Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso alias Buwas mengatakan pemerintah akan mengimpor 1 juta ton beras dari China pada tahun depan.
Rencana impor beras itu untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal tahun depan. Buwas mengaku memilih China karena dianggap paling siap menjual berasnya ke Indonesia.
Sebelumnya, Indonesia telah mendapat pasokan beras dari beberapa negara seperti Thailand, Vietnam, dan Pakistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berarti kalau ada penugasan nanti ke saya (Bulog) 1 juta lagi, saya akan ambil dari China, karena mereka sudah siapkan 1 juta (ton). Jadi saya tidak mengambil dari Thailand, Vietnam atau negara-negara yang kemarin, Pakistan termasuk," kata Budi di Gudang Bulog Kaltimtara, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu (23/9).
Sejatinya, pemerintah sudah mengimpor 2 juta ton beras pada tahun ini demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Namun, menurut Buwas, impor 1 juta ton tetap diperlukan untuk tahun depan demi mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga 2024 mendatang. Pasalnya, kekeringan berpotensi mengganggu produksi padi petani.
Buwas juga mengatakan kebijakan impor dilakukan karena pemerintah tak mau terlambat mengambil keputusan.
Di tengah kebijakan proteksionisme negara-negara dengan produksi beras terbesar, seperti India, apa benar China bersedia menjual berasnya ke Indonesia?
Pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar mempertanyakan wacana pemerintah impor beras dari China.
Menurutnya, strategi negara-negara yang surplus adalah mengamankan cadangan pangan mereka terlebih dahulu.
"Jadi kalau saya pikir, walaupun misalnya kesepakatan itu ada, belum tentu dieksekusi secara penuh. Mungkin dia hanya pagu sekian, tapi nanti juga tergantung dengan kebutuhan dia," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (26/9).
Hermanto menjelaskan China memang merupakan salah satu negara dengan produksi beras terbesar di dunia. Hanya saja untuk ekspor, negara terbesar adalah India.
"Bedanya adalah India ini jumlah penduduknya itu pertumbuhannya tinggi dibandingkan dengan China. Jadi memang dia punya kekhawatiran agak-agak kesulitan untuk menjaga kepastian ketahanan pangannya," ujar Hermanto.
"Sedangkan China memang, dia penduduknyakan setelah kebijakan hanya satu anak, cenderung dia berkurang. Sementara produksi beras dia itu tinggi. Dia bisa 9 ton, 10 ton per hektare," imbuhnya.
Meski demikian, Hermanto menilai bahwa China belum tentu akan bersedia menjual berasnya 1 juta ton ke Indonesia. Sebab, faktor iklim akan sangat berpengaruh pada banyaknya stok beras yang akan diekspor.
"Tergantung perkembangan. Kalau memang iklimnya sangat tidak bersahabat, ya mungkin sebagian aja, 300 atau 400 ribu (ton). Tapi kalau produksi di sana juga masih oke, hanya berkurang sedikit, saya rasa dia bisa jual. Kalau 1 juta ton sih bagi dia enggak banyak,"imbuhnya.
Menurut Hermanto, konsumsi beras per kapita di China terus menurun. Saat ini, konsumsi beras di China sekitar 60 kg per kapita per tahunnya.
"Jadi, ya kenapa dia bisa segitu? Karena diversifikasi konsumsinya kan bagus. Karena lebih sejahtera orang-orangnya, asupan proteinnya. Kalau di kita kan konsumsi daging dan sebagainya per kapita per tahunnya kan kecil. Kalau mereka udah berlipat-lipat dibanding kita. Jadi enggak perlu dia mengonsumsi beras dalam jumlah banyak per kapita per tahunnya," jelasnya.
Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan produktivitas beras di China naik lebih 1,2 persen. Oleh karena itu, China siap ekspor beras ke beberapa negara.
Merujuk ke laman statistik China, pada Agustus lalu, produksi beras diprediksi meningkat karena ada kenaikan produktivitas padi meski lahan tanamnya berkurang.
"Dan sejak Agustus kemarin memang udah diprediksi naik. Makanya China, Agustus dia ekspor ke Ghana, Kongo, sama ke Pantai Gading yang biasanya diisi sama India kan," kata Eliza kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/9).
Eliza juga menilai China menerapkan beberapa strategi yang cepat tanggap demi meminimalisir dampak El Nino. Selain itu, konsumsi beras di China juga tak sebesar Indonesia karena kebijakan diversifikasi pangan.
"Kalau China masih mending 60-65 persen dia staple food-nya tuh beras. Jadi 40 persennya tuh sisanya sama dari mie, karena dia juga bisa menghasilkan gandum. Kalau India juga sama, dia 43 persen beras, 40 persen gandum. Sisanya pangan varietas lokal. Nah, kalau Indonesia kan bisa jadi 80-90 (persen) gitu kan. Jadi karena kita penduduknya sudah banyak, makanya wajar kalau misalnya kita bisa impor sampai 1 juta," ungkap dia lebih lanjut.
Bersambung ke halaman selanjutnya
China bukan negara eksportir beras
Pemerintah berencana mengimpor beras 1 juta ton dari China. Meski bukan eksportir, namun produksi beras di China cukup tinggi meski tak sebanyak India. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Di sisi lain, pengamat pangan IPB Dwi Andreas Santosa menilai kecil kemungkinannya jika impor dari China. Menurutnya, stok beras impor Indonesia saat ini sudah cukup.
"China itu bukan negara eksportir beras. Dalam arti, China produksi beras mereka, ya untuk konsumsi dalam negeri. Jadi untuk itu tidak pernah ada catatan bahwa China itu sebagai salah satu yang ekspor beras," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/9).
Menurutnya, China belum tercatat sebagai negara eksportir beras hingga saat ini. Sebab itu, ia menilai kabar pemerintah bakal impor beras dari China masih belum jelas apakah akan terealisasi atau tidak.
"Enggak tau itu bisa terealisasi atau tidak. Itu pun kan saya kurang tahu apakah itu sudah diputuskan melalui rapat koordinasi terbatas atau hanya sekedar wacana yang disampaikan oleh Bulog," ucap Dwi lebih lanjut.
Kendati ia menilai sebetulnya Indonesia tak perlu ada tambahan impor. Jika benar terealisasi, hal ini akan sangat merugikan para petani yang tengah menikmati harga yang baik.
"Untuk itu pemerintah yang jaga. Jangan impor saja yang dibahas, pertahankanlah harga yang baik saat ini. Kalau harga yang baik saat ini bisa dijamin terus oleh pemerintah sampai panen raya tahun depan, petani akan sangat berterima kasih ke pemerintah. Lalu, pasti produksi 2024 naik, saya pastikan," tegas dia.
[Gambas:Infografis CNN]
Harga beras kian melambung
Sebelumnya, Budi Waseso mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan penambahan jumlah impor beras. Instruksi itu dilakukan karena produksi beras dalam negeri memang sedang menurun.
Terpantau, harga beras kian melambung sejak awal 2023. Apalagi, dalam dua bulan belakangan harganya nyaris menyentuh Rp15 ribu per kg.
Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan menyebut harga beras khususnya medium dan premium, telah melonjak sangat tinggi.
"Setiap pekan harganya melonjak. Dan yang tertinggi justru di wilayah Indonesia Timur, Rp14 ribu-Rp15 ribu. Itu untuk yang medium saja ya," ujar Reynaldi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (19/9) lalu.
Menurutnya, harga beras naik karena cadangan dari Bulog belum mampu menutupi kebutuhan rata-rata nasional. Apalagi, beberapa hektare pertanian gagal panen karena faktor iklim el nino.
Di sisi lain, Jokowi memastikan stok beras pemerintah aman untuk menjaga stabilitas harga di pasaran. Ia mengungkapkan saat ini cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog ada 1,6 juta ton. Jumlah tersebut akan bertambah 400 ribu ton menjadi 2 juta ton.
"Biasanya stok kita itu hanya 1,2 (juta ton). Normal 1,2 juta (ton). Ini kita memiliki 2 juta (ton) sehingga kita tidak usah khawatir," ujar Jokowi saat meninjau Gudang Bulog Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/9) silam.
Adapun upaya jangka pendek pemerintah dalam menekan harga beras adalah membagikan bantuan sosial (bansos) pangan.
Bansos pangan diberikan kepada 21,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) sebanyak 10 kg setiap bulan atau 30 kg selama September hingga November 2023.
[Gambas:Video CNN]