Tanpa Rem Ekspansi Ritel Modern, Mampukah Kopdes Saingi Alfamart Cs?
Kepala Biro Humas KPPU Deswin Nur menekankan suntikan modal negara saja tidak cukup buat menghidupkan koperasi. Tantangan utama Kopdes Merah Putih justru terletak pada tata kelola (governance), profesionalisme manajemen, transparansi, dan efisiensi operasional.
Sebab, ritel modern cenderung unggul karena sistem logistik yang kuat, manajemen stok berbasis data, standardisasi operasional, serta kontrol biaya yang ketat.
"Jika Kopdes ingin benar-benar bersaing dengan ritel modern, maka transformasi manajerial dan digitalisasi menjadi prasyarat. Tanpa itu, tambahan modal berisiko tidak menghasilkan daya saing yang sustain," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deswin menyatakan yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara perlindungan dan kompetisi melalui kebijakan. Fokus kebijakan dapat memastikan tingkat kesetaraan persaingan, yakni aturan yang sama, transparansi, dan tidak ada perlakuan diskriminatif, baik terhadap koperasi maupun ritel modern.
"Sehingga pada akhirnya, Kopdes akan mampu bertahan dan berkembang bukan karena pesaingnya dibatasi, tetapi karena ia mampu menghadirkan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat desa. Saya yakin itulah fondasi daya saing yang paling kokoh, dan juga cita-cita besar Presiden kita," pungkasnya.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita memandang ritel minimarket modern bukan hanya sekadar toko kelontong besar. Ada tiga keunggulan yang dimiliki Indomart hingga O!Save yaitu sistem logistik terintegrasi, manajemen inventori berbasis data, dan disiplin operasional.
Lewat tiga kekuatan itu, imbuh Ronny, harga barang kompetitif, stok relatif stabil, dan pengalaman belanja konsumen yang konsisten cenderung puas.
"Jadi kalau Kopdes Merah Putih mau bersaing head to head di arena yang sama, tanpa diferensiasi, rasanya memang berat. Modal kuat Kopdes justru bukan di skala, tetapi di kedekatan sosial dan 'embeddedness' lokal," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/2).
Ronny melihat Kopdes Merah Putih juga mempunyai keunggulan struktural, yakni captive market berbasis anggota, akses pada distribusi bantuan atau program pemerintah, serta legitimasi sosial.
Apabila dikelola dengan transparan dan profesional, bukan sekadar bagi-bagi jabatan, ia yakin Kopdes Merah putih bisa beroperasi dengan model gabungan (hybrid) sehingga bisa menjadi simpul ekonomi desa.
"Mereka bisa bermain di model hybrid, yakni toko ritel, aggregator produk lokal, layanan keuangan mikro, serta distribusi pupuk dan kebutuhan tani. Artinya bukan cuma jual sabun dan mi instan, tapi jadi simpul ekonomi desa," terang Ronny.
Soal wacana menyetop ekspansi ritel modern di pedesaan, ia menilai usulan tersebut akan menjadi langkah ekstrem dan berisiko kontraproduktif. Sebab, larangan masuk pasaran adalah bentuk intervensi proteksionis negara.
Menurutnya, intervensi tersebut dalam jangka pendek mungkin akan memberi napas bagi koperasi. Namun, dalam jangka panjang bisa menciptakan risiko pengelola jadi kurang efisien atau tidak berbenah karena merasa 'aman' dari kompetisi (moral hazard).
"Pasar tanpa kompetisi cenderung tidak efisien, seperti harga bisa naik dan pelayanan stagnan. Kalau pemerintah langsung membatasi pesaing, ya seperti petinju yang minta lawannya diikat dulu sebelum naik ring," katanya.
Meski begitu, Ronny menilai dalam konteks pembangunan desa, intervensi pemerintah sangat diperlukan, tetapi bentuknya harus benar. Pemerintah sebaiknya fokus terhadap arena persaingan yang setara (level playing field), seperti mengatur zonasi berbasis kepadatan ekonomi, perbaiki akses pembiayaan koperasi, wajibkan kemitraan ritel modern dengan UMKM lokal, dan dorong digitalisasi koperasi.
Artinya, intervensi untuk mengatur agar tidak terjadi predatory pricing atau dominasi berlebihan. Predatory pricing adalah strategi menjual barang dengan harga sangat murah, bahkan di bawah biaya produksi, untuk sementara waktu dengan tujuan menyingkirkan pesaing bisnis.
"Intinya, Kopdes Merah Putih tidak perlu menjadi 'Alfamart versi desa', tapi harus menjadi institusi ekonomi lokal yang multiperan dan berbasis komunitas. Kalau sekadar meniru model korporasi, koperasi akan kalah napas. Tapi kalau bermain di kekuatan sosial-ekonomi desa, justru bisa jadi model ekonomi kerakyatan yang relevan di era modern," pungkasnya.
(pta)