Airlangga Respons soal Penangkapan Maduro dan Efeknya ke Indonesia

CNN Indonesia
Senin, 05 Jan 2026 19:45 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara atas efek penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) ke Indonesia.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara atas efek penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) ke Indonesia. (CNN Indonesia/Muhammad Falah).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara atas efek penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) ke Indonesia.

Airlangga menyebut Pemerintah RI terus memantau harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan.

"Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar per barrel," ujar Airlangga di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (5/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, sambung Airlangga, peristiwa ini juga berpotensi memengaruhi nota kesepahaman (MoU) antara RI dengan Venezuela di sektor minyak dan gas bumi (migas).

"Ya tentunya ada perubahan ya dengan perubahan yang terjadi kemarin itu karena pemerintahannya kan berganti," ucap dia.

Pada Januari 2024 lalu, Indonesia dan Venezuela sempat menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait kerja sama sektor hulu migas. Nota tersebut diteken oleh Menteri ESDM periode 2019-2024 Arifin Tasrif dengan Menteri Perminyakan Venezuela Pedro Rafael Tellechea.

MoU tersebut mencakup kerja sama di sektor hulu migas, mulai dari penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR), pengembangan teknologi ramah lingkungan di sektor energi, serta kerja sama penyimpanan dan penangkapan karbon (carbon capture and storage/CCS) hingga pengurangan gas suar bakar.

Kesepakatan itu juga mencakup peluang di bidang-bidang usaha yang disepakati oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan/atau swasta dari para pihak tanpa merugikan dengan menyesuaikan dengan kontrak dan perjanjian yang ada.

"Dengan payung perjanjian antar kedua tersebut, PT Pertamina (Persero), sebagai BUMN milik Indonesia di sektor energi, melalui Pertamina International EP (PIEP) diharapkan bisa menjajaki peluang dalam mengakuisisi blok-blok migas baru Venezuela. Hal itu juga untuk menguatkan eksistensi PIEP yang telah berinvestasi di Venezuela melalui perusahaan Maurel et Prom (M&P)," tulis keterangan resmi Kementerian ESDM yang dirilis pada Januari 2024 lalu.

Saat ini, PIEP merupakan pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 71,09 persen pada M&P yang mengelola lapangan minyak Urdaneta Oeste di area Danau Maracaibo, Venezuela.

Trump menangkap Maduro dan istrinya melalui operasi militer AS di Kota Caracas, Venezuela pada Sabtu (3/1) lalu.

Tak lama usai mengumumkan penangkapan Maduro, Trump bahkan blak-blakan bahwa AS akan menguasai minyak Venezuela.

Venezuela sendiri merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Berdasarkan OPEC Annual Statistical Bulletin 2025, cadangan minyak terbukti Venezuela mencapai 303,22 miliar barel atau hampir seperlima dari cadangan minyak dunia, 1.566,86 miliar barel.

[Gambas:Video CNN]

(mnf/sfr)