Bapanas Beber Tiga Indikator RI Sukses Swasembada Beras

CNN Indonesia
Selasa, 06 Jan 2026 13:49 WIB
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memaparkan tiga indikator Indonesia bisa swasembada beras pada 2026. Berikut rinciannya.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memaparkan tiga indikator Indonesia bisa swasembada beras pada 2026. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memaparkan tiga indikator Indonesia bisa swasembada beras pada 2025.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan ketiga indikator tersebut adalah tidak impor beras lagi, produksi melebih konsumsi, dan stok Bulog relatif tinggi.

"Pertama, kita tahun ini tidak melakukan importasi beras lagi. Kedua, produksi kita jauh melebihi daripada konsumsinya. Dan yang ketiga, stok Bulog pun juga relatif tinggi, lebih dari 3 juta ton. Artinya tiga sisi ini yang menunjukkan kita bisa menyatakan bahwa posisi kita swasembada," ungkap Ketut dalam keterangan resmi yang dikutip dari suatu telewicara, Jakarta, Senin (5/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kondisi swasembada beras tersebut mengikuti rujukan predikat swasembada dari Food and Agriculture Organization (FAO).

"Ini juga karena dari data FAO sendiri memberikan definisi bahwa sepanjang importasinya tidak melebihi 10 persen, itu pun swasembada. Apalagi sekarang secara tegas Bapak Presiden dan Bapak Kepala Bapanas jelas mengatakan tidak ada impor beras konsumsi. Jadi tentu dengan ini, kalau boleh dikatakan ini arahnya sudah swasembada," ujar Ketut.

Ketut menilai visi swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo Subianto berhasil terwujud dalam satu tahun pertama pemerintahannya.

Ia mengungkap surplus beras tersebut didapatkan dari selisih antara produksi beras sebesar 34,71 juta ton terhadap konsumsi beras sebesar 31,19 juta ton secara nasional pada 2025. Kebutuhan tersebut sudah termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Indikator swasembada beras telah tercantum dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 yang diolah Bapanas bersama-sama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan kementerian/lembaga terkait lainnya.

"Kalau kita melihat berdasarkan data dari BPS, produksi beras kita kan lebih dari 34 juta ton di tahun 2025. Sementara kebutuhan kita kan hampir 31 juta ton. Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja sudah menandakan kita sudah swasembada," jelasnya.

Kemudian, Ketut juga menyampaikan surplus beras tersebut menjadikan stok beras di awal tahun 2026 bisa mencapai 12,529 juta ton. Angka tersebut sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog yang sebesar 3,248 juta ton.

"Persebarannya ada di masyarakat, ada di pedagang, ada di distributor. Dengan begitu, kita butuh selama setiap bulan itu sekitar 2,5 juta ton. Jadi dengan 12,5 juta ton tadi, kekuatan kita sudah sangat kuat untuk menjaga ketahanan pangan. Belum lagi nanti Januari dan Februari produksi. Maret dan April panen raya. Ini menandakan kita di 2026 pun akan semakin kuat," kata Ketut.

Sementara itu, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Amran Sulaiman yakin stok beras sangat aman pada tahun 2026.

Amran pun menegaskan pelaku usaha sektor pangan tidak boleh memainkan harga melebih ketentuan.

"Stok beras kita sangat aman. Tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus. Jadi tidak ada masalah sampai Ramadan dan tidak boleh ada yang bermain harga. Kalau ada yang melanggar, kita tindak bersama Satgas Pangan Polri," tegas Amran.

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan untuk menghadiri acara "Panen Raya, Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden RI" yang digelar di Karawang, Jawa Barat. Acara itu akan berlangsung pada jam 09.00-11.00 WIB.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)