TAIPAN

Edwin Chen, Eks Karyawan Google Jadi Konglomerat AI Berharta Rp301,9 T

CNN Indonesia
Minggu, 25 Jan 2026 09:10 WIB
Pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) melahirkan sejumlah konglomerat baru di bidang teknologi. Salah satunya, Edwin Chen. (CNN Firly Ariady).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) melahirkan sejumlah konglomerat baru di bidang teknologi. Salah satunya, Edwin Chen yang mendirikan perusahaan pelabelan data dalam skala besar, Surge AI.

Berdasarkan catatan Forbes Real Time Billionaires, Sabtu (24/1), total harta Chen mencapai US$18 miliar atau sekitar Rp301,98 triliun (asumsi kurs Rp16.777 per dolar AS).

Tumpukan kekayaannya itu menempatkan Chen pada peringkat ke-144 orang terkaya di dunia.

Tahun lalu, Chen juga menjadi konglomerat termuda di Daftar 400 Orang AS Terkaya versi Forbes.

Lantas bagaimana kisah hidup Chen?

Dilansir dari berbagai sumber, Edwin Chen lahir di Florida, AS pada 1998. Ia dibesarkan oleh keluarga imigran Taiwan yang mengadu nasib di Negeri Paman Sam dengan membuka restoran di kota kecil, Crystal Clear.

Chen kecil menaruh minat yang tinggi pada matematika dan ingin belajar puluhan bahasa. Baginya kedua ilmu itu berkaitan dan masih menarik perhatiannya sampai sekarang.

"Saya selalu tertarik pada dasar-dasar matematika dari bahasa," ujar Chen dalam salah satu wawancaranya dengan Forbes pada September 2025 lalu.

Saat remaja, Chen sudah dikenal sebagai siswa yang cerdas. Meski bekerja sambilan di restoran keluarganya, Peking Garden, prestasinya di sekolah tak surut.

Bahkan, ia menghabiskan 2 tahun terakhir SMA-nya di sekolah asrama elite Choate di Connecticut dengan beasiswa penuh. Di tahun terakhirnya, ia banyak membantu riset gurunya yang juga seorang dosen di Universitas Yale.

Setelah lulus SMA, Chen melanjutkan studi di MIT dengan mengambil jurusan matematika dan ilmu komputer. Bersama sejumlah teman kuliahnya yang memiliki minat yang sama, ia mendirikan perkumpulan linguistik.

Pada tahun ketiganya di MIT, Chen memutuskan untuk magang di perusahaan hedgefund milik salah satu konglomerat pendiri Paypal, Peter Thiel, di San Fransisco.

Ternyata, ia sangat menyukai magang di perusahaan tersebut hingga tak berniat untuk kembali melanjutkan kuliahnya. Kendati, ia tetap lulus beberapa tahun kemudian setelah mengambil mata kuliah yang diperlukan.

Selepas magang, pria yang menerapkan gaya hidup vegan ini bekerja di sejumlah raksasa internet mulai dari Facebook, Google, hingga Twitter. Di perusahaan-perusahan itu, ia menduduki posisi yang melibatkan moderasi konten dan algoritma rekomendasi.

Pada 2020, Chen memutuskan untuk mendirikan Surge AI yakni perusahaan penyedia data pelatihan, pelabelan, dan Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF) yang berbasis di San Francisco. Ia diperkirakan mengempit 75 persen saham perusahaan.

Keputusan Chen mendirikan Surge AI tak lepas dari keinginannya untuk data berlabel manusia yang berkualitas tinggi dalam skala besar yang dibutuhkan industri kecerdasan buatan.

"Saya telah membangun versi awal sistem ini selama 10 tahun terakhir," ujar pria eksentrik yang menargetkan untuk jalan kali 20 ribu langkah sehari ini.

Berkat keyakinan dan tangan dingin Chen, Surge AI mampu meraup pendapatan US$1,2 miliar atau berkisar Rp19,39 triliun (asumsi kurs Rp16.162 per dolar AS) pada 2024.

Kurang dari lima tahun setelah berdiri, pesaing Scale AI ini mampu menggaet klien besar seperti Google, Meta, OpenAI, hingga Microsoft. Produk Surge AI dipakai untuk melatih model kecerdasan buatan Gemini hingga ChatGpt.

Per Juli 2025, valuasi Surge AI diperkirakan berkisar US$25 miliar hingga US$30 miliar setelah Bloomberg melaporkan perusahaan tengah mengincar pendanaan US$1 miliar.

(sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK