Strategi Pelni Hadapi Mudik Lebaran di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
PT Pelayaran Nasional Indonesia atau Pelni menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi puncak arus mudik dan arus balik Lebaran di tengah potensi cuaca ekstrem. Perusahaan menegaskan fokus pengendalian dilakukan pada aspek-aspek yang berada dalam kendali perusahaan.
Direktur Utama Pelni Tri Andayani mengatakan faktor cuaca merupakan kondisi alam yang tidak bisa diintervensi. Karena itu, Pelni memusatkan perhatian pada kesiapan infrastruktur dan armada.
"Kalau cuaca buruk jelas itu faktor alam yang tidak bisa kita intervensi, maka yang bisa kita intervensi adalah apa namanya kondisi dari dermaga, kita ya kondisi dari pelabuhan, dan kondisi dari kapal itu sendiri. Itu yang controllable," ujarnya dalam acara bincang media di Amanaia Menteng, Kamis (22/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anda sapaan akrabnya menekankan pentingnya sinergi antara operator kapal dan pengelola pelabuhan guna memastikan kelancaran operasional selama periode mudik. Menurutnya, kolaborasi yang intensif menjadi kunci dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang.
"Kalau kondisi dari pelabuhan itu tentu controllable teman-teman pengelola pelabuhan, artinya sinergi kolaborasi antara kami operator kapal dengan para pengelola pelabuhan ini harus lebih intensif," katanya.
Ia menyebut secara umum persiapan angkutan Lebaran dilakukan dengan pola yang hampir sama setiap tahun. Tantangan utama terletak pada keterbatasan jumlah kapal di tengah lonjakan penumpang yang signifikan.
"Tapi kalau secara keseluruhan pasti tentu persiapan kita itu kurang lebih sama gitu ya. Artinya apa yang menjadi konsen kita bahwa karena jumlah kapal kita yang terbatas, apalagi lebaran ya itu karena negara kita juga mayoritas muslim, sehingga pasti yang ingin mudik gitu ke kampung halamannya juga dalam jumlah yang banyak," ujarnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Pelni memastikan seluruh armada siap beroperasi tanpa ada kapal yang tertahan di galangan. Seluruh perawatan tahunan telah diselesaikan jauh sebelum Lebaran.
"Nah ini tentu karena keterbatasan kapal kita tidak mau ada satupun kapal kita yang masih ada di galangan untuk maintenance atau perawatan, sehingga kita sudah mengantisipasi itu dengan melakukan pemeliharaan perawatan kapal yang annual, yang tahunan itu kita sudah lakukan semua kemarin di Oktober," kata Tri.
Perawatan lanjutan dijadwalkan setelah periode Lebaran berakhir. Sementara itu, selama Januari hingga Februari, Pelni melakukan perbaikan ringan secara berjalan untuk memastikan kesiapan layanan.
Anda menjelaskan hasil evaluasi angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga menjadi dasar pembenahan operasional. Perbaikan dilakukan langsung di lapangan agar tidak mengganggu jadwal pelayaran.
"Nah perbaikan-perbaikan kecil atas operasional Nataru kemarin kemudian menjadi review kita itu kita lakukan sifatnya running repair," katanya.
Selain aspek teknis kapal, Pelni juga membenahi fasilitas penumpang demi meningkatkan kenyamanan selama perjalanan laut yang memakan waktu panjang. Sejumlah fasilitas langsung diganti jika dinilai tidak layak.
"Kemudian yang lainnya tentu kita juga langsung apa membenahi dari Nataru kemarin kemudian misalnya ada ya namanya juga pelayaran berlayar berhari-hari, artinya kita misal cek lagi nih misalnya toilet-toilet, ada keran kek, ada shower kek yang rusak langsung kita ganti," terangnya.
Pelni juga mengganti perlengkapan kabin yang sudah tidak layak pakai. Seluruh langkah tersebut ditargetkan rampung sebelum puncak mudik Lebaran.
"Kemudian ada juga apa namanya kasur-kasur yang sekiranya sudah tidak layak untuk digunakan langsung kita turunin. Jadi itu cepat kita lakukan di dalam Januari-Februari ini semuanya gitu. Jadi kita benar-benar ingin memastikan bahwa kita benar-benar siap untuk melayani angkutan lebaran tadi," pungkas Anda.
(lyd/ins)