Solar Langka, Petani Myanmar Antre hingga Menginap di SPBU
Petani di Myanmar dilaporkan harus mengantre hingga menginap di SPBU untuk membeli solar akibat kelangkaan yang terjadi.
Kondisi itu dipicu oleh perang Iran melawan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang turut mengganggu pasokan energi global menyusul penutupan Selat Hormuz.
Seorang petani asal Myanmar bernama Win Zaw menjadi satu dari sekian orang yang mengantre di SPBU untuk membeli solar untuk traktornya.
Dia bilang, orang-orang mengantre sejak pukul 3 pagi, bahkan sampai menginap di SPBU. "Ini benar-benar pemborosan tenaga dan waktu," ujar Win Zaw, dilansir Reuters pada Kamis (26/3).
Ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai perjuangan yang berat. Padahal, mereka hanya ingin membeli bahan bakar.
"Saat ini, kami praktis sedang berperang hanya untuk mendapatkan bahan bakar," ujar Win Zaw
Harga solar di Myanmar pada pertengahan Maret mencapai 3.800 kyat per liter, naik dari 2.450 kyat pada Februari.
Seorang petani lainnya bernama Moe Win mengaku sampai membeli solar ke pasar gelap karena sudah dua hari mengantre di SPBU.
Lihat Juga : |
Kelangkaan memaksa Moe Win untuk beralih ke pasar gelap, meski harganya sangat mahal sekitar 12 ribu kyat per liter. Namun, ia rela membayar harga tersebut untuk menyelamatkan tanaman padinya.
"Kadang-kadang, setelah mengantre di kota selama dua hari, kami hanya bisa membeli lima atau enam liter," kata Moe Win.
"Tetapi jika kami tidak memanen padi tepat waktu, tanaman akan hancur, jadi kami harus menanggung biaya apa pun," imbuhnya.
Seorang juru bicara junta penguasa Myanmar tidak menanggapi panggilan telepon Reuters untuk dimintai komentar terkait dengan hal ini.
Namun, Kepala Junta Myanmar Min Aung Hlaing pernah mengatakan mereka sedang berupaya menyelesaikan masalah kekurangan bahan bakar ini.
Direktur Program Pangan Dunia (WFP) untuk Myanmar Michael Dunford mengatakan bahwa keterbatasan bahan bakar menjadi ancaman menjelang musim tanam mendatang di Myanmar.
Saat ini, para petani di Myanmar sedang mempersiapkan musim tanam padi utama setelah panen tanaman musim kemarau.
"Kenaikan biaya pupuk dan akses bahan bakar yang terbatas untuk mesin mengancam musim tanam mendatang. Biaya produksi diperkirakan akan berlipat ganda jika ketidakstabilan berlanjut," ujar Dunford.
Myanmar sendiri tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat kesulitan akses pangan tertinggi di dunia. Sekitar 12,4 juta orang atau seperempat populasi mengalami kesulitan mendapatkan makanan.
Kepala ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa Maximo Torero menilai intervensi segera diperlukan untuk mencegah penurunan produksi pangan.
Hal itu guna mencegah risiko yang hampir pasti berupa penurunan produksi dan kerugian pasca panen yang signifikan.
"Panen yang buruk akan mengurangi pasokan, mendorong harga lebih tinggi lagi dan membuat bahan makanan pokok tidak terjangkau bagi jutaan orang yang telah kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian mereka," ujar Torero.
Untuk mengatasi krisis, junta Myanmar telah menerapkan sistem penjatahan BBM menggunakan kode QR guna membatasi pembelian.
Namun, kebijakan ini justru memicu antrean panjang di SPBU dan membuat warga tetap kesulitan mendapatkan pasokan yang cukup.
Selain itu, sektor transportasi juga terdampak. Maskapai domestik mengurangi rute penerbangan akibat keterbatasan bahan bakar, disertai kenaikan harga tiket hingga tiga kali lipat.
Saat ini, Myanmar bergantung pada pusat pengolahan minyak mentah regional Timur Tengah seperti Singapura dan Malaysia untuk impor solar.
Myanmar juga mencoba menekan konsumsi energi dengan menerapkan kebijakan kerja dari rumah bagi pegawai negeri setiap hari Rabu.
(dhz/sfr)