Setop Mogok, Pedagang Daging Sapi Se-Jabodetabek Jualan Lagi Malam Ini

CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 20:32 WIB
Aktivitas perdagangan daging sapi di wilayah Jabodetabek dipastikan kembali normal pada Kamis (22/1) malam ini.
Aktivitas perdagangan daging sapi di wilayah Jabodetabek dipastikan kembali normal pada Kamis (22/1) malam ini. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivitas perdagangan daging sapi di wilayah Jabodetabek dipastikan kembali normal malam ini setelah pedagang dan pelaku usaha sepakat mengakhiri aksi mogok yang sempat berlangsung pada Kamis (22/1).

Kepastian tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (DPP JAPPDI) Asnawi melalui instruksi resmi kepada seluruh pengurus dan anggota JAPPDI, menyusul rapat koordinasi dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

Asnawi menyebut pihaknya mendapat mandat untuk memastikan seluruh anggota kembali beraktivitas dan menghentikan aksi mogok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sebagai pengurus dan Ketua Umum DPP JAPPDI diamanahkan dan dimandatkan dengan ini diminta teman-teman anggota JAPPDI sebagai pelaku usaha bandar jagal dan pedagang daging eceran di pasar-pasar se-Jabodetabek diminta untuk kembali beraktivitas mulai malam hari ini dan seterusnya dan tidak ada lagi aksi mogok tidak berjualan," ujar Asnawi dalam instruksi tertulis DPP JAPPDI yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (22/1).

Dalam instruksi yang sama, Asnawi juga menegaskan seluruh rumah potong hewan (RPH) atau tempat potong hewan (TPH), bandar jagal, serta pedagang daging eceran wajib kembali menjalankan aktivitas perdagangan secara normal mulai malam ini.

"Seluruh RPH atau TPH, pelaku usaha bandar jagal, para pelaku pedagang daging eceran di pasar-pasar se-Jabodetabek wajib beraktivitas kembali mulai malam ini dan tidak ada lagi aksi mogok libur berdagang," ujarnya.

Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut hasil rapat koordinasi yang dipimpin Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Agung Suganda, serta dihadiri Badan Pangan Nasional (Bapanas), pimpinan Gabungan Pelaku Usaha Peternak Sapi Indonesia (Gapuspindo), Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), pelaku usaha importir ternak ruminansia besar (feedloter), dan jajaran direktorat teknis di Kementan.

Dalam rapat tersebut, para pihak juga menyepakati penetapan harga sapi siap potong di tingkat feedlot sebesar Rp55 ribu per kilogram bobot hidup yang berlaku mulai Kamis (22/1) hingga menjelang Hari Raya Idulfitri Maret 2026.

"Harga sapi siap potong timbang hidup di feedlot Rp55 ribu per kilogram berlaku sejak hari Kamis, 22 Januari 2026 hingga menjelang Hari Raya Idulfitri Maret 2026," kata Asnawi.

Dengan adanya kesepakatan tersebut, JAPPDI meminta seluruh anggotanya mematuhi hasil rapat dan menjaga stabilitas pasokan daging sapi di wilayah Jabodetabek.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan mengatakan para pedagang pada prinsipnya siap kembali berjualan selama tuntutan mereka terkait harga dapat dipenuhi.

"Mereka akan jualan kalau misalnya apa yang mereka tuntut itu sudah dipenuhi. Kan pedagang itu concern-nya itu adalah tidak ingin menjual daging-daging itu di atas harga acuan Rp140 ribu per kilogram," kata Iqbal di Kantor Kementerian Pertanian.

Ia menjelaskan pedagang ingin menjual daging sapi sesuai harga acuan agar tidak memberatkan konsumen sekaligus tetap menjaga kelangsungan usaha.

Karena itu, para pedagang juga berkonsultasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan untuk mencari solusi atas persoalan harga di tingkat hulu.

Pemerintah pun memfasilitasi pertemuan antara pedagang, asosiasi, dan Ditjen PKH. Dalam pertemuan itu, harga baik untuk daging beku maupun sapi hidup dipastikan sudah berada di level yang sesuai dengan tuntutan pedagang.

"Sudah mempertemukan dengan PKH yang harga baik itu frozen meat maupun harga daging sapinya itu sudah sesuai dengan yang mereka tuntut," ujarnya.

Ia menambahkan dinamika harga daging saat ini juga dipengaruhi oleh faktor impor, baik sapi hidup maupun daging beku, yang sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

"Kalau misalnya dua-duanya tersebut dari impor, ya tentu saja ini akan sedikit banyak akan bisa mempengaruhi dinamikanya. Karena nilai tukar rupiah kita," kata Iqbal.

Pedagang daging sapi dan RPH di Jabodetabek menggelar aksi mogok berjualan sejak Kamis (22/1) dan direncanakan hingga Sabtu (24/1) sebagai bentuk protes atas mahalnya harga sapi hidup di tingkat feedloter.

Ketua DPD APDI DKI Jakarta Wahyu Purnama menyebut mahalnya harga sapi hidup membuat harga karkas di RPH ikut naik sehingga daya beli masyarakat melemah.

"Seluruh anggota APDI bandar sapi potong dan pedagang daging akan melakukan aksi mogok dagang sebagai bentuk protes dan keprihatinan," ujarnya dalam surat pemberitahuan aksi ke Mabes Polri.

Mentan Amran merespons keras aksi tersebut dan mengancam akan mencabut izin importir sapi bakalan yang diduga memainkan harga.

"Kami sudah bahas tadi dan bahkan tadi malam langsung kami tindak lanjuti aksi mogok. Tadi katanya menurut laporan itu harga dari feedloter di atas harga yang telah ditetapkan. Hampir pasti izinnya aku cabut kalau dia coba-coba main-main," kata Amran.

Amran juga memastikan persoalan telah disepakati untuk diselesaikan dan para pedagang siap kembali berjualan.

"Tadi malam sudah ketemu (dengan asosiasi), sudah sepakat. (Mereka akan) jual lagi. Dan timnya sudah ketemu," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)