Bahan Baku Langka, Produsen Pestisida Ancam Kerek Harga 30 Persen
Produsen pestisida lokal memberi sinyal kenaikan harga produk hingga 20-30 persen di tengah kelangkaan bahan baku yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan harga dinilai sulit dihindari karena biaya produksi melonjak akibat kenaikan harga minyak, bahan kimia, hingga kemasan plastik.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI) Yanurius Nunuhitu mengatakan tekanan biaya terjadi di berbagai komponen utama produksi pestisida, terutama pada bahan aktif yang sebagian besar masih diimpor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan harga tidak bisa dihindari karena bahan aktif pestisida kita impor dari China dan hampir semuanya sensitif terhadap harga minyak. Harga bahan aktif sudah naik sejak dimulainya perang," ujar Yanurius kepada CNNIndonesia.com, Kamis (12/3).
Ia menjelaskan sebagian besar formulasi pestisida juga menggunakan pelarut berbasis minyak, sehingga lonjakan harga energi global langsung berdampak pada biaya produksi industri tersebut.
"Formulasi pestisida menggunakan solvent berbasis minyak. Harga solvent sudah naik hampir 60 persen lebih," ujarnya.
Selain itu, kenaikan biaya juga terjadi pada komponen kemasan produk. Menurut Yanurius, hampir seluruh produk pestisida di Tanah Air menggunakan kemasan plastik yang ikut mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menjelaskan kenaikan harga tersebut terjadi setelah PT Chandra Asri Pacific Tbk, salah satu produsen petrokimia terbesar di Indonesia, mengumumkan kondisi force majeure akibat terganggunya pasokan bahan baku di tengah konflik Timur Tengah.
"Sejak Chandra Asri umumkan force majeure, harga kemasan plastik langsung naik. Hampir 99 persen formulasi pestisida dikemas dalam kemasan plastik," katanya.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi pestisida semakin tertekan karena kemasan plastik menjadi komponen utama dalam distribusi produk pestisida di pasar domestik.
Rencana kenaikan harga tersebut juga tercantum dalam notulen rapat APROPI yang digelar secara daring pada 9 Maret 2026. Dalam dokumen itu disebutkan situasi geopolitik global menyebabkan kelangkaan bahan aktif dan bahan pendukung formulasi pestisida.
Para anggota asosiasi yang hadir dalam rapat tersebut disebut sepakat menaikkan harga jual produk sekitar 20-30 persen, termasuk untuk barang dengan perputaran penjualan lambat.
Selain itu, asosiasi juga membahas langkah memperpendek waktu pembayaran hingga menjadi pembayaran tunai guna menjaga arus kas perusahaan di tengah kenaikan biaya produksi.
Lonjakan harga kemasan plastik juga dikaitkan dengan gangguan rantai pasok petrokimia di dalam negeri. Sebelumnya, Chandra Asri Pacific mengumumkan force majeure kepada mitra usaha menyusul eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi menjelaskan ketegangan di Timur Tengah mengganggu distribusi bahan baku petrokimia yang selama ini melewati jalur pelayaran tersebut.
"Perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada mitra usaha sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku," ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk mitigasi terhadap potensi gangguan pemenuhan kewajiban kepada pelanggan. Perusahaan juga melakukan penyesuaian operasional dengan menurunkan tingkat produksi di pabrik sambil terus memantau perkembangan konflik di kawasan tersebut.
(del/sfr)