Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 56,39 poin atau minus 0,82 persen ke level 6.787 pada perdagangan akhir pekan lalu. Investor melakukan transaksi sebesar Rp9,99 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,1 miliar saham.
Dalam rentang Selasa-Jumat pekan lalu, indeks saham sudah melemah sebanyak tiga kali dan menguat satu kali. Sementara, performa indeks melemah sebesar 2,27 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono memaparkan dalam sepekan data perdagangan saham mayoritas ditutup negatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tercatat, nilai kapitalisasi pasar BEI sampai dengan akhir pekan lalu adalah sebesar Rp9.624,4 triliun. Nilai tersebut turun 1,69 persen dari Rp9.790,231 triliun pada pekan sebelumnya.
Selanjutnya, rata-rata volume transaksi harian bursa melemah 4,17 persen menjadi 15,015 miliar saham. Lalu, rata-rata frekuensi transaksi harian bursa melemah 5,03 persen menjadi 1.275.793.
"Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian bursa berubah sebesar 21,7 persen menjadi Rp10,387 triliun dari Rp13,265 triliun pada pekan yang lalu," terang Yulianto seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (5/5).
Untuk sepekan ke depan, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi IHSG bergerak di rentang support 6.690 dan resistance 6.868. Menurutnya, pergerakan IHSG akan terbebani oleh beberapa sentimen negatif.
Salah satunya, adalah ancaman krisis perbankan di Amerika Serikat (AS). Belakangan, First Republic Bank resmi bangkrut menyusul Silicon Valley Bank (SVB).
Tak hanya itu, kini PacWest Bank pun ikut terancam bangkrut dan sedang menjajaki semua opsi strategis, termasuk menjual perusahaan. Kebangkrutan sejumlah bank tersebut tak lepas dari deposan yang ramai-ramai menarik simpanan mereka.
Hal ini, kata Herditya, turut membuat investor di pasar saham was-was.
"Dari AS masih ada kekhawatiran akan lanjutan krisis perbankan yang belum selesai ditambah perkembangan debt ceiling AS yang belum menemui keputusan," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Minggu (7/5).
Selain itu, Herditya juga mengatakan harga komoditas dunia juga akan turut mempengaruhi pergerakan emiten-emiten di IHSG. Ia menyebut saat ini harga minyak dunia masih naik.
Hal ini kemungkinan akan menguntungkan emiten yang bersangkutan. Hal itu berbeda dengan harga batu bara yang sedang terkoreksi. Herditya menambahkan pada pekan depan investor juga akan menanti sejumlah rilis data ekonomi, seperti cadangan devisa RI, indeks keyakinan konsumen (IKK), dan inflasi AS.
Menurutnya, dengan kondisi yang ia jabarkan di atas, investor dapat melakukan Buy on weakness (BoW) terlebih dahulu. BoW adalah membeli saham di harga rendah, namun berprospek mengalami kenaikan kembali dalam jangka pendek.
Adapun sejumlah saham yang ia rekomendasikan untuk dibeli itu seperti, PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS yang ditutup stagnan pada pekan lalu di posisi 1.750. Herditya memprediksi emiten sektor perbankan itu bisa menyentuh posisi 1.900 pekan ini.
Selanjutnya, PT Ace Hardware Indonesia Tbk atau ACES yang ditutup menguat 1,72 persen ke posisi 472 pada pekan lalu. Di pekan ini, Herditya memprediksi ACES dapat menyentuh level 520.
Kemudian, ia juga merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM yang ditutup melemah 4,23 persen ke posisi 2.040 pada pekan lalu. Ia memprediksi ANTM dapat menyentuh posisi 2.200 pekan ini.
Fenomena Dedolarisasi
Analis menyebut sejumlah investor ikut menyoroti febimena dedolarisasi yang memicu spekulasi di pasar cukup tinggi sehingga mempengaruhi pergerakan saham. ( ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT).
Segendang sepenarian, Ekonom dan Praktisi Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo juga memproyeksi IHSG dalam tren pelemahan dalam sepekan ke depan. Ia karena itu memprediksi indeks saham bergerak di rentang support 6.500 dan resistance 6.875.
Lucky mengatakan pelaku pasar tengah memperhatikan fenomena baru dalam ekonomi global, yakni dedolarisasi. Dedolarisasi adalah upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang Negeri Paman Sam, dolar AS dalam transaksi dagang.
Tercatat, sejumlah negara, seperti Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan (BRICS) serta ASEAN pun saat ini sudah melakukan hal tersebut di tengah tren kenaikan inflasi AS. Menurut, Lucky hal ini membuat investor cenderung wait and see juga di pasar saham.
"Itu yang menyebabkan mengapa tingkat spekulasi pasar cukup tinggi," katanya.
Untuk di Indonesia sendiri, langkah dedolarisasi baru dimulai dengan kerja sama yang ditempuh oleh Bank Indonesia (BI) dengan China dan Korea Selatan melalui Local Currency Settlement (LCS) atau penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal.
Meski demikian, menurutnya mayoritas ekspor impor RI masih menggunakan dolar AS. Hal ini masih menjadi kekhawatiran investor di pasar saham.
[Gambas:Photo CNN]
"Sehingga pelaku pasar melihat bahwa IHSG cenderung dihindari untuk sementara waktu dan potensinya cenderung melemah," imbuh Lucky.
Dalam kondisi ini, ia pun menyarankan pelaku pasar untuk rebalancing portofolio saham. Lucky menilai jika setiap saham dari emiten yang dimiliki melemah di atas 7 persen, sebaiknya dilepas saja.
Adapun sejumlah saham yang menurutnya menarik untuk dikoleksi, seperti PT Astra Motor Tbk atau ASII yang pada pekan lalu ditutup menguat 1,69 persen ke level 6.150.
Kemudian, Lucky juga merekomendasikan saham Gajah Tunggal Tbk atau GJTL yang menguat 1,31 persen ke posisi 775 pada pekan lalu.
Selanjutnya, ada PT Adaro Energy Tbk atau ADRO yang melemah 4,45 persen ke posisi 2.790 pada pekan lalu.
Lucky juga merekomendasikan saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITMG yang melemah 4,89 persen ke posisi 29.650 pada pekan lalu.
[Gambas:Video CNN]