Harga Minyak Tembus Rekor sejak Januari 2025 Imbas Perang Timteng
Harga minyak dunia melonjak 7 persen ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada perdagangan Senin (2/3), setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel meningkatkan serangan di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Eskalasi tersebut merusak sejumlah kapal tanker dan mengganggu pengiriman dari wilayah produsen minyak utama dunia.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak hingga US$82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, pada perdagangan pertama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Per pukul 00.54 GMT, kontrak berjangka Brent berada di US$78,24 per barel, naik US$5,37 atau 7,37 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$4,66 atau 6,95 persen menjadi US$71,68 per barel, setelah sempat menyentuh US$75,33, tertinggi sejak Juni 2025.
Israel pada Minggu (1/3) kembali melancarkan gelombang serangan ke Teheran. Iran membalas dengan rentetan rudal baru, sehari setelah kematian Khamenei memicu ketidakpastian mendalam di Timur Tengah dan ekonomi global.
Serangan tersebut juga berdampak pada pelayaran. Setidaknya tiga kapal tanker dilaporkan terkena rudal di lepas pantai Teluk dan menewaskan satu awak kapal, menurut sumber pelayaran dan pejabat setempat.
Iran menyatakan telah menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, sehingga mendorong pemerintah dan kilang minyak di Asia-sebagai pembeli utama-untuk mengevaluasi cadangan minyak mereka.
Analis ANZ, Daniel Hynes, mengatakan ancaman terhadap pasokan minyak meningkat tajam seiring meluasnya serangan balasan.
"Dengan aksi balasan yang kini berkembang menjadi serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, ancaman terhadap pasokan minyak meningkat secara signifikan," kata Hynes dalam catatannya.
Analis Citi yang dipimpin Max Layton memperkirakan harga Brent akan diperdagangkan di kisaran US$80-US$90 per barel pekan ini di tengah konflik yang masih berlangsung.
"Pandangan dasar kami adalah akan terjadi perubahan kepemimpinan di Iran, atau perubahan rezim yang cukup untuk menghentikan perang dalam 1-2 minggu, atau AS memutuskan untuk melakukan de-eskalasi setelah melihat perubahan kepemimpinan dan kemunduran program rudal serta nuklir Iran dalam periode waktu yang sama," tulis para analis Citi.
Di tengah konflik, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu sepakat menaikkan produksi secara moderat sebesar 206 ribu barel per hari untuk April.
Analis RBC Capital, Helima Croft, mengatakan hampir seluruh produsen OPEC+ saat ini memproduksi pada kapasitas penuh, kecuali Arab Saudi.
"Pemanfaatan kapasitas cadangan akan sangat terbatas jika jalur perairan penting tidak dapat dioperasikan," ujar Croft.
Risiko terhadap pelayaran komersial melonjak dalam 24 jam terakhir. Data pelayaran menunjukkan lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan gas alam cair, menjatuhkan jangkar di sekitar Selat Hormuz dan perairan sekitarnya pada Minggu.
Direktur Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan pihaknya memantau ketat perkembangan di Timur Tengah dan berkomunikasi dengan produsen utama serta negara-negara anggota IEA.
Sementara itu, analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menyebut total persediaan minyak global saat ini mencapai 7,827 juta barel, mendekati median historis yang setara dengan 74 hari permintaan global.
"Pasar minyak dapat menarik persediaan, menggunakan kapasitas cadangan setelah Selat kembali dibuka, dan berpotensi mendapat manfaat dari pelepasan cadangan minyak strategis global," tulis mereka.
(lau/ins)