Jakarta, CNN Indonesia -- "Dipilih-dipilih, 3 biji Rp50 ribu."
"Serba Rp20 ribu."
"Mulai dari Rp5.000."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitulah sahut-sahutan suara yang langsung terdengar saat menginjakkan kaki di Lantai 2 Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Kamis (16/3). Para penjual berlomba menarik hati calon pembeli yang sedang melihat-lihat dan bahkan berburu pakaian bekas impor.
Salah satu suara terdengar dari Ahmad Dahlan. Pedagang pakaian bekas berusia 49 tahun itu tiada lelah berteriak untuk memancing pembeli datang ke lapaknya.
Ia khusus menjajakan jaket bekas impor asal Korea dan Jepang. Ia bercerita mengeluarkan modal Rp6 juta untuk membeli satu bal berisi 250 jaket tipis dari sebuah agen di Pasar Senen.
Ia jual dengan harga yang bervariasi bergantung kualitas dan kondisi jaket. Yang pasti, dari modal itu, ia mengklaim berhasil mendapatkan penghasilan Rp1,5 juta per hari dengan keuntungan di kisaran Rp300 ribu-Rp400 ribu per hari.
Penghasilan tersebut ia rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Segendang sepenarian dengan Ahmad Dahlan, teriakan nyaring menjajakan pakaian bekas juga terdengar dari mulut Marpus. Ia berteriak menjajakan atasan, blazer wanita, bra, celana dalam bekas impor asal Korea dan Jepang. Ia bercerita sudah menggeluti pekerjaan itu sejak 1995 lalu.
Berjualan pakaian bekas impor ia pilih karena memang banyak penggemar dan peminatnya. Ia bilang untuk memenuhi minat itu, ia biasa belanja baju bekas impor dalam satuan per bal dengan berat 100 kilogram.
Modal yang ia keluarkan untuk membeli pakaian bekas itu bervariasi. Untuk modal atasan bekas impor berisi 400 lembar, modal yang ia keluarkan Rp5 juta per bal.
Sementara untuk pakaian dalam bra dan celana dalam, modal yang harus ia keluarkan Rp17 juta dan Rp11 juta dengan jumlah yang lebih banyak dari atasan.
Ia mengatakan pembelian barang dengan sistem per bal sebenarnya membawa risiko; tidak semua barang dalam keadaan baik dan layak dijual. Risiko itu mau tak mau diambilnya dan semua pedagang pakaian bekas impor.
Ia menolak memberi tahu berapa keuntungan yang didapat dari penjualan pakaian bekas impor tersebut. Ia hanya mengatakan bahwa pakaian bekas yang ia jual dibanderol dengan harga Rp20 ribu untuk atasan dan Rp50 ribu untuk blazer.
"Yang penting cukup untuk makan lah," katanya.
Hal senada juga disampaikan pedagang lain, Dica. Pria yang masih berusia 18 tahun ini spesialis pedagang celana impor bekas. Pelbagai jenis bahan, ukuran, dan model celana ia gantung rapi sesuai kategori agar memudahkan pembeli memilih.
Dica mengatakan barang yang dia jual berasal dari Korea dan Jepang. Harga modal yang mesti dikeluarkan untuk celana bahan Rp5 juta dengan isi 150-200 buah.
Celana bahan dan jeans ia jual dengan harga Rp35 ribu. Lalu, celana corduroy ia jual dengan harga di atas Rp100 ribu.
Kehadiran penjual pakaian impor bekas itu pun cukup diminati oleh Wanda.
Baginya, thrift atau pakaian bekas impor merupakan opsi terbaik dalam memenuhi kebutuhan sandang. Pasalnya, meski bekas, tapi secara kualitas tak kalah dan bahkan kalau teliti mencari, kualitasnya lebih bagus dari barang baru.
Tak hanya itu, untuk urusan harga, pakaian impor bekas cukup bersahabat di kantong. Kisaran harga produk yang kerap dibeli Wanda berkisar pada Rp50 ribu per 3 buah dan Rp100 ribu per 3 buah. Untuk produk jaket, Wanda biasa membeli dengan harga Rp50 ribu ke atas.
Karena kondisi itulah, ia menjadi salah satu pemburu pakaian impor bekas sejak 2020. Ia biasa membeli langsung di Pasar Senen Blok III.
Intensitas pembeliannya pun termasuk cukup sering.
"Saya suka beli baju thrift dibanding beli baju baru karena harganya yang murah tapi bisa dapat banyak dan tetap bagus kualitasnya. Terus juga kalau beli thrift kan mengurangi limbah fashion. Jadi itu kenapa saya suka thrift," terang Wanda.
Kegemaran sama juga dimiliki Asep Rosidin (30), karyawan swasta. Ia sudah berbelanja produk pakaian impor bekas sejak 2005-2006.
Kala itu, dia masih duduk di bangku SMA. Aros biasa membeli pakaian impor bekas secara langsung di Pasar Senen atau di salah satu toko di kawasan Condet, Jakarta Timur.
Aros menilai lebih baik membeli pakaian impor bekas tapi original ketimbang pakaian baru tapi tiruan.
Musuh UKM RI
Membanjirnya pakaian impor bekas menjadi musuh UKM di dalam negeri. (CNN Indonesia/Poppy Fadhilah).
Meski menjadi sahabat bagi beberapa kalangan, penjualan pakaian bekas impor ternyata dianggap merugikan, terutama bagi pelaku UKM RI. Pasalnya, harga yang murah membuat produk UKM dalam negeri menjadi kalah bersaing.
Presiden Jokowi karena itu memerintahkan jajarannya untuk memberantas peredaran pakaian impor bekas.
"Sudah saya perintahkan untuk mencari betul dan sehari dua hari sudah banyak yang ketemu. Itu mengganggu industri tekstil di dalam negeri. Sangat mengganggu. Yang namanya impor pakaian bekas mengganggu," ujar Jokowi saat menghadiri Pembukaan Business Matching Produk Dalam Negeri, Rabu (15/3).
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki pakaian bekas sebenarnya tak boleh masuk atau diimpor oleh Indonesia.
Larangan itu merujuk pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 40 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.
Masalah legalitas itulah yang kemudian mendorongnya untuk meminta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menertibkan impor pakaian bekas. Teten berharap DJBC intensif melakukan penindakan terhadap impor baju bekas di jalur-jalur tikus maupun pelabuhan kecil.
Menurutnya jika usaha thrifting pakaian impor ilegal terus berlangsung, maka jumlah pengangguran bakal bertambah imbas kurangnya peminat produk dalam negeri. Lebih lanjut, hal ini bakal berdampak pada penurunan pertumbuhan industri pakaian dalam negeri.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatakan sebelum diminta sebenarnya mereka sudah menertibkan impor pakaian bekas. Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nirwala Dwi Heryanto mengatakan penertiban bisa dilihat dari keberhasilan tahun kemarin.
[Gambas:Photo CNN]
"Sepanjang 2022 Bea Cukai telah melakukan penindakan terhadap impor pakaian bekas illegal melalui laut dan darat sebanyak 234 kali dengan perkiraan nilai barang sebesar Rp24,21 miliar," katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Kamis (16/3) ini.
Ia menambahkan penindakan itu mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan 2021 yang hanya 165 kali dengan perkiraan nilai barang sebesar Rp17,42 milliar.
Ia mengatakan Ditjen Bea dan Cukai sudah mengidentifikasi titik rawan penyelundupan pakaian bekas impor dan modus yang kerap digunakan oleh penyeludup.
Heryanto mengatakan untuk titik rawan penyeludupan ada dua daerah. Pertama, pesisir timur Sumatera, Batam, Kepulauan Riau. Titik kedua, perbatasan Kalimantan, utamanya di Kalimantan Barat seperti Jagoi Babang, Sintete, Entikong.
Ia mengatakan modus yang digunakan pelaku penyelundupan di dua titik tersebut berbeda. Untuk yang di titik rawan pertama, penyeludupan dilakukan dengan menyembunyikan pakaian bekas impor pada barang lain (undeclare).
Sementara untuk titik kedua dilakukan dengan modus menyembunyikan pakaian bekas pada barang Pelintas batas, barang bawaan penumpang, atau menggunakan jalur-jalur kecil melewati hutan yang sulit terdeteksi.
[Gambas:Video CNN]
Menyikapi rencana penertiban itu, Ahmad menyampaikan bahwa para pedagang pakaian impor bekas sangat keberatan. Pasalnya, pedagang pakaian impor bekas yang ia klaim sudah mencapai ribuan orang akan menjadi korban.
"Seandainya aturan ini kita ikuti, maka kami menjadi pengangguran. Apa pemerintah pernah memikirkan? Apakah memberi kami solusi? Sama sekali tidak. Jadi pemerintah itu toling dilihat juga dari segi itu. Kami sebagai pedagang menjadi korban dari hal-hal seperti ini," jelas Ahmad mewakili para pedagang.
Sebagai rakyat, Ahmad meminta perhatian pemerintah kepada pihaknya atas hal ini. Ia juga meminta pemerintah mau duduk bersama dengan pedagang untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ya harus, duduk bersama. Pemerintah enggak bisa hanya begitu saja dong. Kami juga warga. Harus duduk, apa solusinya buat kami? Ini enggak bakalan selesai kalau tidak akar masalahnya diselesaikan," imbuh Ahmad.