Kunjungi Aljazair, Wamentan Wujudkan Pupuk Murah untuk Petani

Kementerian Pertanian | CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 18:14 WIB
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memimpin delegasi tingkat tinggi Indonesia melakukan pertemuan dengan Menteri Negara sekaligus Menteri Energi dan Pertambangan Aljazair, Mohamed Arkab. (Foto: Kementan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memimpin delegasi tingkat tinggi Indonesia melakukan pertemuan dengan Menteri Negara sekaligus Menteri Energi dan Pertambangan Aljazair, Mohamed Arkab, yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama internasional di sektor energi dan pertambangan, khususnya untuk mengamankan bahan baku pupuk.

Sudaryono menyampaikan, kunjungan kerja ke Aljazair yang berlangsung pada 19-21 Januari 2026 dilakukan bersama jajaran PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai bagian dari upaya strategis mengamankan pasokan bahan baku pupuk bagi kebutuhan nasional.

"Selama tiga hari ini kami melakukan kunjungan kerja ke Aljazair dalam kaitannya untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk pupuk kita," kata Sudaryono di Aljir, Selasa (20/1).

Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama strategis antara Indonesia dan Aljazair di sektor hidrokarbon atau energi dan pertambangan, termasuk peluang kemitraan antara perusahaan kedua negara, terutama dalam pengembangan gas dan fosfat sebagai bahan baku utama pupuk.

Sudaryono menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari mandat langsung Presiden Prabowo Subianto untuk membangun kemandirian pupuk nasional dan menekan biaya produksi pertanian.

"Bapak Presiden Prabowo Subianto memerintahkan kami memastikan pupuk tersedia dengan harga murah dan terjangkau bagi petani. Salah satu kuncinya adalah menjamin pasokan bahan baku pupuk melalui kerja sama strategis dengan negara sahabat seperti Aljazair," ujarnya.

Menurut Sudaryono, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pupuk perlu dikurangi melalui skema kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, khususnya dalam pengamanan pasokan gas dan fosfat bagi industri pupuk nasional.

"Kerja sama ini bukan sekadar bisnis, tetapi bagian dari strategi besar negara untuk menurunkan biaya produksi pupuk, memperkuat industri dalam negeri, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas serta pendapatan petani," tambahnya.

Di pertemuan juga dibahas prospek kerja sama antara Grup Sonarem beserta anak perusahaannya dengan Pupuk Indonesia dalam pengembangan proyek fosfat dan gas di Aljazair, mulai dari tahap eksploitasi, pengolahan, hingga pemasaran. Kerja sama ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat kapasitas produksi pupuk nasional Indonesia.

Sebagai tindak lanjut konkret, pada kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Perusahaan Tambang Fosfat Aljazair Somiphos yang merupakan anak usaha Grup Sonarem, dengan PT. Pupuk Indonesia (Persero). MoU ini bertujuan untuk mempelajari dan mengembangkan peluang kerja sama di bidang fosfat sebagai bahan baku pupuk.

"Jadi kita ingin bagaimana bahan baku yang kita beli itu kemudian kita menguasai bahan baku di negara asal dan kemudian kita buat industrinya," kata Sudaryono.

Pada saat bersamaan, Pemerintah Aljazair menyampaikan komitmennya untuk membangun kemitraan strategis yang seimbang dan saling menguntungkan dengan Indonesia, berbasis pada prinsip manfaat bersama, alih teknologi, dan optimalisasi sumber daya nasional.

Menutup rangkaian kegiatan, Sudaryono menegaskan kembali bahwa diplomasi ekonomi ini merupakan bagian dari kerja nyata pemerintah dalam melaksanakan visi Presiden Prabowo Subianto.

"Target kita jelas, menjalankan perintah Presiden Prabowo untuk mewujudkan harga pupuk yang murah, tersedia, dan tepat waktu. Semua langkah ini kami lakukan agar petani Indonesia bisa bekerja dengan tenang dan sejahtera," ujar Sudaryono.

Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi menyambut baik dan mendukung penuh kerja sama tersebut. Menurutnya, pengamanan bahan baku dengan harga kompetitif menjadi kunci dalam menekan biaya produksi pupuk.

"Kesepakatan ini merupakan upaya mencari bahan baku pupuk yang murah, termasuk gas, sehingga kita bisa memproduksi pupuk yang lebih murah yang dampaknya meningkatkan kesejahteraan petani," pungkas Rahmad Pribadi.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK