Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Ancaman Trump ke Iran

CNN Indonesia
Jumat, 20 Feb 2026 11:15 WIB
Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Jumat (20/2) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar melihat konflik AS dengan Iran.
Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Jumat (20/2) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar melihat konflik AS dengan Iran. (Dok. AKR Corporindo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Jumat (20/2) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap semakin panasnya konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam Iran dengan menyebut Teheran akan menderita apabila tak menyetujui kesepakatan nuklir dalam beberapa hari ke depan.

Mengutip Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent naik 21 sen atau 0,3 persen menjadi US$71,87 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 23 sen atau 0,4 persen menjadi US$66,66 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemarin, Trump menyampaikan Iran akan mengalami 'hal buruk' apabila tak mencapai kesepakatan terkait program nuklir dalam waktu dekat. Ia menetapkan batas waktu kepada Iran selama 10 hingga 15 hari untuk deal dengan AS.

Di sisi lain, Iran telah merencanakan latihan militer laut bersama Rusia. Menurut kantor berita lokal, rencana dilakukan beberapa hari setelah Iran sempat menutup sementara Selat Hormuz untuk keperluan latihan militer.

Konflik di wilayah tersebut dinilai dapat menghambat pasokan minyak ke pasar global, serta memicu kenaikan harga.

Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi adanya laporan turunnya cadangan minyak mentah AS dan terbatasnya ekspor, juga merosotnya pasokan dari negara-negara produsen minyak di dunia.

Menurut laporan Administrasi Informasi Energi pada Kamis (19/2), stok minyak mentah AS turun sebanyak 9 juta barel karena meningkatnya aktivitas pengolahan dan ekspor.

Sementara, menurut data dari Joint Organizations Data Initiative, ekspor minyak dari Arab Saudi turun menjadi 6,988 juta barel per hari pada Desember 2025. Angka ini merupakan terendah sejak September dari negara produsen dan eksportir minyak terbesar di dunia tersebut.

[Gambas:Video CNN]

(fln/pta)