ANALISIS

Purbaya Guyur Bank Rp200 T: Ekonomi Jadi Ngegas Atau Cuma Pindah Kas?

Muhammad Flah Nafis | CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 07:57 WIB
Aksi Purbaya memindahkan dana nganggur ke bank jadi pembuka keran mengatasi sistem keuangan yang kering. Dampaknya terbatas karena ada PR lanjutan.
PR Lanjutan Usai Membuka Keran. (Foto: cnnindonesia/safirmakki)

Syafruddin mengatakan apabila bank terlihat lambat menyalurkan dana, masalahnya bukan karena tidak punya dana, tetapi terkait fungsi risiko dan permintaan kredit.

"Bank akan menahan ekspansi ketika kualitas debitur melemah, permintaan investasi tidak kuat, atau insentif imbal hasil lebih menarik di aset aman," terang Syafruddin.

Ia menyampaikan tingginya premi risiko global, yang tercermin dari yield US Treasury 10 tahun di sekitar 4,2 persen, mendorong perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi, bank bisa kesulitan karena pipeline debitur berkualitas terbatas, dan bisa 'enggan' ketika risk-adjusted return kredit kalah menarik dibanding penempatan lain," katanya.

Menurut Syafruddin, penyaluran kredit dinilai baru akan meningkat ketika perbankan merasa risiko menurun dan ekspansi didukung modal serta profitabilitas yang memadai, bukan semata karena bertambahnya likuiditas.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai kebijakan pemindahan dana mengendap ke perbankan oleh Purbaya tidak salah, tetapi belum cukup ampuh. Ia menganalogikan langkah yang Purbaya seperti membuka keran air.

"Airnya sudah mengalir, tapi selangnya belum diarahkan ke kebun yang tepat. Jadi bukan disetop, tapi disempurnakan," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/1).

Ia menilai apabila kebijakan langsung dihentikan, justru akan berisiko mengembalikan kondisi sebelumnya, yakni dana pemerintah kembali mengendap dan perputaran ekonomi melemah. Pemindahan dana SAL sebagai langkah taktis yang diperlukan untuk mencegah likuiditas pemerintah yang mengalami 'mati suri'.

"Memindahkan SAL memang langkah taktis yang benar untuk mencegah likuiditas mati suri," katanya.

Namun, Ronny menegaskan apabila kebijakan tersebut berdiri sendiri efeknya akan terbatas sehingga dibutuhkan policy mix atau gabungan kebijakan fiskal dan moneter. Ia menyebut dari sisi moneter tercermin dari kredit yang produktif sedangkan dari sisi fiskal tercermin dari seberapa produktif belanja pemerintah.

"Harus ada policy mix dengan percepatan belanja pemerintah yang betul-betul produktif, insentif risiko, misalnya penjaminan kredit sektor prioritas, dan kepastian arah kebijakan fiskal ke depan," katanya.

Dengan demikian, apabila tidak diiringi policy mix, ia menilai bank tetap akan defensif, ekonomi berputar pelan, dan publik menyimpulkan kebijakannya gagal, meski belum dilengkapi ekosistem pendukung yang kuat.

(pta)

HALAMAN:
1 2