ANALISIS

Tepatkah Wacana Pemerintah Bentuk BUMN Tekstil Rp101 T?

Muhammad Falah Nafis | CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 07:57 WIB
Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah akan membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang bergerak di sektor tekstil sebagai upaya memajukan industri padat karya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan rencana tersebut dibahas dalam Rapat Terbatas (Ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Minggu (11/1) lalu.

Airlangga mengatakan modal awal perusahaan pelat merah baru itu sebesar US$ 6 miliar atau sekitar Rp101,43 triliun (asumsi kurs Rp16.910 per dolar AS). Ia menyebut Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan menyiapkan suntikan modal jumbo tersebut.

"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN Tekstil, dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan US$6 bilion nanti akan disiapkan oleh Danantara," kata Airlangga saat menghadiri IBC Business Outlook 2026 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, dikutip Detik, Rabu (14/1).

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan pembentukan BUMN tekstil tersebut untuk fokus menangani masalah garmen dan tekstil setelah raksasa tekstil Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) pailit dan tutup tahun lalu.

"Berkaitan dengan kemarin kejadian yang menimpa PT Sritex. Jadi ini sedang proses, kita harapkan dalam waktu dekat semua proses sudah bisa diselesaikan sehingga PT Sritex bagaimana pun kita harus selamatkan dalam artian kegiatan ekonominya tetap harus berjalan," kata Prasetyo saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (19/10) seperti dikutip Antara.

Apakah benar membentuk BUMN tekstil baru dengan gelontoran modal jumbo dapat mengatasi masalah tekstil dalam negeri?

Pengamat BUMN Toto Pranoto mengatakan pemerintah harus meninjau dan mencermati dahulu rencana bisnis yang akan disusun Danantara terkait arah pengembangan BUMN tekstil tersebut. Sebab, dalam konteks maturitas industri, tekstil saat ini mungkin sudah memasuki fase penurunan.

"Dalam konteks maturitas industri, mungkin industri ini kategorinya sudah agak sunset (menurun). Perusahaan yang survive adalah yang mampu mengelola cost advantage dengan baik. Jadi kalo biaya labor tidak kompetitif, maka akan sulit bersaing," ujar Toto kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/1).

Toto menyampaikan industri tekstil dikenal dengan karakter padat karya (labor intensive). Saat ini, daya saing industri tekstil di Indonesia merosot karena masalah daya saing teknologi dan biaya pekerja yang tidak kompetitif.

"Karenanya, produsen tekstil banyak beralih ke negara dengan upah buruh relatif rendah, seperti Bangladesh, Vietnam, India, dan sejenisnya," jelasnya.

Dalam membangun industri tekstil, Toto menilai Danantara harus mempunyai strategi diferensiasi agar segmentasi pasarnya berbeda dengan negara kompetitor di Asia. Oleh karena itu, Danantara sebaiknya melibatkan eksportir tekstil swasta yang berpengalaman pada tahap awal pembentukan BUMN tekstil.

"Saya kira BUMN sudah lama tidak terlibat di industri (tekstil) ini. Jadi ada baiknya Danantara juga melibatkan eksportir tekstil swasta yang berpengalaman buat berpartner dengan BUMN di tahap awal," kata Toto.

Pernah Punya, Bangkrut Juga


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :