Mentan Amran Sita 133,5 Ton Bawang Bombai Ilegal di Semarang
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan penyitaan sebanyak 133,5 ton bawang bombai ilegal yang disimpan di sebuah gudang di Semarang Utara, Jawa Tengah.
Bawang tersebut ditemukan tanpa dokumen resmi dan langsung dimusnahkan untuk mencegah risiko penyebaran penyakit serta dampak lanjutan terhadap sektor pertanian nasional.
"Totalnya ada 6.172 karung. Totalnya 133,5 ton. Yang jelas tidak punya surat. Sebelum diketahui, dimusnahkan, tidak ada distribusi, tidak ada lelang-lelang," kata Amran saat melakukan penyidakan, Sabtu (10/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu menjelaskan penindakan dilakukan setelah menerima laporan adanya komoditas pertanian yang diduga masuk secara ilegal.
Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti melalui koordinasi cepat dengan aparat gabungan, termasuk TNI, Polri, Polisi Militer (PM), Bea Cukai, dan Badan Karantina Indonesia (Barantin). Penjagaan dilakukan untuk memastikan barang tidak sempat beredar di masyarakat.
"Kami dapatkan, malam langsung kami telepon PM, Pak Dandim. Kami telepon langsung, tolong ada barang masuk ilegal dan ini harus kita tindak tegas, siapapun. Tidak boleh ada sisa, bongkar sampai ke akar-akarnya," ujarnya.
Menurut Amran, penyelundupan komoditas pertanian tidak bisa dilihat dari jumlah barang semata. Risiko terbesar justru berasal dari potensi penyakit yang dibawa, seperti bakteri dan jamur yang belum ada di Indonesia dan dapat menyerang tanaman maupun ternak.
"Kalau bawa penyakit, satu ton dengan satu juta ton sama. Satu kilo dengan satu juta kilo sama. Ini yang paling berbahaya untuk negara kita," katanya.
Amran mengaitkan temuan tersebut dengan pengalaman wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2022. Saat itu, Indonesia kehilangan lebih dari 6 juta ekor sapi dengan nilai kerugian yang sangat besar dan berdampak langsung pada peternak.
"Begitu PMK terjadi, satu tempat, dua tempat, akhirnya seluruh Indonesia tidak terkendali. Kehilangan populasi kita 6 juta ekor lebih. Itu sekitar Rp135 triliun," ucap Amran.
Amran juga menyebut jika penyakit serupa menyebar ke komoditas tanaman seperti padi atau bawang, kerugiannya akan jauh lebih luas karena menyangkut mata pencaharian jutaan petani.
Ia menilai penyelundupan oleh segelintir oknum berpotensi mengorbankan kepentingan masyarakat dalam jumlah besar.
"Masal mau korbankan lebih dari 100 juta orang hanya karena 10 atau 20 orang. Ini yang tidak benar," katanya.
Selain bawang, Amran mengungkapkan pihaknya menerima banyak laporan terkait dugaan penyelundupan komoditas lain, seperti beras, minyak goreng, pupuk, hingga mesin pertanian. Seluruh laporan tersebut tengah ditelusuri sesuai kewenangan Kementerian Pertanian.
Ia memastikan bawang bombai ilegal yang ditemukan di Semarang Utara tidak akan disalurkan dalam bentuk apa pun. Aparat masih mengusut asal-usul barang dan pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan penyelundupan tersebut.
"Ini harus dibongkar sampai ke akar. Tidak boleh ada ampun. Kalau kita kompromi, sama saja kita beternak kejahatan," ujar Amran.
(del/har)[Gambas:Video CNN]