ANALISIS

Tanpa Rem Ekspansi Ritel Modern, Mampukah Kopdes Saingi Alfamart Cs?

Muhammad Falah Nafis | CNN Indonesia
Kamis, 26 Feb 2026 08:29 WIB
Jika cuma meniru ritel modern, Kopdes Merah Putih bakal kalah. Kuncinya adalah diferensiasi model bisnis dengan mengandalkan keunggulan koperasi. (Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto melempar wacana larangan ritel modern masuk desa. Keberadaan Alfamart hingga O!Save  dinilai mengancam keberlangsungan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih).

Menurutnya, dominasi Alfamart Cs dapat menghambat perputaran ekonomi di desa dan menekan pelaku usaha lokal.

Tak lama, Yandri meluruskan pertanyaannya melalui Instagram @yandri_susanto. Ia menegaskan maksud dari wacana tersebut, yakni ekspansi ritel modern yang harus disetop karena khawatir akan mengancam kelangsungan usaha di daerah, termasuk Kopdes Merah Putih. Sedangkan bagi ritel modern yang terlanjur hadir di desa, dipersilakan lanjutkan operasional.

"Indomaret, Alfamart yang sudah ada silahkan jalan, saya tidak pernah mengusulkan untuk ditutup. Yang disetop itu izin baru. Jangan sampai minimarket-minimarket ini sampai ke desa-desa dan bisa mematikan usaha-usaha rakyat di desa," ungkap Yandri dalam unggahannya, Rabu (25/2).

Menteri Koperasi Ferry Juliantono ikut bersuara merespons wacana larangan Alfmart Cs masuk desa. Ia menegaskan tidak berencana menghentikan ekspansi ritel modern, melainkan mengatur keberadaannya di wilayah pedesaan.

Menurutnya, pemerintah ingin memastikan perputaran ekonomi desa lebih banyak dinikmati masyarakat setempat melalui koperasi, sekaligus tetap membuka peluang kemitraan antara kopdes dan pelaku usaha lainnya.

Lantas, bagaimana agar Kopdes Merah Putih mampu bersaing dengan ritel minimarket modern di desa?

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Deswin Nur menjelaskan tujuan utama kebijakan desa bukan menciptakan proteksi berlebihan, tetapi memastikan terciptanya ekosistem usaha yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.

"Dalam konteks tersebut, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak seharusnya diposisikan sebagai lawan ritel minimarket modern, tetapi sebagai pelaku usaha yang memiliki karakteristik dan basis kekuatan yang berbeda," ujar Deswin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/2).

Deswin menilai Kopdes Merah Putih sebetulnya punya tiga modal kuat. Pertama, kedekatan sosial dan basis anggota. Kopdes Merah Putih lahir dari komunitas desa itu sendiri, sehingga memiliki captive market berbasis keanggotaan dan solidaritas sosial.

Kedua, fleksibilitas dalam model usaha. Kopdes Merah Putih tidak semata-mata mengejar profit maksimal, tetapi kesejahteraan anggota, sehingga margin atau keuntungan bisnis bisa lebih adaptif, serta distribusi manfaat lebih merata. Ketiga, potensi integrasi hulu dan hilir dengan produk lokal desa.

"Jika dikelola dengan baik, Kopdes dapat menjadi agregator produk UMKM desa sekaligus distributor kebutuhan pokok, sesuatu yang seringkali tidak menjadi fokus utama ritel modern," ucapnya.

Tak Bisa Cuma Andalkan Proteksi Negara


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :