Bulog Bidik Peran Orkestrator Pangan RI hingga Jadi Lumbung Padi Dunia
Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Perum Bulog) bercita-cita menjadi orkestrator atau pengelola rantai pasok pangan, dengan menargetkan peran lebih luas dalam sistem pangan nasional. Hal itu sejalan dengan visi kemandirian pangan Tanah Air.
Ke depan, Bulog tidak hanya mengelola beras, tetapi juga mengendalikan pasokan sembilan bahan pokok.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan Bulog ingin mengambil posisi sentral dalam pengendalian harga dan distribusi pangan nasional, agar kemandirian pangan tidak bergantung pada pihak swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami punya visi, ke depan itu bukan hanya lokal nasional. Kami berkeinginan, bercita-cita, Bulog sebagai orkestrator rantai pasok pangan nasional," kata Rizal dalam CNN Indonesia Business, Selasa (20/1).
Menurutnya, Presiden Prabowo mengarahkan Bulog untuk mengendalikan sembilan bahan pokok, mulai dari beras hingga protein hewani, secara bertahap.
"Jadi bukan hanya beras nanti yang kita turus. Harapan kami dan harapan Pak Presiden sendiri saat kami pertama menghadap beliau, harus bisa mengendalikan sembilan bahan pokok kebutuhan pangan nasional," ujarnya.
Adapun beberapa bahan pokok yang dimaksud yakni beras, minyak, gula, tepung, daging, telur, susu, dan lainnya. "Ini harus ke depan seperti itu, dan kita jadi orkestratornya," lanjut Rizal.
Selain di dalam negeri, Bulog juga menargetkan Indonesia memiliki peran sebagai lumbung pangan dunia melalui ekspor ke negara-negara yang membutuhkan.
"Itu yang sesuai dengan cita-cita Pak Presiden. Jadi bukan hanya orkestrator di dalam negeri, tapi kita jadi lumbung pangannya dunia. Salah satunya dengan ekspor," imbuh Rizal.
Sejalan dengan target tersebut, Bulog mendapat mandat pengadaan beras sebesar 4 juta ton pada 2026, naik dari target tahun sebelumnya 3 juta ton.
"Pemerintah juga memberikan target yang luar biasa. Jadi targetnya, kalau tahun lalu kita target 3 juta, 2026 ditarget 4 juta ton. Bertambah cukup signifikan," kata Rizal.
Dia juga menyebutkan, untuk mencapai target tersebut, Bulog juga dihadapkan berbagai tantangan, terutama faktor cuaca dan produksi. Untuk itu, ke depan Bulog terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta aparat dan penyuluh di lapangan untuk memastikan penyerapan gabah berjalan optimal.
"Jadi kami, teman-teman di lapangan, khususnya teman-teman kami bagian penyerapan ini, kita update terus datanya. Sehingga penyerapan dengan cepat, tepat, dan maksimal," pungkasnya.
(lau/ins)