Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 122,36 poin atau plus 1,76 persen ke level 7.089 pada perdagangan pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp105,29 miliar selama sepekan.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham tercatat menguat tiga kali dan melemah dua kali. Secara total, performa indeks saham menguat 0,62 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Aulia Noviana Utami Putri mengatakan rata-rata nilai transaksi harian bursa menurun 2,37 persen dari Rp13,35 triliun menjadi Rp13,03 triliun pada pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan rata-rata frekuensi transaksi harian bursa meningkat sebesar 8,97 persen menjadi 1.302.824 transaksi selama sepekan dari 1.195.583 transaksi pada pekan sebelumnya.
Rata-rata volume transaksi bursa juga turut meningkat 3,12 persen dari 20,651 miliar saham menjadi 21,295 miliar saham.
"Kapitalisasi pasar bursa juga mengalami kenaikan 1,35 persen dari Rp9.342 triliun menjadi Rp9.469 triliun pada pekan sebelumnya," katanya seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (11/11).
Pelatih investasi saham dan derivatif sekaligus CEO Akela Trading System Hary Suwanda memperkirakan IHSG menguat kembali pekan ini dengan rentang pergerakan di level support 6.964 dan resistance 7.376.
Menurut Hary, data penurunan inflasi AS menjadi sentimen positif IHSG. Maklum, data inflasi itu semakin memicu optimisme pasar The Fed tak akan agresif menaikkan bunga acuan lagi.
Jika The Fed tidak perlu lagi mempertahankan agresifitasnya, maka Bank Indonesia (BI) pun tidak perlu mengimbangi dengan menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Ia juga menyoroti soal dinamika di dunia kripto, di mana Bitcoin tertekan dan bahkan sempat mencapai level di bawah US$16.000 alias level terendahnya sejak November 2020. Ini terjadi karena kebangkrutan bursa kripto FTX selaku bursa kripto terbesar kedua setelah Binance.
Meski penurunan inflasi AS sempat membuat Bitcoin kembali rebound hingga menembus level US$18 ribu, pada sesi perdagangan hari-hari berikutnya Bitcoin kembali tertekan ke kisaran US$16.700.
Pendapat bahwa Bitcoin adalah The New Gold ternyata terbukti keliru karena sejak 4 November harga emas justru mengalami kenaikan signifikan dari kisaran US$1.628 menjadi US$1.771 per troy ons.
"Investor jangka panjang tetap tenang dan tetap hold terhadap investasinya. Trader jangka pendek, disiplin terhadap money management dan trading plan yang sudah dipersiapkan sebelumnya," katanya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (12/11).
Hary menyarankan investor untuk memperhatikan sektor pertambangan yang menguat dipicu oleh penguatan harga emas, silver, dan tembaga.
Selain itu, ada juga sektor finansial yang mulai bangkit karena meredanya tekanan inflasi global. Timbul harapan terciptanya iklim kredit yang lebih kondusif dengan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Secara teknikal, Hary merekomendasi saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang tumbuh 6 persen ke posisi 2.120 pada pekan lalu. ANTM diproyeksi bisa menembus 2.280 pekan ini.
Ada juga saham PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) yang menguat 5,88 persen ke level 288 pada pekan lalu. Hary memprediksi IMJS bisa mencapai 324 pada pekan ini.
Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang tumbuh 8,54 persen ke posisi 4.450 pekan lalu juga masuk rekomendasi Hary. MDKA dipercaya bisa menembus 4.890 pada pekan ini.
Saham PT Timah Tbk (TINS) juga direkomendasikan. TINS menguat 2,84 persen ke level 1.450 pekan lalu dan pekan ini diprediksi bakal mencapai 1.560.
Terakhir, ada saham dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang tumbuh 2,65 persen ke posisi 4.650 pekan lalu. BBRI dipercaya bisa bergerak sampai 4.810 pada pekan ini.
Saham Industri Dasar dan Keuangan
Analis juga menyarankan kepada pasar untuk mengoleksi saham sektor industri dasar dan keuangan pada pekan ini. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Oktavianus Audi memproyeksi IHSG pekan ini bergerak lebih volatile dengan penguatan cenderung terbatas. Rentang pergerakan ada pada support 6.970 dan resistance 7.180.
Penurunan inflasi AS sudah diprediksi dan menurutnya ini bakal menjadi sentimen positif untuk pasar karena dapat memberikan dampak untuk The Fed agar lebih dovish. Setidaknya kecenderungan untuk menaikkan suku bunga bisa lebih melambat.
Sementara dari dalam negeri, rilis data neraca dagang Oktober diperkirakan naik menjadi US$5,1 miliar dari bulan sebelumnya yang sebesar US$4,99 miliar akibat terdorong menguatnya permintaan global serta harga komoditas yang masih tinggi. Ini merupakan sentimen positif sekaligus yang membuat pertumbuhan PDB Indonesia masih di atas 5 persen.
Neraca transaksi berjalan kuartal III 2022 juga diperkirakan tumbuh positif sebesar US$3,2 miliar, meski turun dari kuartal sebelumnya sebesar US$3,9 miliar. Ini merupakan sentimen positif untuk IHSG karena ketahanan ekonomi Indonesia saat ini akan menjadi nilai sangat baik di mata global.
[Gambas:Video CNN]
Kendati demikian, BI diperkirakan masih akan menaikkan bunga acuan menjadi 5 persen pada pertemuan bulan ini. Oktavianus mengatakan inflasi inti Indonesia yang masih mengalami kenaikan menjadi 3,31 persen meski inflasi keseluruhan mengalami penurunan menjadi 5,71 persen yoy menjadi salah satu sentimennya.
"Untuk pekan ini, investor masih dapat memanfaatkan momentum positif dan rilis beberapa data ekonomi yang sudah terefleksikan di pasar. Tergambarkan sentimen positif juga pada penguatan nilai tukar rupiah serta yield obligasi pemerintah 10 tahun yang cenderung turun," katanya.
Oktavianus menyarankan sektor yang harus dilirik adalah basic industry karena permintaan global yang masih tinggi terlihat dari harga komoditas yang menguat. Selain itu, ada juga sektor finance yang merupakan sektor sensitif terhadap suku bunga.
Secara teknikal, ia merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menguat 6 persen ke level 2.120 pada pekan lalu. ANTM dipercaya bisa menembus level 2.280 pada pekan ini.
Lalu, ada saham PT Timah Tbk (TINS) yang tumbuh 2,84 persen ke posisi 1.450 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi TINS bakal bergerak hingga 1.560.
Terakhir, ada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menguat 3,22 persen ke level 10.425 pada pekan lalu. BMRI dipercaya bisa menembus 11.000 pada pekan ini.