Konflik Timur Tengah Memanas, OJK Minta Lembaga Jasa Keuangan Siaga

CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 06:35 WIB
OJK meminta seluruh lembaga jasa keuangan meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah antisipatif guna memitigasi dampak lanjutan dinamika global.
OJK meminta seluruh lembaga jasa keuangan meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah antisipatif guna memitigasi dampak lanjutan dinamika global. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang Iran, yang memicu gejolak di pasar keuangan global.

Pejabat sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya mencermati serius perkembangan di kawasan Timur Tengah, karena berpotensi memengaruhi stabilitas sektor keuangan domestik.

OJK pun meminta seluruh lembaga jasa keuangan meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah antisipatif guna memitigasi dampak lanjutan dari dinamika global tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehubungan dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang kita cermati bersama, lembaga jasa keuangan kami minta terus mencermati situasi yang terjadi serta melakukan antisipasi dampaknya terhadap kondisi debitur dan pasar keuangan itu sendiri," ujar Friderica dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK di Jakarta, Selasa (3/3).

Sementara itu, Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyebut tekanan di pasar saham domestik sempat mereda pada Februari 2026, meski volatilitas kembali meningkat memasuki awal Maret seiring eskalasi konflik.

Ia menuturkan, per Jumat (27/2) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.235,49 atau terkoreksi 1,13 persen secara bulanan (month to date). Secara tahunan berjalan (year to date), IHSG melemah 4,76 persen.

Hasan menegaskan OJK terus memantau pergerakan pasar dan memperkuat koordinasi dengan Self Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta pelaku industri pasar modal.

"OJK tentu terus memantau pergerakan pasar serta terus melakukan koordinasi dengan SRO, BEI, KSEI, dan KPEI. Termasuk juga para pelaku di industri pasar modal dalam mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan," ujar Hasan.

[Gambas:Video CNN]

(lau/ins)