Laba Unilever Lompat 128 Persen usai Lepas Sariwangi ke Djarum
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 128 persen sepanjang 2025 menjadi Rp7,6 triliun. Lonjakan ini salah satunya didukung aksi korporasi berupa divestasi bisnis.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan kinerja keuangan perusahaan meningkat tajam setelah memasukkan dampak pelepasan unit usaha dalam perhitungan total operasi.
"Termasuk keuntungan bersih dari divestasi bisnis es krim, total laba bersih mencapai Rp7,6 triliun atau setara Rp201 per saham, atau meningkat 128 persen dibanding tahun lalu," ujar Benjie dalam konferensi pers secara daring, Kamis (12/2).
Sebelumnya, perusahaan mengumumkan penjualan bisnis teh Sariwangi ke entitas usaha milik Grup Djarum, PT Savoria Kreasi Rasa, senilai Rp1,5 triliun. Transaksi dilakukan melalui penandatangan Perjanjian Pengalihan Bisnis (BTA) pada Selasa (6/1) lalu.
Secara operasional, pada kuartal IV 2025 perusahaan mencatat penjualan bersih Rp7,9 triliun atau tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan tersebut utamanya didorong kenaikan volume dasar sebesar 12,4 persen hasil berbagai langkah penataan bisnis sejak tahun sebelumnya serta efek pembanding yang lebih rendah.
Laba bersih kuartal IV tercatat Rp540 miliar, namun tanpa biaya transformasi satu kali, nilainya diperkirakan mencapai Rp1 triliun.
Untuk setahun penuh 2025, penjualan dari operasi berkelanjutan tumbuh 4,3 persen menjadi Rp31,9 triliun. Penjualan domestik meningkat stabil, sementara bisnis ekspor naik 11,1 persen.
"Sepanjang 2025 penjualan tumbuh 4,3 persen menjadi Rp31,9 triliun, dengan pertumbuhan volume 1,2 persen dan harga 2,8 persen, menunjukkan pemulihan yang seimbang dan sehat," kata Benjie.
Margin kotor setahun penuh tercatat 46,9 persen, dan laba sebelum pajak mencapai 14,1 persen atau naik 183 basis poin dibanding tahun sebelumnya. Secara total, termasuk bisnis yang telah dilepas, penjualan tahunan mencapai Rp36,4 triliun atau meningkat 3,5 persen yoy, dengan penjualan domestik naik 3,3 persen.
Benjie menambahkan bila penjualan bisnis es krim dihitung hingga akhir Desember 2025, maka pertumbuhan penjualan tahunan seharusnya mencapai sekitar 4,2 persen. Margin kotor total operasi tercatat 46,7 persen, turun 84 basis poin secara tahunan, tetapi sebenarnya naik 9 basis poin jika biaya transformasi dikecualikan.
Ia menjelaskan peningkatan kinerja tersebut berkaitan dengan perbaikan fundamental bisnis yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun, termasuk penataan portofolio dan struktur biaya.
"Pilihan strategi yang kami ambil untuk memperkuat fundamental menghasilkan bisnis yang lebih sehat dan tangguh. Kami menerapkan disiplin harga, mengganti distributor yang tidak berkinerja, serta mereset portofolio termasuk divestasi bisnis es krim dan teh Sariwangi," katanya.
Perusahaan juga melaporkan posisi pasar tetap stabil sepanjang 2025 dengan pangsa nilai 30,9 persen pada semester II dan pangsa volume 26,1 persen meski persaingan industri berlangsung ketat.
Selain kinerja laba, perusahaan juga menyoroti kondisi keuangan dan strategi investasi. Unilever Indonesia mencatat arus kas bebas sebesar Rp4,9 triliun sepanjang 2025, sekitar 1,7 kali lebih besar dibanding 2024, tanpa memiliki utang, sehingga memberi ruang fleksibilitas untuk ekspansi.
Belanja modal (capex) tercatat sekitar Rp1 triliun atau setara 3 persen dari penjualan dengan sekitar 60 persen dialokasikan untuk efisiensi biaya dan peningkatan kapasitas produksi guna memperkuat produktivitas serta kesiapan pertumbuhan ke depan.
Direktur Keuangan Unilever Indonesia Neeraj Lal mengatakan perusahaan menyiapkan belanja modal pada 2026 sekitar 3-4 persen dari penjualan, lebih tinggi dibanding realisasi 2025.
Menurutnya, investasi tersebut akan diarahkan untuk melanjutkan transformasi, menambah kapasitas seiring kenaikan volume, serta mendukung inovasi produk dan format baru bagi konsumen.
"Kami memperkirakan belanja modal 2026 berada di kisaran 3 persen sampai 4 persen dari penjualan. Investasi ini didorong oleh kelanjutan transformasi, peningkatan volume, serta kebutuhan inovasi dan pengembangan kapasitas," kata Neeraj.
(del/ins)