Nilai Tukar Rupiah Karut-marut Dihantam Sentimen Luar dan Dalam Negeri

CNN Indonesia
Senin, 09 Mar 2026 12:50 WIB
Tekanan nilai tukar rupiah berpotensi menjalar ke inflasi apabila tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat. (FOTO:CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah resmi menembus Rp17 ribu pada perdagangan Senin (9/3). Melansir Bloomberg, rupiah terpantau melemah 84 poin atau 0,50 persen terhadap mata uang AS ke level Rp17.090 per dolar AS pukul 09.03 WIB.

Menurut Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuabi pelemahan tersebut dipicu oleh faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, tekanan berasal dari konflik antara AS dan Israel melawan Iran, sementara dari dalam negeri dipengaruhi potensi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia.

"Carut-marut inilah yang membuat pada saat pembukaan pasar tadi jam 6, indeks dolar itu terjadi gap up yang cukup tajam. Kemudian harga-harga semua mengalami pelemahan termasuk rupiah ke Rp17 ribu," katanya kepada wartawan, Senin (9/3).

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu mengungkap faktor dari luar negeri adalah penunjukkan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, yaitu Mojtaba Khamenei.

Penunjukan pemimpin tertinggi menjadi sinyal bahwa perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran masih akan berlangsung lebih lama lagi.

"Kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan. Bahkan, Trump (Presiden AS Donald Trump) mengatakan akan memusnahkan, akan mengganti rezim, yang ada di Iran," ujar Ibrahim.

Perang yang berkepanjangan tersebut pun berpotensi pada penutupan Selat Hormuz. Potensi penutupan ini jalur perdagangan minyak dunia ini pun memicu lonjakan harga minyak global yang pada Senin ini telah menembus level US$104 per barel.

Sementara dari dalam negeri, faktornya adalah potensi peningkatan defisit APBN sebagai dampak kenaikan harga minyak tersebut. Ibrahim memperkirakan defisit Indonesia bisa mencapai 3,6 persen.

Ia juga memprediksi pemerintah kemungkinan akan memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Faktor lain dari dalam negeri berkaitan dengan pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan para ulama. Dalam pertemuan tersebut, para ulama menyampaikan keinginan agar Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian (Board of Peace/BOP).

Langkah keluar dari BOP itu dinilai berpotensi ditempuh Prabowo apabila kebijakan organisasi tersebut tidak sejalan dengan sikap pemerintah Indonesia terkait isu Palestina.

Pelemahan rupiah hingga Rp17 ribu ini pun akan membawa konsekuensi nyata bagi perekonomian jika tren pelemahan berlangsung berkepanjangan.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai dampak pelemahan rupiah sudah mulai terasa, terutama bagi sektor-sektor yang bergantung pada impor dan pembiayaan berbasis valuta asing.

Ia menambahkan, tekanan rupiah juga berpotensi menjalar ke inflasi apabila tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat.

"Pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.000 dampaknya nyata tapi belum krisis. Yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah tekanan harga barang impor dan beban utang, baik di sektor usaha maupun APBN. Kalau dibiarkan lama, inflasi bisa ikut terdorong," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Dampak yang paling cepat dan langsung dirasakan masyarakat dari rupiah menembus Rp17 ribu adalah kenaikan harga barang impor. Itu termasuk barang yang sangat tergantung bahan baku impor, yakni mencakup bahan pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, hingga BBM dan LPG.

Sementara itu, Ronny menyebut kenaikan biaya hidup tidak diikuti kenaikan pendapatan. Masyarakat mungkin tidak sadar kurs rupiah loyo, tapi mereka sangat sadar saat harga beras impor, gula, daging, ongkos transportasi, dan listrik terasa makin mahal.

"Ujungnya semacam 'inflasi sunyi' di mana rupiah melemah perlahan, tapi dompet bocor dalam waktu cepat. Jelas tekanan inflasi meningkat, dan daya beli, terutama kelas menengah bawah, akan tergerus," katanya.

Senada, Ekonom Bright Insitute Muhammad Andri Perdana mengatakan dampak langsung pelemahan rupiah akan terasa pada kenaikan harga-harga barang impor. Industri-industri yang menggunakan bahan baku impor ini banyak yang margin profitnya sudah tipis, sehingga jika ada kenaikan harga bahan baku, maka kebanyakan mau tidak mau harus menaikkan harga.

"Banyak consumer goods dan bahan baku manufaktur dalam negeri yang banyak bergantung pada barang-barang impor tersebut, dari barang-barang elektronik sampai bahan baku pangan seperti gandum dan kedelai yang jadi dasar pangan ternak dan berbagai makanan seperti tahu dan tempe," katanya.

(dhz,ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK