persen dari 23,28 miliar saham menjadi 23,41 miliar saham.
Sebaliknya, rata-rata frekuensi transaksi harian bursa menurun 1,08 persen dari 1.238.025 pada pekan sebelumnya menjadi 1.224.595 kali.
"Rata-rata nilai transaksi harian bursa juga mengalami penurunan 7,14 persen menjadi Rp12,92 triliun dari Rp13,91 triliun," ujarnya seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (7/10).
Analis Pasar Modal Oktavianus Audi memprediksi selama sepekan ke depan IHSG masih akan melanjutkan tren pelemahan di rentangsupport6.900 danresistance7.150.
IHSG diperkirakan bakal dipengaruhi sentimen negatif. Walau The Fed sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 bps pada September 2022, tapi pertemuan FOMC dan rilis data inflasi masih membuka peluang suku bunga kembali naik.
Oktavianus juga menyinggung rilis data indeks konsumen Indonesia yang diperkirakan menurun ke level 123 pada September 2022 dari sebelumnya 124,7. Ini merupakan sentimen kurang baik karena keyakinan serta ekspektasi konsumen terhadap ekonomi yang akan datang semakin melemah.
"Dari komoditas minyak mentah, rencana OPEC+ akan menurunkan produksi memperberat ekonomi untuk stabil. Harga pada Jumat lalu, naik mencapai 5 persen untuk Crude Oil. Ini sentimen negatif, karena minyak menjadi salah satu penyumbang inflasi global," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (9/10).
Dalam kondisi ini, ia menyarankan investor untuk memperbesar alokasi uang tunai (cash)yang diarahkan ke tenor jangka panjang dengan saham yang lebih defensif, seperti konsumer.
Sementara, sektor yang harus dihindari saat ini adalah teknologi, infrastruktur, dan perindustrian. Sebaliknya, sektor yang dapat dicermati pekan ini adalah energi, secara khusus subsektor seperti minyak mentah dan pertambangan batu bara.
Secara teknikal, Oktavianus merekomendasikan tiga saham pilihan di sektor energi. Pertama, ada PT Elnusa Tbk atau ELSA yang ditutup stabil 322 pekan lalu. Ia menyarankan buy on break(BoB) 330. ELSA diproyeksi bisa menyentuh 358.
Kemudian, PT Bukit Asam Tbk atau PTBA yang ditutup menguat 1,42 persen ke level 4.290 pekan lalu. Ia memprediksi PTBA bisa menyentuh 4.520.
Selanjutnya, Oktavianus merekomendasikan PT Timah Tbk (TINS) yang menguat 1,45 persen ke level 1.395 pada penutupan pekan lalu. Ia memproyeksi TINS bergerak di rentang 1.360 hingga 1.515.
Pelatih investasi saham dan derivatif sekaligus CEO Akela Trading System Hary Suwanda memprediksi selama sepekan ke depan, IHSG akan bergerak di rentang support 6.972 dan resistance 7.156.
Sentimen yang akan dihadapi adalah langkah The Fed. Investor menunggu kapan The Fed akan menurunkan tingkat agresivitas dalam menaikkan suku bunga yang dilakukan guna meredam inflasi di Amerika Serikat (AS).
Sedangkan, pengaruh inflasi menjadi sentimen dari dalam negeri. Meskipun terbilang rendah di kawasan, tapi tingkat inflasi RI tergolong tinggi di posisi 4,69 persen.
Langkah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps pada akhirnya memberikan sentimen negatif terhadap sektor real estate (properti) dan finansial.
Senada dengan Oktavianus, Hary juga menyebut subsektor pertambangan patut dicermati. Selain itu, sektor perkebunan juga cenderung mampu bertahan dalam kondisi tekanan inflasi juga bisa dipertimbangkan.
"Bagi long term investor, tidak perlu khawatir dan harus tetap tenang menghadapi volatilitas pasar yang memang sering terjadi dalam fase pengetatan likuiditas oleh bank sentral seperti sekarang ini," tutur dia.
Hary menyarankan tiga saham pilihan untuk pekan ini. Pertama, ada dari sektor batu bara, yaitu PT Bayan Resources Tbk atau BYAN yang ditutup menguat 0,59 persen ke 67.700 pekan lalu. Hary memproyeksi BYAN bisa tembus hingga 70.225.
Lalu, ada dari saham pertambangan, yakni PT Vale Indonesia Tbk atau INCO yang menguat 1,12 persen ke 6.800 pada pekan lalu. Hary memprediksi INCO bisa menyentuh 7.225.
Terakhir, ada PT Bumi Resources Tbk alias BUMI yang ditutup menguat 14,11 persen ke level 186 pada minggu lalu. Hary memproyeksi BUMI bisa menembus 226.
Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 49,84 poin atau 0,70 persen ke level 7.026 pada perdagangan pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp1,30 triliun.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham tercatat tumbuh tiga kali dan melemah dua kali. Secara total, performa indeks saham melemah 0,2 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gusti Alit Nityaryana menilai kapitalisasi bursa menurun 0,04 persen, yaitu dari Rp9.238 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.234 triliun.
Sementara, peningkatan terjadi pada rata-rata volume transaksi bursa sebesar 0,55 persen dari 23,28 miliar saham menjadi 23,41 miliar saham.
Sebaliknya, rata-rata frekuensi transaksi harian bursa menurun 1,08 persen dari 1.238.025 pada pekan sebelumnya menjadi 1.224.595 kali.
"Rata-rata nilai transaksi harian bursa juga mengalami penurunan 7,14 persen menjadi Rp12,92 triliun dari Rp13,91 triliun," ujarnya seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (7/10).
Analis Pasar Modal Oktavianus Audi memprediksi selama sepekan ke depan IHSG masih akan melanjutkan tren pelemahan di rentangsupport6.900 danresistance7.150.
IHSG diperkirakan bakal dipengaruhi sentimen negatif. Walau The Fed sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 bps pada September 2022, tapi pertemuan FOMC dan rilis data inflasi masih membuka peluang suku bunga kembali naik.
Oktavianus juga menyinggung rilis data indeks konsumen Indonesia yang diperkirakan menurun ke level 123 pada September 2022 dari sebelumnya 124,7. Ini merupakan sentimen kurang baik karena keyakinan serta ekspektasi konsumen terhadap ekonomi yang akan datang semakin melemah.
"Dari komoditas minyak mentah, rencana OPEC+ akan menurunkan produksi memperberat ekonomi untuk stabil. Harga pada Jumat lalu, naik mencapai 5 persen untuk Crude Oil. Ini sentimen negatif, karena minyak menjadi salah satu penyumbang inflasi global," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (9/10).
Dalam kondisi ini, ia menyarankan investor untuk memperbesar alokasi uang tunai (cash)yang diarahkan ke tenor jangka panjang dengan saham yang lebih defensif, seperti konsumer.
Sementara, sektor yang harus dihindari saat ini adalah teknologi, infrastruktur, dan perindustrian. Sebaliknya, sektor yang dapat dicermati pekan ini adalah energi, secara khusus subsektor seperti minyak mentah dan pertambangan batu bara.
Secara teknikal, Oktavianus merekomendasikan tiga saham pilihan di sektor energi. Pertama, ada PT Elnusa Tbk atau ELSA yang ditutup stabil 322 pekan lalu. Ia menyarankan buy on break(BoB) 330. ELSA diproyeksi bisa menyentuh 358.
Kemudian, PT Bukit Asam Tbk atau PTBA yang ditutup menguat 1,42 persen ke level 4.290 pekan lalu. Ia memprediksi PTBA bisa menyentuh 4.520.
Selanjutnya, Oktavianus merekomendasikan PT Timah Tbk (TINS) yang menguat 1,45 persen ke level 1.395 pada penutupan pekan lalu. Ia memproyeksi TINS bergerak di rentang 1.360 hingga 1.515.
Inflasi Masih Jadi Momok
Analis merekomendasikan investor yang ingin mengoleksi saham di tengah pelemahan pasar saat ini, memilih sektor pertambangan. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat).
Pelatih investasi saham dan derivatif sekaligus CEO Akela Trading System Hary Suwanda memprediksi selama sepekan ke depan, IHSG akan bergerak di rentang support 6.972 dan resistance 7.156.
Sentimen yang akan dihadapi adalah langkah The Fed. Investor menunggu kapan The Fed akan menurunkan tingkat agresivitas dalam menaikkan suku bunga yang dilakukan guna meredam inflasi di Amerika Serikat (AS).
Sedangkan, pengaruh inflasi menjadi sentimen dari dalam negeri. Meskipun terbilang rendah di kawasan, tapi tingkat inflasi RI tergolong tinggi di posisi 4,69 persen.
Langkah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps pada akhirnya memberikan sentimen negatif terhadap sektor real estate (properti) dan finansial.
Senada dengan Oktavianus, Hary juga menyebut subsektor pertambangan patut dicermati. Selain itu, sektor perkebunan juga cenderung mampu bertahan dalam kondisi tekanan inflasi juga bisa dipertimbangkan.
"Bagi long term investor, tidak perlu khawatir dan harus tetap tenang menghadapi volatilitas pasar yang memang sering terjadi dalam fase pengetatan likuiditas oleh bank sentral seperti sekarang ini," tutur dia.
Hary menyarankan tiga saham pilihan untuk pekan ini. Pertama, ada dari sektor batu bara, yaitu PT Bayan Resources Tbk atau BYAN yang ditutup menguat 0,59 persen ke 67.700 pekan lalu. Hary memproyeksi BYAN bisa tembus hingga 70.225.
Lalu, ada dari saham pertambangan, yakni PT Vale Indonesia Tbk atau INCO yang menguat 1,12 persen ke 6.800 pada pekan lalu. Hary memprediksi INCO bisa menyentuh 7.225.
Terakhir, ada PT Bumi Resources Tbk alias BUMI yang ditutup menguat 14,11 persen ke level 186 pada minggu lalu. Hary memproyeksi BUMI bisa menembus 226.