ANALISIS

Efek Domino Ambruk IHSG: Merembet ke Rupiah hingga Dompet Rakyat

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 07:41 WIB
Ambruknya IHSG tidak hanya merugikan investor pasar modal, ada dampak lanjutan bagi masyarakat luas yang tidak terlibat langsung sebagai 'pemain saham'.
Mengerek Longsor Bursa RI. (Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim)

Meski demikian, Oktavianus menilai masih ada ruang untuk meredam tekanan pasar. Kunci utamanya terletak pada komitmen pemerintah dalam membenahi tata kelola dan keterbukaan pasar modal.

"Kami berpandangan yang dapat meredam tekanan di pasar adalah hasil dan komitmen eksekusi dari pemerintah dalam membenahi keterbukaan informasi di pasar saham Indonesia," jelasnya.

Ia menambahkan, sorotan utama MSCI selama ini berkaitan dengan keterbukaan beneficial ownership dan formula free float saham. Perbaikan di area tersebut dinilai krusial. Jika perbaikan tersebut dijalankan secara konsisten, tekanan di pasar saham bisa berkurang. Bahkan, aliran dana pasif berpeluang kembali masuk ke Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena yang dipertanyakan dari MSCI adalah terkait keterbukaan UBO dan formula free float. Jika eksekusi berjalan dengan baik dan interm freeze dibatalkan maka akan mendorong pasif flow kembali dan mengurangi tekanan jual di pasar," terangnya.

Selain reformasi tata kelola, Oktavianus menilai kebijakan peningkatan likuiditas juga menjadi faktor penting. Beberapa instrumen dinilai mampu menopang pasar di tengah tekanan.

Ia menyebut sejumlah langkah yang dapat dilakukan, mulai dari peran Danatara hingga penguatan investor institusional domestik. Langkah-langkah ini dinilai dapat menjaga stabilitas pasar.

"Pertama, Danatara yang akan lebih aktif investasi pada pasar saham Indonesia dengan fokus konsituen MSCI, freefloat besar dan likuiditas tinggi," kata Oktavianus.

Kedua, ia menyoroti potensi kenaikan batas investasi asuransi menjadi maksimal 20 persen di pasar saham. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperluas basis investor jangka panjang.

Oktavianus juga menekankan pentingnya penguatan instrumen ETF untuk menjaga likuiditas. Subsidi market maker dinilai dapat membuat perdagangan lebih stabil. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, saham berkapitalisasi besar dan defensif menjadi pilihan utama. Dividen juga menjadi daya tarik di tengah ketidakpastian.

"Maka saham yang akan menarik adalah blue chip dan juga defensif stock dengan devidend play," ucap Oktavianus.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai dampak IHSG anjlok terhadap masyarakat non-investor bersifat tidak langsung. Mayoritas masyarakat memang tidak terhubung langsung dengan pasar saham.

"Jadi IHSG turun tidak otomatis bikin dompet rakyat langsung kempes besok pagi," kata Ronny.

Ia menilai IHSG lebih mencerminkan kondisi psikologis dan kepercayaan dunia usaha. Penurunan tajam dalam jangka panjang bisa menjadi sinyal kegelisahan ekonomi. Dampak langsung amblasnya IHSG lebih terasa pada lembaga keuangan dan korporasi, sementara masyarakat umum merasakannya secara bertahap.

"Dampak langsung paling terasa ke kelompok tertentu seperti dana pensiun, asuransi, dan reksa dana yang dananya dikelola di pasar saham," katanya.

Ia menambahkan, penurunan IHSG juga bisa menunda ekspansi bisnis dan penciptaan lapangan kerja. Efek lanjutan inilah yang berpotensi menyentuh ekonomi riil.

"Pendeknya, masyarakat yang tidak main saham tidak kena dampak langsung. Dampaknya lebih ke psikologi, investasi, dan dunia usaha," kata Ronny.

Menurutnya, kinerja IHSG memang bukan penyebab utama kinerja ekonomi nasional, tapi bisa jadi akselerator. Apabila ketidakstabilan IHSG berlangsung lama, dampaknya akan makin luas ke perekonomian.

"Ekonomi nasional baru terganggu kalau ketidakstabilan IHSG berlangsung lama dan menular ke sektor riil," pungkasmya.

(pta)

HALAMAN:
1 2