Harga Minyak Lesu ke US$79,48 per Barel Imbas Kekhawatiran Resesi AS

tim | CNN Indonesia
Kamis, 19 Jan 2023 08:30 WIB
Harga minyak turun sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) disebabkan oleh tingkat badai PHK dan kekhawatiran resesi AS. Harga minyak turun sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) disebabkan oleh tingkat badai PHK dan kekhawatiran resesi AS. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak turun sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Penurunan disebabkan oleh tingkat badai PHK dan kekhawatiran resesi AS yang lebih besar ketimbang optimisme pemulihan ekonomi China.

Mengutip Reuters, Kamis (19/1), harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 70 sen atau setara 0,9 persen ke posisi US$79,48 per barel. Sedangkan harga minyak mentah berjangka Brent melemah 94 sen atau 1,1 persen ke level US$84,98 per barel.

Pasar awalnya bereaksi positif terhadap data AS yang menunjukkan penjualan ritel dan produksi manufaktur turun lebih dari perkiraan pada Desember 2022. Hal itu dibarengi harapan The Fed akan melonggarkan kenaikan suku bunga.

Namun, komentar hawkish dari pejabat The Fed memicu kekhawatiran bahwa Bank Sentral AS  mungkin tidak bakal menghentikan kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Optimisme pasar sirna ketika Presiden The Fed St. Louis James Bullard dan Presiden The Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan suku bunga perlu naik melampaui 5 persen untuk mengendalikan inflasi AS.

Di lain sisi, badai PHK kembali berlanjut. Raksasa teknologi Microsoft dilaporkan siap melakukan PHK terhadap 10 ribu hingga 11 ribu karyawannya. Hal tersebut turut menjadi sentimen negatif.

"Datang di belakang pelemahan dalam penjualan ritel, penurunan tajam dalam produksi industri dan berita lebih banyak pemutusan hubungan kerja menambah kekhawatiran AS sudah berada dalam resesi," catat Analis ING.

Sementara itu, laporan data ekonomi China setelah pencabutan kebijakan nol-covid menimbulkan harapan. Bahkan, optimisme pemulihan ekonomi China sempat mendongkrak harga minyak.

Kendati, kenaikan harga tersebut tidak bertahan lama. Padahal, menurut Badan Energi Internasional (IEA), pencabutan pembatasan nol-covid China menimbulkan optimisme akan meningkatkan permintaan minyak global ke rekor tertinggi tahun ini.

[Gambas:Video CNN]



(skt/dzu)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER