Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah mengeluarkan aturan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) akhir November lalu. Kenaikan UMP tersebut dibatasi maksimal 10 persen.
Berdasarkan realisasinya, kenaikan rata-rata UMP 2023 yang sudah ditetapkan seluruh Gubernur sebesar 7,5 persen. Kenaikan upah ini sejalan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 18 tahun 2022 tentang Penetapan UMP 2023.
Sebagian buruh bersuara persentase kenaikan tak terlalu signifikan. Misalnya, UMP DKI yang naik 5,6 persen dan Banten naik 6,4 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, nasi sudah jadi bubur. Sekarang tinggal mengatur dompet baik-baik agar kegiatan belanja barang dan kebutuhan tidak tergerus inflasi.
Kendalikan Gaya Hidup
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menyebutkan gaya hidup adalah faktor yang paling bisa ditekan untuk menghemat pengeluaran. Menurut dia, sejumlah gaya hidup yang bisa disesuaikan kembali adalah pilihan makan, jajan, fesyen, termasuk sarana rekreasi.
"Mungkin, kita makannya biasa di warteg, tapi kita jadi sering minum kopi kekinian lah, itu yang tanpa disadari bikin pengeluaran kita makin mahal," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (2/12).
Selain itu, lanjutnya, pilihan rekreasi dan jajan harus disesuaikan dengan kemampuan. Termasuk juga menghindari utang konsumsi seperti penggunaan paylater untuk berbelanja barang-barang konsumtif.
Konsisten Menabung
Andy menjelaskan seberapa besar gaji yang diterima, konsisten menabung harus diterapkan. Setidaknya, menyisihkan 10 persen dari pendapatannya. Tabungan ini justru seharusnya jadi bagian dari prioritas pengeluaran.
"Pengeluaran untuk menabung, idealnya 10 persen dari penghasilan kita. Jadi, di awal disisipkan segera untuk pengeluaran bersifat wajib dan penting. Lalu, jangan lupa menabung. Selebihnya kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari," paparnya.
Kurangi Konsumsi Tersier
Perencana Keuangan menyarankan pekerja untuk mengendalikan gaya hidup di tengah kenaikan pas-pasan UMP dan lonjakan inflasi. (REUTERS/Willy Kurniawan).
Kurangi Konsumsi Tersier
Master Financial Planner Safir Senduk mengungkapkan banyak masyarakat Indonesia masih salah memilah kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Safir menyebut salah satu kebutuhan yang bisa ditekan adalah pengeluaran untuk rokok.
"Pengeluaran itu ada tiga, wajib, butuh, dan ingin ya. Rokok itu masuk gaya hidup, masuknya tersier, tapi sekali lagi salah paham orang itu menganggap rokok kayak makanan. Jadi nggak dianggep tersier lagi," tutur Safir saat dihubungi.
Tingkatkan Skill dan Pendapatan
Menurut Safir, paling penting bagi para pekerja adalah meningkatkan skills (keahlian) dan tidak bergantung pada pendapatan tunggal. Terlebih, saat ini banyak pekerjaan yang menghasilkan pendapatan lebih yang berangkat dari hobi.
Safir memberikan contoh bagi orang yang gemar bermain TikTok, bisa mendapatkan penghasilan tambahan sebagai afiliator untuk TikTok Shop. Hal ini bisa dilakukan tanpa keahlian khusus yang bermula dari kegemaran.
"Kuncinya sebetulnya tingkatkan skill, jadi dia bisa dapet pendapatan lain di luar penghasilan UMP yang dia dapet. Saran aku jangan mengandalkan pada satu income," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]