Perang Trump di Iran Pukul Pemulihan Lapangan Kerja AS, PHK Mengintai
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) kembali terancam akibat konflik di Timur Tengah. Perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran dinilai berpotensi menggagalkan pemulihan pasar kerja dan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Sebelumnya, pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam tersebut sempat menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Namun, setelah empat pekan sejak serangan diluncurkan, dampak ekonomi mulai terasa.
Jalur pelayaran penting AS kini terpantau mengalami gangguan, harga minyak melonjak, rantai pasokan terhambat, serta harga bensin meningkat. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi yang pada akhirnya menekan pasar tenaga kerja.
"Jika Selat Hormuz tetap ditutup dan harga minyak bertahan di atas US$100 hingga April, maka ini akan menjadi game-changer. Itu berarti kita menghadapi ekonomi yang sangat berbeda, dan PHK bisa kembali terjadi," ujar Kepala Ekonom, Heather Long melansir CNN, Minggu (29/3).
Dalam kondisi saat ini, pasar tenaga kerja AS masih berada dalam pola "low-hire, low-fire" atau perekrutan dan PHK yang sama-sama rendah, dan diperkirakan akan bertahan untuk sementara waktu.
Kepala Ekonom EY-Parthenon Gregory Daco menyebut ketidakpastian menjadi faktor utama yang menahan aktivitas perekrutan. "Ketidakpastian menunda, bukan membatalkan rencana perekrutan," ujarnya kepada CNN.
Daco memperkirakan ekspansi ekonomi tanpa penciptaan lapangan kerja signifikan (jobless expansion) dengan penambahan sekitar 20 ribu pekerjaan per bulan pada paruh pertama tahun ini. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan naik dari 4,4 persen menjadi sekitar 4,7 persen pada akhir tahun.
"Dengan peluang resesi sekitar 40 persen, risikonya adalah jeda perekrutan yang berkepanjangan pada akhirnya berubah menjadi pelemahan yang lebih nyata. Untuk saat ini masih pendinginan, belum retak. Namun jika ketidakpastian kembali meningkat, retakan itu bisa muncul pada akhir musim semi," tulis Daco.
Kondisi pasar tenaga kerja AS sendiri sebenarnya sudah melemah sejak tahun lalu. Pada 2025, perekonomian hanya menambah sekitar 116 ribu lapangan kerja, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 121 ribu pekerjaan per bulan pada 2024.
Sebelumnya, ada optimisme bahwa kondisi akan membaik tahun ini, didorong oleh proyeksi inflasi yang melandai, pemangkasan suku bunga, serta kebijakan pajak baru yang diharapkan mendorong konsumsi dan investasi. Namun, konflik terbaru justru memperbesar ketidakpastian tersebut.
"Kami belum melihat data yang menunjukkan pasar tenaga kerja membaik drastis atau justru memburuk drastis di AS. Saat ini terlihat cukup stabil, tetapi stagnan," ujar Direktur Riset Ekonomi Indeed Hiring Lab Laura Ullrich.
Di sisi lain, konsumen AS sebagai penggerak utama ekonomi mulai tertekan oleh kenaikan harga energi. Harga minyak naik sekitar US$30 per barel sejak perang dimulai, sementara harga bensin rata-rata melonjak menjadi US$3,98 per galon.
Kenaikan biaya energi tersebut diperkirakan dapat memangkas pendapatan rumah tangga tahunan lebih dari US$1.350. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahkan memproyeksikan inflasi AS dapat naik menjadi 4,2 persen tahun ini, dari 2,4 persen pada Februari.
Meski demikian, konsumsi masih bertahan untuk sementara waktu. Data menunjukkan sebagian masyarakat mempercepat pembelian untuk mengantisipasi kenaikan harga lebih lanjut.
"Orang-orang memperkirakan harga tiket pesawat akan naik dan rencana liburan musim panas menjadi lebih mahal, sehingga mereka mencoba memesan sekarang," kata Long.
Ia menambahkan, daya tahan konsumsi juga didukung oleh pengembalian pajak yang rata-rata meningkat sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, kondisi ini dinilai tidak bisa bertahan lama.
"Untuk saat ini, konsumen masih bertahan," ujar Long.
Sejumlah data penting pasar tenaga kerja AS, termasuk tingkat perekrutan sektor swasta, angka PHK, dan laporan bulanan tenaga kerja, dijadwalkan rilis pekan ini dan akan menjadi indikator arah ekonomi selanjutnya.
(lau/ins)