Lee-Su Jin, Eks Cleaning Service Sukses Berharta Rp31 T dari Korsel
Agus Triyono | CNN Indonesia
Minggu, 23 Okt 2022 09:31 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Lee-Su Jin, seorang mantan cleaning service hotel kini sukses dan berharta Rp31 triliun. Ia gigih meskipun hidup dalam kemiskinan. (CNNIndonesia/ Basith Subastian).
Jakarta, CNN Indonesia --
Perjalanan hidup seseorang tidak ada satu pun yang bisa menebak. Termasuk pula yang dialami oleh Lee-Su Jin.
Bagaimana tidak. Di tengah kisah masa lalunya yang pernah bekerja sebagai seorang petugas kebersihan alias cleaning service hotel, ia kini menjelma menjadi seorang triliuner.
Berdasarkan data Forbes Juni 2022 lalu, kekayaan bersih Lee-Su Jin dan keluarganya tembus US$ 2 miliar. Kalau dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp15.621 per dolar AS, kekayaan itu mencapai Rp31,24 triliun.
Lalu siapa dan bagaimana Lee-Su Jin bisa mendapatkan kekayaan dengan latar belakang seperti itu?
Mengutip berbagai sumber, Lee-Su Jin lahir pada Februari 1978. Ia sebenarnya tak punya latar belakang atau darah orang kaya. Ia merupakan seorang yatim piatu yang terbiasa hidup dalam kemiskinan sejak kecil.
Untuk bisa bertahan hidup, ia harus pindah tempat tinggal dari satu kerabat ke kerabat lain. Meskipun demikian, kemiskinan tidak mematahkan semangatnya.
Kehidupannya yang serba kekurangan itu justru melecut Lee untuk bekerja tanpa kenal lelah supaya nasibnya bisa berubah. Ia pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga, bell boy, tukang parkir dari jam 10 pagi sampai 1 pagi.
Meskipun sibuk bekerja, ia tak pernah melupakan pentingnya pendidikan. Ia tetap rajin belajar sambil bekerja.
Karena kerajinannya itulah, Lee-Su Jin berhasil menyelesaikan studinya di Universitas Nasional Kongju, Korea Selatan dan meraih gelar sarjana teknik. Ilmu itulah yang kemudian ia pakai untuk bekerja di sebuah perusahaan lokal di negaranya.
Dari kerja itulah, Lee-Su Jin berhasil mengumpulkan 40 juta won. Uang itu kemudian ia investasikan di saham dan pasar lelang real estat.
Namun sayang, investasinya gagal total. Lee-Su Jin bangkrut.
Namun, kejatuhan itu tak lantas membuatnya patah arang. Ia tetap tegar.
Tak ingin terus meratapi kegagalan investasinya, Lee-Su Jin kemudian bekerja di sebuah hotel. Kerajinannya dalam menjalankan pekerjaan itu membuatnya meraih karir gemilang.
Lee mendapatkan promosi dan mendapatkan kenaikan gaji jadi 2,5 juta won. Gaji itu lebih tinggi dari rata-rata gaji pekerja hotel saat itu.
Penghasilan itu sedikit demi sedikit ia tabung. Sampai setelah terkumpul 50 juta won, Lee-Su Jin banting setir.
Tanpa bekal ilmu yang memadai, ia memberanikan diri membuka usaha bisnis salad.
"Semuanya mulai dari pemasaran hingga penetapan harga itu murni dari imaginasi bukan ilmu atau analisis pasar dan konsumen. Karena itulah kemudian saya gagal lagi," katanya seperti dikutip dari Koreaherald.
Kegagalan itu memang sempat membuatnya depresi. Tapi lagi-lagi ia berhasil mengatasi depresi itu setelah mengingat usianya baru 27 tahun.
Menurut Lee-Su Jin, ia masih memiliki waktu panjang untuk mewujudkan mimpinya. Jadi, tidak ada gunanya katanya, meratapi kegagalan.
Dengan pemahaman itu, Lee-Su Jin memutuskan untuk memulai semuanya dari nol lagi. Ia kembali bekerja di hotel. Di kesempatan kerja yang kedua inilah ia mulai mempelajari seluk beluk bisnis hotel.
Maklum, saat itu ia mengerjakan semua tugas mulai dari pergantian seprei, bekerja di meja depan, parkir valet dan lain sebagainya sendiri.
Di sela pekerjaannya itu, ia kemudian membuat forum online di mana dia akan menyimpan berbagai buku harian dengan pekerja hotel lainnya.
Forum itu tumbuh besar dengan anggota melampaui 10 ribu orang dalam waktu singkat. Melihat potensi bisnis yang besar dari jejaring itulah, pada 2005 Lee-Su Jin kemudian terjun ke bisnis konsultan hotel yang menawarkan informasi dan saran kepada mereka yang ingin memulai bisnis motel dan menyediakan data yang relevan.
Bisnis Lee tumbuh besar. Ia kemudian menerima tawaran untuk mengakuisisi komunitas online terbesar ketiga untuk berbagi informasi tentang hotel dan juga memulai situs web microblogging.
Situs ini tumbuh. Lee-Su Jin kemudian meningkatkan situsnya, mempekerjakan perancang dan pengembang web baru.
Ia juga membuat platform periklanan online supaya pemilik hotel bisa menarik tamu baru. Dari sinilah kemudian lahir aplikasi pemesanan hotel cinta di Korea Selatan yang bernama Yanolja.
Aplikasi ini menyasar dua segmen utama; pasangan muda dan pelancong beranggaran terbatas yang ingin menginap di hotel dalam jangka pendek.
Pangsa pasar pasangan anak muda dipilih karena di Korea Selatan, kelompok ini biasanya tinggal di rumah sampai menikah. Setelah menikah, mereka biasanya menjadikan hotel cinta sebagai tempat untuk melaksanakan hasrat.
Sementara itu untuk pelancong, Lee-Su Jin mengatakan pasar itu dipilih karena industri perjalanan dan pariwisata Korea Selatan kini telah menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Strategi yang dijalankannya berhasil.
Yanolja berhasil tumbuh besar. Aplikasi ini sudah menampung lebih dari 20 ribu akomodasi mitra hotel di seluruh Korea Selatan, atau hampir setengah dari sekitar 46 ribu penginapan dan wisma yang terdaftar di Negeri Ginseng itu.
Dengan raihan itu, Yanolja berhasil menorehkan pendapatan tahunan lebih dari US$3,6 miliar. Kinerja moncer Yanolja itu menarik investor.
Mereka berhasil mendapatkan suntikan hampir US$ 242 juta dari investor, seperti; Dana Kekayaan Negara Singapura (GIC) dan Booking Holdings, perusahaan AS di belakang situs perjalanan seperti Booking.com.
Puncaknya kegemilangan Yanolja terjadi pada Juni 2019. Yanolja berhasil menjadi unicorn ke delapan Korea Selatan setelah mendapatkan pendanaan US$1 miliar. Sukses itu tak lantas membuat Lee-Su Jin berhenti.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia dan Yanolja mengembangkan bisnis sistem manajemen hotel berbasis cloud yang membantu pengelola mengelola pemesanan kamar dan analitik data besar. Dengan bantuan itu, pemilik hotel bisa memprediksi perilaku pelanggan.
Pendapatan bisnis cloud ini berkontribusi 20,5 persen terhadap total penghasilan Yanolja pada kuartal I 2022, naik sekitar 8,5 persen dibandingkan periode sama pada 2021 lalu.
Kesuksesan inilah yang membawanya menjadi salah satu orang terkaya di Korea Selatan.
Perjalanan hidup seseorang tidak ada satu pun yang bisa menebak. Termasuk pula yang dialami oleh Lee-Su Jin.
Bagaimana tidak. Di tengah kisah masa lalunya yang pernah bekerja sebagai seorang petugas kebersihan alias cleaning service hotel, ia kini menjelma menjadi seorang triliuner.
Berdasarkan data Forbes Juni 2022 lalu, kekayaan bersih Lee-Su Jin dan keluarganya tembus US$ 2 miliar. Kalau dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp15.621 per dolar AS, kekayaan itu mencapai Rp31,24 triliun.
Lalu siapa dan bagaimana Lee-Su Jin bisa mendapatkan kekayaan dengan latar belakang seperti itu?
Mengutip berbagai sumber, Lee-Su Jin lahir pada Februari 1978. Ia sebenarnya tak punya latar belakang atau darah orang kaya. Ia merupakan seorang yatim piatu yang terbiasa hidup dalam kemiskinan sejak kecil.
Untuk bisa bertahan hidup, ia harus pindah tempat tinggal dari satu kerabat ke kerabat lain. Meskipun demikian, kemiskinan tidak mematahkan semangatnya.
Kehidupannya yang serba kekurangan itu justru melecut Lee untuk bekerja tanpa kenal lelah supaya nasibnya bisa berubah. Ia pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga, bell boy, tukang parkir dari jam 10 pagi sampai 1 pagi.
Meskipun sibuk bekerja, ia tak pernah melupakan pentingnya pendidikan. Ia tetap rajin belajar sambil bekerja.
Karena kerajinannya itulah, Lee-Su Jin berhasil menyelesaikan studinya di Universitas Nasional Kongju, Korea Selatan dan meraih gelar sarjana teknik. Ilmu itulah yang kemudian ia pakai untuk bekerja di sebuah perusahaan lokal di negaranya.
Dari kerja itulah, Lee-Su Jin berhasil mengumpulkan 40 juta won. Uang itu kemudian ia investasikan di saham dan pasar lelang real estat.
Namun sayang, investasinya gagal total. Lee-Su Jin bangkrut.
Namun, kejatuhan itu tak lantas membuatnya patah arang. Ia tetap tegar.
Tak ingin terus meratapi kegagalan investasinya, Lee-Su Jin kemudian bekerja di sebuah hotel. Kerajinannya dalam menjalankan pekerjaan itu membuatnya meraih karir gemilang.
Lee mendapatkan promosi dan mendapatkan kenaikan gaji jadi 2,5 juta won. Gaji itu lebih tinggi dari rata-rata gaji pekerja hotel saat itu.
Penghasilan itu sedikit demi sedikit ia tabung. Sampai setelah terkumpul 50 juta won, Lee-Su Jin banting setir.
Tanpa bekal ilmu yang memadai, ia memberanikan diri membuka usaha bisnis salad.
"Semuanya mulai dari pemasaran hingga penetapan harga itu murni dari imaginasi bukan ilmu atau analisis pasar dan konsumen. Karena itulah kemudian saya gagal lagi," katanya seperti dikutip dari Koreaherald.
Kegagalan itu memang sempat membuatnya depresi. Tapi lagi-lagi ia berhasil mengatasi depresi itu setelah mengingat usianya baru 27 tahun.
Menurut Lee-Su Jin, ia masih memiliki waktu panjang untuk mewujudkan mimpinya. Jadi, tidak ada gunanya katanya, meratapi kegagalan.
Dengan pemahaman itu, Lee-Su Jin memutuskan untuk memulai semuanya dari nol lagi. Ia kembali bekerja di hotel. Di kesempatan kerja yang kedua inilah ia mulai mempelajari seluk beluk bisnis hotel.
Maklum, saat itu ia mengerjakan semua tugas mulai dari pergantian seprei, bekerja di meja depan, parkir valet dan lain sebagainya sendiri.
Di sela pekerjaannya itu, ia kemudian membuat forum online di mana dia akan menyimpan berbagai buku harian dengan pekerja hotel lainnya.
Forum itu tumbuh besar dengan anggota melampaui 10 ribu orang dalam waktu singkat. Melihat potensi bisnis yang besar dari jejaring itulah, pada 2005 Lee-Su Jin kemudian terjun ke bisnis konsultan hotel yang menawarkan informasi dan saran kepada mereka yang ingin memulai bisnis motel dan menyediakan data yang relevan.
Sukses Gandeng 20 Ribu Mitra Hotel di Korsel dan Jadi Unicorn
Lee-Su Jin sukses membuat Yanolja menjadi salah satu unicorn terbesar di Korea Selatan. (Istockphoto/DragonImages).
Bisnis Lee tumbuh besar. Ia kemudian menerima tawaran untuk mengakuisisi komunitas online terbesar ketiga untuk berbagi informasi tentang hotel dan juga memulai situs web microblogging.
Situs ini tumbuh. Lee-Su Jin kemudian meningkatkan situsnya, mempekerjakan perancang dan pengembang web baru.
Ia juga membuat platform periklanan online supaya pemilik hotel bisa menarik tamu baru. Dari sinilah kemudian lahir aplikasi pemesanan hotel cinta di Korea Selatan yang bernama Yanolja.
Aplikasi ini menyasar dua segmen utama; pasangan muda dan pelancong beranggaran terbatas yang ingin menginap di hotel dalam jangka pendek.
Pangsa pasar pasangan anak muda dipilih karena di Korea Selatan, kelompok ini biasanya tinggal di rumah sampai menikah. Setelah menikah, mereka biasanya menjadikan hotel cinta sebagai tempat untuk melaksanakan hasrat.
Sementara itu untuk pelancong, Lee-Su Jin mengatakan pasar itu dipilih karena industri perjalanan dan pariwisata Korea Selatan kini telah menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Strategi yang dijalankannya berhasil.
Yanolja berhasil tumbuh besar. Aplikasi ini sudah menampung lebih dari 20 ribu akomodasi mitra hotel di seluruh Korea Selatan, atau hampir setengah dari sekitar 46 ribu penginapan dan wisma yang terdaftar di Negeri Ginseng itu.
Dengan raihan itu, Yanolja berhasil menorehkan pendapatan tahunan lebih dari US$3,6 miliar. Kinerja moncer Yanolja itu menarik investor.
Mereka berhasil mendapatkan suntikan hampir US$ 242 juta dari investor, seperti; Dana Kekayaan Negara Singapura (GIC) dan Booking Holdings, perusahaan AS di belakang situs perjalanan seperti Booking.com.
Puncaknya kegemilangan Yanolja terjadi pada Juni 2019. Yanolja berhasil menjadi unicorn ke delapan Korea Selatan setelah mendapatkan pendanaan US$1 miliar. Sukses itu tak lantas membuat Lee-Su Jin berhenti.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia dan Yanolja mengembangkan bisnis sistem manajemen hotel berbasis cloud yang membantu pengelola mengelola pemesanan kamar dan analitik data besar. Dengan bantuan itu, pemilik hotel bisa memprediksi perilaku pelanggan.
Pendapatan bisnis cloud ini berkontribusi 20,5 persen terhadap total penghasilan Yanolja pada kuartal I 2022, naik sekitar 8,5 persen dibandingkan periode sama pada 2021 lalu.
Kesuksesan inilah yang membawanya menjadi salah satu orang terkaya di Korea Selatan.