Tips Persiapkan Biaya Kesehatan Anak, Cukup BPJS atau Tambah Asuransi?
tim | CNN Indonesia
Sabtu, 29 Jul 2023 10:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tidak hanya biaya pendidikan dan persalinan, biaya kesehatan anak juga harus dipersiapkan oleh setiap pasangan atau calon orang tua. (Thedanw/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi pasangan muda, rencana memiliki anak tak hanya berhenti sampai di biaya persalinan dan pendidikan saja. Biaya kesehatan anak juga harus dipersiapkan. Mulai untuk medical check up, konsultasi gizi hingga vaksin atau imunisasi anak.
Perencana Keuangan OneShildt Consulting Imelda Tarigan menyebut umumnya tidak ada alokasi khusus anggaran untuk berobat. Adanya biaya untuk iuran BPJS Kesehatan, asuransi, dan dana darurat.
Menurutnya, biaya kesehatan bukan cuma urusan bayar berobat ketika sakit, yang terpenting adalah menjaga anak agar tetap sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mencegah penyakit, misalnya memberikan asupan gizi yang cukup, mengurangi kebiasaan jajan sembarangan, rutin olahraga, ada vitamin, berikan vaksin bila perlu, dan disiplin istirahat yang cukup," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/7).
"Kalau ini bisa dijaga dengan baik, maka biaya berobat akan sangat minim. Sehingga alokasi yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan sudah termasuk dalam kebutuhan keluarga sehari-hari," sambung Imelda.
Head Advisory and Investment Operation PINA Rista Zwestika menilai tidak ada persentase saklek yang harus disisihkan orang tua untuk biaya kesehatan anak. Pasalnya, setiap keluarga punya status finansial yang berbeda.
Faktor lain yang berpengaruh, antara lain negara tempat tinggal hingga kebutuhan khusus sang anak. Namun, ada 5 tips umum yang bisa membantu Anda menyiapkan biaya kesehatan buah hati.
Pertama, asuransi kesehatan. Rista berpesan anak sebaiknya dilindungi dengan asuransi yang bisa mengurangi beban biaya perawatan kesehatan.
Kedua, perencanaan anggaran. Ia menyebut beberapa keluarga punya perhitungan masing-masing berapa nominal yang disisihkan ke tabungan khusus biaya kesehatan.
"Sebagai contoh, beberapa ahli merekomendasikan mengalokasikan sekitar 5 persen-10 persen dari pendapatan keluarga untuk kesehatan," ujar Rista.
Ketiga, tabungan darurat. Menurutnya, pasangan suami istri (pasutri) harus punya dana darurat yang cukup untuk menghadapi situasi tak terduga, seperti kecelakaan atau penyakit serius.
Keempat, konsultasi dengan ahli keuangan tentang kondisi finansial keluarga. Kelima, Rista menegaskan jangan lupakan program kesehatan dari pemerintah, termasuk BPJS Kesehatan.
"Penting untuk diingat bahwa kesehatan anak adalah prioritas utama. Menetapkan anggaran yang tepat dapat membantu memastikan bahwa kebutuhan kesehatan mereka tercukupi tanpa memberatkan keuangan keluarga secara berlebihan," pesannya.
Sementara itu, Perencana Keuangan Aliyah Natasha menyarankan untuk menambah proteksi kesehatan anak dengan membeli asuransi kesehatan tradisional. Ia menyebut biasanya benefit yang ditawarkan adalah menanggung biaya rawat inap dan rawat jalan.
Namun, Aliyah berpendapat sebaiknya anggaran kesehatan anak dihemat dengan memilih asuransi yang hanya menanggung biaya rawat inap. Ini bertujuan untuk meminimalisir biaya premi yang dibayarkan.
"Jadi, untuk rawat jalannya bisa kita tanggung sendiri. Hitung saja dalam satu tahun keluarga kita (berapa kali) mengalami penyakit yang rawat jalan, seperti batuk, pilek, semacam itu. Biasanya kalau batuk dan flu harus bayar berapa sih obatnya? Mungkin sekitar Rp30 ribu-Rp100 ribu, tapi kan gak setiap bulan juga sakit," jelasnya.
Ia pun memilih produk asuransi kesehatan tradisional khusus rawat inap. Meski begitu, Aliyah tetap mencari produk asuransi yang terjangkau untuk meringankan biaya konsultasi dokter serta tebus obat.
"Sebenarnya di luar sana ada banyak produk asuransi. Cuma kita harus cermat, teliti, rajin, dan mau usaha lebih menemukan yang cocok serta sesuai budget," tutupnya.
Lalu, Perencana Keuangan Finansialku Dzulfikar Kharisma mencoba membedah cara mengalokasikan anggaran kesehatan anak berdasarkan gaji orang tua. Ada dua pembagian, yakni untuk pasutri dengan total gaji Rp10 juta per bulan dan pasangan bergaji di atas Rp10 juta setiap bulannya.
I. Pasangan bergaji Rp10 juta per bulan
1. Pastikan terdaftar di BPJS Kesehatan
Dzulfikar menyebut BPJS adalah asuransi kesehatan dasar yang harus dimiliki masyarakat Indonesia. Alasannya, preminya terbilang murah dengan manfaat perlindungan hampir semua jenis penyakit, sekitar Rp160 ribu per bulan setiap peserta kelas I.
2. Alokasi anggaran
"Sisihkan sekitar 5 persen-10 persen dari pendapatan untuk dana kesehatan, yang berarti sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per bulan," kata Dzulfikar.
3. Dana khusus
Menurutnya, perlu juga alokasi lain ke tabungan khusus untuk biaya kesehatan. Nantinya, dana ini bisa dipakai membayar biaya kesehatan yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan atau kondisi darurat medis.
Menurutnya, pasutri dengan total gaji di atas Rp10 juta per bulan bisa lebih fleksibil dalam mempersiapkan biaya kesehatan anak. Kendati, ia menekankan jangan sampai lupa mendaftarkan anak di BPJS Kesehatan.
2. Alokasi anggaran
Dengan lebih banyaknya pendapatan, Dzulfikar menyebut pasutri bisa menyisihkan lebih banyak uang mereka. Setidaknya pasangan dengan total gaji di atas Rp10 juta per bulan bisa menyisihkan sekitar 10 persen hingga 20 persen.
3. Beli asuransi
Ia menilai pasangan dengan total gaji di atas Rp10 juta per bulan punya opsi untuk membeli asuransi kesehatan.
"Asuransi ini dapat membantu menanggung biaya kesehatan yang lebih tinggi dan memberikan perlindungan lebih luas daripada BPJS Kesehatan," tuturnya.
Ia menekankan biaya kesehatan anak adalah bagian penting dari perencanaan keuangan keluarga. Menurutnya, alokasi pendapatan untuk biaya kesehatan ditambah perlindungan asuransi yang memadai bisa memberikan rasa aman dan membantu mencegah stres finansial jika terjadi keadaan darurat medis.
Terlepas dari semua tips tersebut, Dzulfikar menegaskan setiap keluarga punya kebutuhan dan kemampuan finansial yang berbeda. Oleh karena itu, rencana keuangan harus disesuaikan dengan kondisi keluarga.
"Terakhir, sehat bukan hanya tentang perawatan medis. Mendorong gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit juga penting. Jadi, investasikan juga waktu dan sumber daya untuk pendidikan kesehatan dan gaya hidup sehat," tutupnya.
Bagi pasangan muda, rencana memiliki anak tak hanya berhenti sampai di biaya persalinan dan pendidikan saja. Biaya kesehatan anak juga harus dipersiapkan. Mulai untuk medical check up, konsultasi gizi hingga vaksin atau imunisasi anak.
Perencana Keuangan OneShildt Consulting Imelda Tarigan menyebut umumnya tidak ada alokasi khusus anggaran untuk berobat. Adanya biaya untuk iuran BPJS Kesehatan, asuransi, dan dana darurat.
Menurutnya, biaya kesehatan bukan cuma urusan bayar berobat ketika sakit, yang terpenting adalah menjaga anak agar tetap sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mencegah penyakit, misalnya memberikan asupan gizi yang cukup, mengurangi kebiasaan jajan sembarangan, rutin olahraga, ada vitamin, berikan vaksin bila perlu, dan disiplin istirahat yang cukup," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/7).
"Kalau ini bisa dijaga dengan baik, maka biaya berobat akan sangat minim. Sehingga alokasi yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan sudah termasuk dalam kebutuhan keluarga sehari-hari," sambung Imelda.
Head Advisory and Investment Operation PINA Rista Zwestika menilai tidak ada persentase saklek yang harus disisihkan orang tua untuk biaya kesehatan anak. Pasalnya, setiap keluarga punya status finansial yang berbeda.
Faktor lain yang berpengaruh, antara lain negara tempat tinggal hingga kebutuhan khusus sang anak. Namun, ada 5 tips umum yang bisa membantu Anda menyiapkan biaya kesehatan buah hati.
Pertama, asuransi kesehatan. Rista berpesan anak sebaiknya dilindungi dengan asuransi yang bisa mengurangi beban biaya perawatan kesehatan.
Kedua, perencanaan anggaran. Ia menyebut beberapa keluarga punya perhitungan masing-masing berapa nominal yang disisihkan ke tabungan khusus biaya kesehatan.
"Sebagai contoh, beberapa ahli merekomendasikan mengalokasikan sekitar 5 persen-10 persen dari pendapatan keluarga untuk kesehatan," ujar Rista.
Ketiga, tabungan darurat. Menurutnya, pasangan suami istri (pasutri) harus punya dana darurat yang cukup untuk menghadapi situasi tak terduga, seperti kecelakaan atau penyakit serius.
Keempat, konsultasi dengan ahli keuangan tentang kondisi finansial keluarga. Kelima, Rista menegaskan jangan lupakan program kesehatan dari pemerintah, termasuk BPJS Kesehatan.
"Penting untuk diingat bahwa kesehatan anak adalah prioritas utama. Menetapkan anggaran yang tepat dapat membantu memastikan bahwa kebutuhan kesehatan mereka tercukupi tanpa memberatkan keuangan keluarga secara berlebihan," pesannya.
Sementara itu, Perencana Keuangan Aliyah Natasha menyarankan untuk menambah proteksi kesehatan anak dengan membeli asuransi kesehatan tradisional. Ia menyebut biasanya benefit yang ditawarkan adalah menanggung biaya rawat inap dan rawat jalan.
Namun, Aliyah berpendapat sebaiknya anggaran kesehatan anak dihemat dengan memilih asuransi yang hanya menanggung biaya rawat inap. Ini bertujuan untuk meminimalisir biaya premi yang dibayarkan.
"Jadi, untuk rawat jalannya bisa kita tanggung sendiri. Hitung saja dalam satu tahun keluarga kita (berapa kali) mengalami penyakit yang rawat jalan, seperti batuk, pilek, semacam itu. Biasanya kalau batuk dan flu harus bayar berapa sih obatnya? Mungkin sekitar Rp30 ribu-Rp100 ribu, tapi kan gak setiap bulan juga sakit," jelasnya.
Ia pun memilih produk asuransi kesehatan tradisional khusus rawat inap. Meski begitu, Aliyah tetap mencari produk asuransi yang terjangkau untuk meringankan biaya konsultasi dokter serta tebus obat.
"Sebenarnya di luar sana ada banyak produk asuransi. Cuma kita harus cermat, teliti, rajin, dan mau usaha lebih menemukan yang cocok serta sesuai budget," tutupnya.
Alokasi anggaran kesehatan berdasarkan gaji orang tua
Tidak hanya biaya pendidikan dan persalinan, biaya kesehatan anak juga harus dipersiapkan oleh setiap pasangan atau calon orang tua. (christianabella/Pixabay)
Lalu, Perencana Keuangan Finansialku Dzulfikar Kharisma mencoba membedah cara mengalokasikan anggaran kesehatan anak berdasarkan gaji orang tua. Ada dua pembagian, yakni untuk pasutri dengan total gaji Rp10 juta per bulan dan pasangan bergaji di atas Rp10 juta setiap bulannya.
I. Pasangan bergaji Rp10 juta per bulan
1. Pastikan terdaftar di BPJS Kesehatan
Dzulfikar menyebut BPJS adalah asuransi kesehatan dasar yang harus dimiliki masyarakat Indonesia. Alasannya, preminya terbilang murah dengan manfaat perlindungan hampir semua jenis penyakit, sekitar Rp160 ribu per bulan setiap peserta kelas I.
2. Alokasi anggaran
"Sisihkan sekitar 5 persen-10 persen dari pendapatan untuk dana kesehatan, yang berarti sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per bulan," kata Dzulfikar.
3. Dana khusus
Menurutnya, perlu juga alokasi lain ke tabungan khusus untuk biaya kesehatan. Nantinya, dana ini bisa dipakai membayar biaya kesehatan yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan atau kondisi darurat medis.
Menurutnya, pasutri dengan total gaji di atas Rp10 juta per bulan bisa lebih fleksibil dalam mempersiapkan biaya kesehatan anak. Kendati, ia menekankan jangan sampai lupa mendaftarkan anak di BPJS Kesehatan.
2. Alokasi anggaran
Dengan lebih banyaknya pendapatan, Dzulfikar menyebut pasutri bisa menyisihkan lebih banyak uang mereka. Setidaknya pasangan dengan total gaji di atas Rp10 juta per bulan bisa menyisihkan sekitar 10 persen hingga 20 persen.
3. Beli asuransi
Ia menilai pasangan dengan total gaji di atas Rp10 juta per bulan punya opsi untuk membeli asuransi kesehatan.
"Asuransi ini dapat membantu menanggung biaya kesehatan yang lebih tinggi dan memberikan perlindungan lebih luas daripada BPJS Kesehatan," tuturnya.
Ia menekankan biaya kesehatan anak adalah bagian penting dari perencanaan keuangan keluarga. Menurutnya, alokasi pendapatan untuk biaya kesehatan ditambah perlindungan asuransi yang memadai bisa memberikan rasa aman dan membantu mencegah stres finansial jika terjadi keadaan darurat medis.
Terlepas dari semua tips tersebut, Dzulfikar menegaskan setiap keluarga punya kebutuhan dan kemampuan finansial yang berbeda. Oleh karena itu, rencana keuangan harus disesuaikan dengan kondisi keluarga.
"Terakhir, sehat bukan hanya tentang perawatan medis. Mendorong gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit juga penting. Jadi, investasikan juga waktu dan sumber daya untuk pendidikan kesehatan dan gaya hidup sehat," tutupnya.