Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan Tesla milik Elon Musk tak kunjung berinvestasi di Indonesia hingga saat ini. Padahal pemerintah telah 'merayu' miliarder nomor wahid itu sejak beberapa tahun terakhir.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan telah bertemu dengan Musk pada Mei 2022 lalu. Saat itu, Jokowi didampingi Presiden Direktur Bakrie & Brother Anindya Novyan Bakrie dan Duta Besar Indonesia Untuk AS Rosan Roeslani.
Melalui akun LinkedIn-nya, Anindya mengatakan pertemuan itu bertujuan meyakinkan Tesla untuk bekerja sama dengan Indonesia terkait penyediaan dan pemrosesan nikel sebagai bahan baterai kendaraan listrik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak berhenti sampai di situ, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga berkali-kali mengatakan akan bertemu Musk guna meminta kejelasan investasi pabrikan mobil listrik di Indonesia.
Terbaru, Luhut mengatakan akan bertemu Musk bulan depan. Pertemuan itu untuk menyikapi investasi Tesla di Malaysia yang sedang ramai dibahas dalam beberapa waktu terakhir.
"Belum ada Tesla juga (di Malaysia). Saya mau ketemu Elon nanti (tanggal) 2 bulan depan (Agustus)," kata Luhut di Menara Danareksa, Jakarta Pusat, Senin (24/7).
"Ya itu, kita mau finalkan. Makanya tadi pertanyaan dia itu berkaitan dengan itu," imbuh Luhut.
Sebelum menyasar Malaysia, Tesla juga menyatakan berminat berinvestasi di India. Kabar itu ia sampaikan usai bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi.
Menurutnya, India sangat bagus untuk investasi energi surya. Ia pun berencana mengunjungi India tahun depan untuk menjajaki investasi Tesla.
"Kami akan melakukannya sesegera mungkin. Kami tidak ingin terburu-buru pada pengumuman, tetapi kemungkinan akan ada investasi yang signifikan dalam hubungan dengan India," katanya.
Lantas mengapa Tesla tak kunjung berinvestasi di Indonesia?
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan Tesla memang tidak hanya bernegosiasi dengan RI untuk berinvestasi, tetapi juga dengan Malaysia dan India. Kedua negara itu dinilai menjadi saingan berat bagi RI dalam beberapa konteks.
Dalam ekosistem kendaraan atau otomotif, kedua negara itu sudah punya pengalaman dalam membangun industri sendiri.
Kondisi itu didukung oleh kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni serta dukungan politik.
"Menurut saya ini juga kemudian dilihat sebagai pertimbangan oleh Tesla," kata Yusuf kepada CNNIndonesia.com.
Yusuf menilai Tesla tak kunjung berinvestasi di Tanah Air lantaran ekosistem atau infrastruktur kendaraan listrik yang belum sepenuhnya terbangun.
Kondisi itu membuat investasi yang diharapkan bisa menggaet pasar domestik tidak bisa terpenuhi, setidaknya dalam jangka waktu pendek.
Maka dari itu, ia menilai pemerintah harus memperbaiki terlebih dahulu ekosistem kendaraan listrik dalam negeri. Kemudian juga memastikan regulasi terkait ekosistem kendaraan listrik berkelanjutan.
"Artinya, siapapun pemimpin baru nanti, bisa memastikan bahwa program hilirisasi nikel atau ekosistem kendaraan listrik bisa berlanjut," katanya.
Yusuf menilai wajar jika pemerintah ngotot agar Tesla berinvestasi di Indonesia karena merupakan perusahaan mobil listrik terbesar di dunia.
Jika bisa mendapatkan investasi Tesla, maka peluang RI untuk masuk ke dalam rantai pasok global kendaraan listrik semakin besar.
Ekspor ilegal hingga cadangan nikel dikuasai perusahaan smelter China
Banyak penyebab mengapa Elon Musk tak kunjung investasi di Indonesia penguasaan nikel oleh perusahaan smelter China hingga masalah ekspor ilegal. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai investasi Tesla tak serta merta bisa terealisasi meski Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.
Berdasarkan Booklet Nikel 2020 yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan bijih nikel RI mencapai 4,5 miliar ton.
Meski memiliki cadangan besar, Bhima menyebut rantai pasok nikel RI saat ini lebih banyak oleh perusahaan smelter China.
"Nah Tesla mau beli dari mana pengolahan nikelnya untuk jadi bahan baku baterai?" kata Bhima.
Selain itu, Tesla juga mulai mengurangi porsi nikel dan mencari alternatif bahan baku lainnya. Salah satu pertimbangannya karena proses nikel di tambang maupun smelter dianggap berkontribusi terhadap emisi karbon.
Sedangkan di Indonesia, banyak smelter yang menggunakan PLTU batu bara sehingga Tesla yang memegang prinsip environmental, social, and governance (ESG) merasa Indonesia belum mampu menerapkan prinsip itu.
Faktor lainnya adalah kasus ekspor nikel ilegal yang baru-baru ini terungkap. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan terjadi penyelundupan 5 juta ton bijih nikel ke China sejak 2021 lalu.
Bhima menilai kasus itu membuat investor termasuk Tesla kurang berminat untuk masuk ke rantai pasok nikel Indonesia. Ia menyebut investor sekelas Tesla harus menjamin traceability di mana semua bahan baku untuk kendaraan listrik harus dihasilkan dari nikel yang mematuhi aturan.
"Jadi kalau masih ada kasus di Indonesia ekspor ilegal nikelnya masih tinggi sekali itu bisa memperburuk citra dari Tesla," kata Bhima.
Selain itu, Tesla dinilai lebih tertarik berinvestasi di negara lain seperti India karena memiliki SDM yang kompeten.
Sedangkan di Indonesia masih terjadi gap antara keahlian yang dimiliki lulusan lembaga pendidikan dengan keterampilan yang dibutuhkan industri.
Bhima menilai Tesla juga akan mempertimbangakan prospek Indonesia dalam mengembangkan industri kendaraan listrik.
Jika berinvestasi, Tesla pasti ingin menjadikan RI sebagai basis pasar, namun kenyataannya permintaan terhadap kendaraan listrik di Indonesia saat ini belum tinggi. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari program subsidi mobil dan motor listrik yang sepi peminat.
"Ini menjadi pernyataan, kalau Tesla bangun pabrik dan pasarnya adalah Indonesia, ternyata adopsi dari mobil listrik juga tidak tinggi," katanya.
Alih-alih baterai kendaraan listrik, Bhima justru menilai potensi Indonesia yang sebenarnya dilihat Tesla adalah energy storage system (ESS) atau sistem penyimpanan energi.
ESS bisa menyimpan sejumlah bentuk energi yang bisa diambil di waktu tertentu untuk berbagai kepentingan. Biasanya, ESS yang dikembangkan termasuk oleh Tesla, berbasis elektrokimia dengan menggunakan baterai litium.
Bhima mengatakan mungkin Tesla lebih tertarik berinvestasi di sektor ESS karena Indonesia punya potensi energi terbarukan yang besar tetapi banyak pulau-pulau kecil dan terluar yang belum memiliki transmisi yang baik. Maka dari itu dibutuhkan baterai ESS sebagai wadah untuk menyimpan energi itu.
"Jadi pemerintah jangan sampai salah membaca minat Tesla dan harus menyiapkan tim teknis untuk follow up komitmen investasi Tesla," katanya.
[Gambas:Video CNN]