Melihat Ekonomi Venezuela Selama di Tangan Nicolas Maduro

CNN Indonesia
Selasa, 06 Jan 2026 11:26 WIB
Sejak masa kepemimpinan Nicolas Maduro pada 2013, Venezuela mengalami kontraksi ekonomi, termasuk menghadapi hiperinflasi.
Sejak masa kepemimpinan Nicolas Maduro pada 2013, Venezuela mengalami kontraksi ekonomi, termasuk menghadapi hiperinflasi. (AFP/JUAN BARRETO).
Jakarta, CNN Indonesia --

Venezuela menjadi perhatian dunia usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro bersama istrinya pada Sabtu (3/1) dini hari.

Sebelum penangkapan tersebut, Trump juga memerintahkan untuk menggempur Ibu Kota Venezuela, Caracas.

Pernyataan resmi bersama antar lembaga/kementerian AS menyatakan penangkapan Maduro untuk mendukung tuntutan pidana yang diajukan terkait perdagangan narkotika skala besar dan memicu kekerasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menggoyahkan stabilitas kawasan dan berkontribusi langsung terhadap krisis narkoba yang merenggut nyawa warga Amerika," demikian pernyataan itu yang diunggah Jaksa Agung AS Pamela Bondi di X pada Senin (5/1).

Di tengah konflik yang memanas, kondisi ekonomi negara yang dikenal dengan cadangan minyak terbesar di dunia tersebut menjadi sorotan.

Sejak masa kepemimpinan Maduro pada 2013, Venezuela mengalami kontraksi ekonomi, termasuk menghadapi hiperinflasi.

Selama satu dekade terakhir, ekonomi Venezuela anjlok sekitar 80 persen. Mengutip data IMF, pertumbuhan ekonomi Venezuela diproyeksikan hanya sebesar 0,5 persen pada 2025 dengan nilai PDB US$82,77 miliar atau setara Rp1.385 triliun (asumsi kurs Rp16.740 per dolar).

Kemudian, PDB per kapita Venezuela mencapai US$3.100 atau setara Rp51,9 juta pada 2025. Hal ini menggambarkan daya beli masyarakat Venezuela terproyeksi masih rendah.

Sementara itu, rata-rata inflasi konsumen pada 2025 disebut masih berada di angka ekstrem, yakni sebesar 269,9 persen. Kendati, angkanya menurun dibandingkan inflasi pada Oktober 2025 mencapai 548,6 persen.

Mengutip Reuters, Venezuela sempat mengalami hiperinflasi selama empat tahun berturut-turut dengan angka mencapai 130 ribu persen. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat Venezuela masih tergerus.

Berdasarkan laporan European Civil Protection dan Humanitarian Aid Operations, sekitar 78,4 persen penduduk Venezuela berada di bawah garis kemiskinan pada September 2025, bahkan 56,8 persen penduduk berada di kondisi kemiskinan ekstrem.

Mengacu survei ENCOVI pada 2024, ketimpangan ekonomi di Venezuela pada awal kepemimpinan Maduro berada di angka koefisien Gini 40,7 poin pada 2014 dan meningkat signifikan menjadi 53,9 poin pada 2024.

Artinya, selama di bawah kepemimpinan Maduro,  ketimpangan Venezuela bertambah parah dengan jurang semakin lebar antara masyarakat berpendapatan rendah dan tinggi.

Koefisien gini sendiri adalah angka untuk mengukur tingkat ketimpangan pengeluaran dan pendapatan dari suatu negara dengan rentang 0 sampai 100.

Apabila suatu negara mempunyai koefisien Gini di bawah 30 poin maka ketimpangan negara tersebut rendah. Bila berada di angka 30 sampai 40 poin maka ketimpangan sedang, sementara di atas 50 poin maka ketimpangan suara negara bisa disebut tinggi.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)