Bos LPS Ungkap Pemicu Kredit Perbankan Lesu Meski BI Rate Dipangkas

CNN Indonesia
Selasa, 10 Feb 2026 21:20 WIB
Bos LPS Anggito Abimanyu menilai penurunan BI rate menjadi 4,75 persen belum diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan secara signifikan. (FOTO:Dok Kemenkeu).
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 4,75 persen belum diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan secara signifikan.

Sepanjang 2025 Bank Sentral telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin (bps) dari level sebelumnya 6 persen.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menilai lambatnya penurunan tersebut salah satunya dipengaruhi porsi simpanan nasabah yang menerima bunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP).

"Saat ini ada sekitar 30 persen simpanan yang di antaranya special rate. Itu salah satu yang membuat suku bunga pinjaman tidak bisa turun sesuai yang diharapkan," ujar Anggito dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2).

Berdasarkan data LPS, porsi simpanan di atas TBP mencapai Rp3.336 triliun atau sekitar 30 persen dari total dana simpanan nasabah sebesar Rp13.424 triliun.

Dari jumlah tersebut, korporasi swasta mendominasi dengan 50,31 persen, diikuti dana pemerintah dan BUMN sebesar 22,77 persen, nasabah individu 22,69 persen, dan lainnya 4,23 persen.

Anggito menambahkan, meski BI telah menurunkan suku bunga sebesar 75 bps hingga akhir tahun lalu, suku bunga kredit perbankan baru turun sekitar 0,5 persen.

"Jadi saya sudah sampaikan bahwa BI sudah turunkan 75 bps tapi baru turun 0,5 persen suku bunga perbankan. Jadi transmisinya lambat," ungkapnya.

Sebelumnya, BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 masih di kisaran 8-12 persen meski Moody's memangkas outlook utang Pemerintah Indonesia dari stabil ke negatif.

Artinya, masih ada peluang pertumbuhan kredit lebih tinggi dari tahun lalu, 9,69 persen.

"Outlook kredit masih 8-12 persen karena semua variabel dan indikator lainnya masih menunjukkan hal-hal yang membuat kita bertahan di bilangan proyeksi itu," ujar Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Alexander Lubis dalam forum Editors Briefing BI di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2).

(lau/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK