EDUKASI KEUANGAN

Tips Susun Resolusi Keuangan 2026 agar Tak Sekadar Wacana

Dela Naufalia Fitriyani | CNN Indonesia
Sabtu, 03 Jan 2026 09:10 WIB
Resolusi keuangan perlu disusun secara realistis dan terukur agar bisa dijalankan. Berikut tips menyusun resolusi keuangan 2026 dari sejumlah pakar keuangan.
Resolusi keuangan perlu disusun secara realistis dan terukur agar bisa dijalankan. Ilustrasi. (iStock/airdone).
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Menyusun resolusi keuangan sering kali terdengar mudah di awal tahun, tetapi sulit dijalankan di tengah jalan. Padahal resolusi penting untuk menjadi panduan untuk mencapai tujuan finansial ke depan.

Agar tak berhenti menjadi sekadar wacana, resolusi keuangan 2026 perlu disusun secara realistis, terukur, dan sesuai kondisi masing-masing individu.

Berikut tips menyusun resolusi keuangan 2026 dari sejumlah pakar keuangan:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Mulai dari target paling masuk akal dan berdampak besar

Perencana keuangan OneShildt Budi Rahardjo menilai langkah awal paling penting adalah memastikan resolusi keuangan sesuai dengan kemampuan dan kondisi nyata.

"Resolusi keuangan agar dapat terwujud maka harus berbasis kepada kemampuan dan sesuai dengan kondisi. Terkadang kita terlalu memaksakan resolusi harus terwujud dalam waktu yang singkat dan terlalu banyak hal yang ingin dicapai, padahal kondisi tidak memungkinkan apabila resolusi dikerjakan sekaligus," ucap Budi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (2/1).

Menurut Budi, resolusi sebaiknya dikerjakan bertahap, dimulai dari target yang memberi dampak besar pada kondisi finansial. Salah satunya dengan membangun disiplin anggaran.

"Bisa dimulai dari suatu target yang paling banyak memberikan dampak pada finansial dan dapat menunjang tujuan lainnya. Misalnya, dimulai dari disiplin dalam mengatur pengeluaran melalui sistem anggaran yang efektif," tambahnya.

Pendekatan ini dinilai bisa membuka ruang untuk tujuan lain seperti dana darurat, investasi, hingga pelunasan utang, asalkan dijalani dengan sabar dan terarah.

2. Evaluasi kondisi keuangan secara jujur

Agar resolusi 2026 tidak sekadar keinginan, evaluasi kondisi keuangan tahun sebelumnya menjadi langkah krusial.

Budi melihat cek keuangan berkala sebagai langkah yang perlu dilakukan sebelum menyusun resolusi baru.

"Dimulai dari evaluasi arus kas tahun lalu, adakah bulan-bulan yang perlu mendapatkan perhatian karena pengeluaran mengalami lonjakan," tutur Budi.

Ia juga mengingatkan perlunya melihat sisi pendapatan, aset, utang, investasi, hingga manajemen risiko.

"Evaluasi pula kondisi aset secara keseluruhan dan utang-utang. Apakah mengalami perbaikan kualitas dan kondisi ataukah justru mengalami penurunan," jelasnya.

Sementara itu, perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyarankan evaluasi dilakukan secara berkala, tidak menunggu setahun penuh.

"Idealnya kita evaluasi tiap tiga bulan atau enam bulan sekali, apakah target tersebut paling tidak sudah mulai dijalankan," ujarnya.

Menurut Andi, disiplin evaluasi membantu memastikan resolusi tetap berada di jalur yang benar dan bisa segera diperbaiki jika melenceng.

3. Dahulukan kebutuhan paling mendasar

Pada kelompok dengan penghasilan terbatas, penyusunan prioritas keuangan perlu dilakukan sejak awal. Budi menyebut ada tiga fokus utama sebelum tujuan keuangan lainnya.

"Bagaimana cara membuat prioritas pengeluaran sesuai kebutuhan, pengelolaan utang dan menambah penghasilan keluarga," ucap Budi.

Pandangan serupa disampaikan Andi. Ia menilai resolusi sebaiknya sederhana dan relevan dengan kondisi masing-masing orang.

"Pertama resolusinya yang simpel, tidak usah banyak-banyak, dan relate sama kondisi kita," kata Andi.

Andi menyarankan penggunaan prinsip Specific, Measureable, Achievable, Realistic, Timeline agar target lebih terukur.

Dengan prinsip tersebut, resolusi tidak hanya terdengar bagus, tetapi juga bisa dijalankan tanpa memberatkan kebutuhan sehari-hari.

4. Jaga konsistensi

Resolusi keuangan kerap gagal bukan karena targetnya salah, melainkan karena kehilangan motivasi. Budi menilai alasan yang kuat perlu ditulis dan diingat terus.

"Resolusi dapat berhenti di tengah jalan ketika motivasi untuk membuat keuangan lebih baik kurang kuat dan jelas," tuturnya.

Ia juga menyarankan resolusi dibicarakan dengan pasangan agar ada dukungan dan pengingat bersama.

Andi menambahkan kegagalan resolusi sering dipicu oleh target yang terlalu tinggi dan minim evaluasi.

"Tidak menggunakan prinsip SMART sehingga resolusinya terlalu tinggi bahkan jauh dari kemampuan dirinya," ucap dia lebih lanjut.

Menurutnya, konsistensi hanya bisa dijaga jika resolusi disertai disiplin menjalankan dan mengevaluasi progres secara rutin.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER