Bos BGN Bangga MBG Beri Makan 55,1 Juta Warga, Lampaui Populasi Korsel

CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 10:16 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan program Makan Bergizi (MBG) telah menjangkau penerima manfaat dalam skala yang setara dengan jumlah penduduk satu negara.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan program Makan Bergizi (MBG) telah menjangkau penerima manfaat dalam skala yang setara dengan jumlah penduduk satu negara. (REUTERS/Willy Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan program Makan Bergizi (MBG) telah menjangkau penerima manfaat dalam skala yang setara dengan jumlah penduduk satu negara.

Hingga akhir 2025, program tersebut tercatat melayani 55,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

"55,1 juta itu sudah melebihi penduduk Korea Selatan. Korea Selatan kan hanya 51,5 (juta), sehingga kita sudah bisa memberi makan satu negara sebesar Korea Selatan," kata Dadan dalam konferensi pers Capaian Satu Tahun MBG dan Operasional Perdana MBG di Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (8/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Program MBG sendiri telah berjalan penuh selama satu tahun sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025.

Pada awal pelaksanaan, program ini dimulai dengan 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG dengan jumlah penerima manfaat yang masih terbatas.

Seiring berjalannya waktu, jumlah SPPG terus bertambah hingga mencapai 19.188 unit pada 31 Desember 2025 dengan total penerima manfaat mencapai 55,1 juta orang.

Menurut Dadan, secara operasional, jumlah SPPG saat ini sebenarnya telah mendekati 19.800 unit. Namun, SPPG tersebut belum seluruhnya langsung beroperasi serentak karena proses administrasi dan pencairan dana membutuhkan waktu sekitar lima hingga delapan hari sejak SPPG terbentuk.

Program MBG, lanjutnya, dirancang sebagai intervensi pemenuhan gizi untuk kelompok rentan dan usia tumbuh kembang, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak sekolah sampai usia 18 tahun. Intervensi ini diarahkan sebagai fondasi pembentukan sumber daya manusia jangka panjang.

"Kami melakukan intervensi untuk ibu hamil, ibu isteri anak balita, serta seluruh anak sekolah sampai usia 18 tahun karena sesuatu yang sangat penting untuk menghasilkan generasi yang berkualitas yang mereka 20 tahun lagi akan menjadi generasi produktif," ujarnya.

Dadan mengakui selama tahun pertama pelaksanaan masih terdapat sejumlah kekurangan. Namun, ia menyebut perbaikan terus dilakukan, termasuk pengetatan standar operasional. Data internal BGN menunjukkan jumlah kejadian terkait keamanan pangan menurun signifikan menjelang akhir 2025.

"Di Desember itu selama satu bulan kejadian tersisa 12 kejadian, dan kami targetkan sesuai instruksi Pak Presiden (Prabowo Subianto) untuk terus memperbaiki kualitas agar terjadi zero defect di tahun 2026," katanya.

Selain menjangkau puluhan juta penerima manfaat, Dadan menyebut percepatan MBG juga ditopang oleh peran masyarakat. Seluruh pembangunan 19.188 SPPG yang telah beroperasi disebut dibiayai oleh mitra masyarakat dengan nilai kontribusi yang ditaksir mencapai puluhan triliun rupiah.

"Kalau kita hitung dari jumlah SPPG yang ada paling tidak ada Rp38 triliun yang sudah dikontribusikan masyarakat terhadap pembangunan SPPG dan membuat program ini berjalan demikian cepat," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(skt/sfr)